Kata Mi’raj Tidak Ada dalam Alquran

 

Mi’raj berasal dari akar kata ain-ra-jim dalam bahasa Arab.

Kata mi’raj tidak tercantum dalam Alquran tetapi akar kata ain-ra-jim ada dan terulang sebanyak sembilan kali dalam Alquran dengan tiga bentuk/jenis kata (https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=Erj).

Dalam surah ke-70 Al-Ma’arij kita membaca dua ayat berikut:
مِّنَ ٱللَّهِ ذِى ٱلْمَعَارِجِ(3)
تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍۢ (4)

(3) (Azab) dari Allah, yang memiliki tempat-tempat naik.(4) Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.

Dengan membaca dua ayat di atas, kita mendapatkan informasi bahwa Allah memiliki al-ma’arij yang diterjemahkan dengan “tempat-tempat naik” bahkan pada surah ke-43 Az-Zukruf 33 kata al-ma’arij diterjemahkan dengan “tangga-tangga” dan yang menggunakannya adalah para malaikat dan al-Ruh yang diterjemahkan dengan Jibril.

Pada surah ke-32 As-Sajdah 5 ditemukan tambahan penjelasan bahwa al-Amr yang diterjemahkan dengan “urusan” juga naik ke Allah: يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍۢ مِّمَّا تَعُدُّونَ, Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Karena “tempat-tempat naik atau tangga-tangga” (al-ma’arij) itu milik Allah, maka Dia mengetahui apa saja yang naik seperti yang kita baca dalam surah ke-34 Saba 2 dan surah ke-57 Al-Hadid 4. Dan Allah bisa membuka tempat-tempat naik tersebut seperti yang kita baca dalam surah ke-15 Al-Hijr 14-15: (14) Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, (15) tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.”

Membaca surah ke-15 ayat 14-15 bisa menimbulkan pemahaman bahwa bisa saja atau mungkin saja manusia dibukakan pintu langit dan naik melalui “tempat-tempat naik atau tangga-tangga” (al-ma’arij). Hanya saja, kalau kita mencari dasar/dalil tentang kejadian mi’raj Nabi Muhammad saw ke langit dalam Alquran niscaya kita tidak akan menemukannya.

Surga Dunia untuk Muslim

Pandangan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak bisa menikmati kehidupan rasa surga di bumi ini dan saat ini merupakan sebuah kekeliruan.

Alquran menyebut bahwa orang yang berbuat baik dan (dalam keadaan) beriman hidup dalam kondisi kehidupan (hayatan) yang thayyibah (baik). Hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) inilah surga dunia bagi Muslim. Pandangan ini bisa dibaca dengan teliti dalam Alquran surah ke-16 An-Nahl 97. Muslim tidak perlu percaya terhadap anggapan bahwa dirinya tidak bisa menikmati kehidupan ala dan rasa surga sekarang saat masih hidup di dunia.

Silahkan baca Alquran Anda dengan teliti/cermat.

Anda akan menemukan bahwa Allah membolehkan banyak sekali “hal-hal yang baik” (QS 5:4,5,87; 7:157).

Anda juga diberi tempat hidup di negeri/kampung/lingkungan yang baik (QS 7:58; 34:15) kalau sesekali kebanjiran atau terkena bencana alam, ya bersabarlah. Toh lebih sering kita menikmati udara/cuaca yang bersahabat, anginnya “enak” (QS 10:22) asal jangan sampai anginnya masuk ke badan.

Kesabaran Anda atas berbagai bencana dan kesulitan hidup selalu disertai Allah dengan rezeki (pemberian Allah) yang baik (QS 7:32; 8:26; 10:93; 16:72; 17:70; 40:64; 45:16). Bentuknya bisa berupa makanan yang baik (QS 2:57,168,172; 5:88; 8:69; 16:114; 20:81; 23:51), pasangan hidup (dan kehidupan keluarga) yang baik (QS 24:26) hingga akhir hidup Anda pun baik (QS16:32)

Jadi, tinggalkan anggapan bahwa kenikmatan kehidupan di bumi ini hanya untuk orang kafir. Anda yang Muslim juga berhak, kok. Ditambah lagi, setelah Anda meninggalkan kehidupan ala dan rasa surga di bumi ini, Anda masih akan hidup dalam surga (QS 9:72; 61:12).

Lantas, bagaimana cara menikmati “kehidupan baik” ini sekarang?

https://www.youtube.com/channel/UCcnmTOUabCHf9VzCRahqYTg

Islam dan Perilaku Kekerasan

 

Setiap kali ada aksi “teror” atau kekerasan (pembunuhan secara sadis) yang dilakukan oleh muslim, ramai tanggapan bermunculan.

Biasanya, tanggapan dari sisi muslim yang mengecam/tidak setuju atas perbuatan tersebut adalah penyangkalan. Muslim akan menyangkal “agama” para pelaku, bahwa pelaku tindak kekerasan atau teror tersebut bukan seorang muslim atau tidak beragama Islam atau menyatakan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan (pembunuhan secara sadis).

Sumber primer ajaran Islam memuat “perintah” untuk melakukan kekerasan (baca:pembunuhan). Entah itu pada Alquran atau pada hadis, teks untuk melakukan tindak kekerasan itu ada. Anda bisa menggunakan kata kunci “bunuh” (dan variasi kata yang senada) pada kolom pencari di aplikasi Alquran atau hadis yang banyak tersedia untuk menemukan bahwa ada ajaran Islam yang berkaitan dengan (perintah melakukan tindak) kekerasan ini.

Jadi, penyangkalan sebagian muslim bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan itu terbantahkan dengan sendirinya. Sumber primer Islam “mengajarkan” tindak kekerasan.

Bila seorang yang secara nyata/jelas melaksanakan/mempraktekkan ajaran dasar Islam sehari-hari kemudian melakukan tindak kekerasan, ia tidak bisa serta-merta dinyatakan sebagai bukan muslim hanya karena melakukan tindak kekerasan yang keji. Ia adalah seorang muslim yang sedang atau telah melakukan tindak kekerasan yang keji. Tidak perlu disangkal; diakui saja bahwa ia seorang muslim yang melakukan tindak kekerasan berdasarkan ajaran Islam yang ia anut.

Ada dua fakta yang dikemukakan di sini: pertama, Islam mengajarkan tindak kekerasan, dan, kedua, ada muslim yang mempraktekkan ajaran kekerasan itu. Membantah dua fakta ini merupakan suatu kesia-siaan. Muslim cukup mengakui fakta ini.

Ada fakta lain yang perlu disebut di sini. Dari sisi kuantitas, jumlah muslim yang mempraktekkan ajaran kekerasan ini sangat sedikit. Mayoritas muslim tidak mempraktekkan ajaran kekerasan yang terdapat dalam teks primer ajaran Islam. Entah karena tidak tahu atau tahu tapi memilih untuk tidak mempraktikkannya.

Sampai di sini, kita dapat tiga keadaaan: (1) ada teks tentang kekerasan pada sumber pokok ajaran Islam, (2) ada muslim yang mempraktekkan ajaran tersebut, dan (3) banyak muslim yang tidak mempraktekkan ajaran kekerasan tersebut.

Bagi muslim yang ingin atau sedang atau malah telah mempraktikkan ajaran kekerasan, Anda tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatan kekerasan Anda itu, baik di pengadilan dunia maupun di pengadilan akhirat nanti. Keputusan Anda melakukan tindak kekerasan atas nama agama kemungkinan salah. Bisa jadi ajaran melakukan tindak kekerasan itu “benar” namun pada saat Anda mempraktikkannya, Anda terjatuh pada kekeliruan/kesalahan yang fatal yang harus Anda pertanggungjawabkan. Anda bisa salah pada pemilihan konteks, waktu, lokasi, korban, dan modus/metode. Belum lagi kalau motif Anda melakukan tindak kekerasan ternyata dipengaruhi hawa nafsu Anda, celaka dua belas Anda!!!

Bagi muslim yang memilih tidak mempraktikkan ajaran kekerasan, Anda perlu bersuara (dengan cara, salah satunya, membagikan tulisan ini) mencegah muslim lain dari melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Beritahu mereka untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mematuhi hukum yang berlaku di negara ini dengan cara mengikuti/melalui seluruh proses hukum yang berlaku (kepolisian/kejaksaan-pengadilan-mahkamah agung) serta menghormati dan mematuhi hasil/putusan yang dikeluarkan.

Ibadah Kemanusiaan

Perbuatan yang dilakukan karena Allah dan untuk Allah (lillahi ta’ala, ikhlas) dalam bentuk me-manusia-kan manusia, yaitu diri sendiri kemudian orang lain merupakan pengertian ibadah kemanusiaan.

Me-manusia-kan adalah tindakan mencapai dan menjaga harkat dan martabat sebagai seorang manusia, yaitu: (a) tidak memperlakukan diri maupun orang lain laksana hewan atau diperlakukan seperti hewan, dan (b) tidak memperlakukan diri maupun orang lain laksana tuhan/dewa/manusia suci.

Bekerja/beribadah untuk menumbuhkembangkan diri hingga ke taraf “sempurna/matang/dewasa” kemudian membantu orang lain agar tumbuh dan berkembang ke taraf yang sama.

Ibadah kemanusiaan kita dimulai dari diri sendiri dengan cara menumbuhkembangkan potensi (minat dan bakat) diri melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan (belajar dan berlatih) agar mampu meraih taraf “sempurna/matang/dewasa”.

Obyek yang dipelajari dan dilatih adalah jiwa (kalbu/minda dan ruh) serta raga. Sasaran yang ingin dicapai pada pendidikan dan pelatihan jiwa adalah “jiwa tenang” (nafs al-muthmainnah, lihat QS 89 Al-Fajr 27-30). Adapun sasaran yang ingin dicapai pada pendidikan dan pelatihan raga adalah sehat-bugar-afiat.

Dengan kondisi jiwa tenang dan raga sehat-bugar-afiat, kita melakukan kerja “memakmurkan bumi”(lihat QS 11 Hud 61 dan QS 30 Ar-Ruum 9) yang merupakan bentuk pelaksanaan tugas sebagai khalifah di bumi (lihat QS 2 Al-Baqarah 30, QS 38 Shad 26, QS 35 Faathir 39). Kegiatan memakmurkan bumi meliputi mengolah dan mengelola bumi beserta makhluk yang hidup di dalamnya.

Kitab Suci Berbahasa Daerah, Kenapa Khawatir?

Beberapa hari yang lalu, tersiar kabar salah seorang Gubernur di pulau Sumatra menyurati Menteri Komunikasi dan Informatika (28 Mei 2020) meminta agar salah satu aplikasi kitab suci berbahasa daerah dihapus dari layanan distribusi digital Play Store.

Dari sudut pandang seorang Muslim, informasi tersebut bisa dipandang dari beberapa sisi.

Dari sisi Allah, keimanan manusia tergantung pada keputusan-Nya. Dia menentukan siapa yang beriman kepada-Nya dan siapa yang tidak. Dia memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki (baca QS 2 Al-Baqarah 213 : وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ , yang artinya: dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki).

Dari sisi manusia, keimanan kepada Tuhan merupakan hasil atau buah dari perjalanan spiritual dalam bentuk perenungan dan pencarian kebenaran atau jati diri. Perjalanan spiritual ini digambarkan secara simbolik dalam kisah Nabi Ibrahim yang termaktub dalam Alquran surah 6 Al-An’am ayat 75-79.

Bagi pemuka agama, menyiarkan kebenaran yang diyakini merupakan tugas yang dianggap mulia dan berbuah keridhaan Tuhan.

Pemuka agama tentu menyadari bahwa keimanan saudara-saudaranya sesama Muslim bergantung kepada Allah semata.

Seorang Muslim meyakini Alquran merupakan kitab yang benar/asli (haqq) dari Allah, Al-Haqq. Keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan tidak akan digoyahkan oleh ide/pemikiran/informasi dari kitab mana pun.

Seorang Muslim yang memahami Alquran tidak khawatir atau takut berhadapan dengan kitab suci lain. Hanya orang kafir saja yang takut kepada Alquran seperti yang tergambar pada QS 41 Fushshilat 26: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ  , yang artinya: Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”) bukan sebaliknya.

Menjadi tugas para pemuka agama untuk menyebarluaskan informasi yang meyakinkan bahwa Alquran adalah haqq yang berasal atau datang dari Al-Haqq sehingga tidak lagi mengkhawatirkan hadirnya kitab suci lain dalam bahasa apapun.

Upaya tersebut tentu dibarengi dengan mengajukan permohonan kepada Allah agar dirinya dan saudara-saudaranya sesama Muslim tetap dianugerahi hidayah (baca QS 3 Ali Imran 8: رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا  , yang artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami).

Dengan pemahaman dan kesadaran bahwa keimanan itu merupakan hak mutlak Allah lalu dibarengi dengan upaya-upaya tersebut di atas, pemuka agama seharusnya tidak perlu khawatir bila saudara-saudaranya “terpapar” kitab suci agama lain.

Terakhir, jumlah atau kuantitas bukanlah ukuran superioritas berdasarkan petunjuk Alquran pada surah 8 Al-Anfal ayat 65-66.

Rumusan Doa Keselematan Rumah Tempat Tinggal

Rumusan doa yang digunakan untuk keselamatan dan kesejahteraan rumah dan penghuninya.

—Update 20 April 2021——————————————

Basmalah, salawat, istighfar, al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas

1. Berkahilah rumah ini, apa saja yang ada di sekeliling rumah ini, dan apa saja yang ada di dalamnya. (allahumma baarik hazal bayta wa ma hawlahu wa maa fihi)

2. Jadikanlah rumah ini tempat berteduh yang sejuk, teduh, dan nyaman bagi para penghuninya. (allahuma ‘j’al hazal bayta bardan wa salaman [21:69] ala ahlihi)

3. Lindungilah rumah ini dan penghuninya dari berbagai musibah, marabahaya, (jannib wahfadz hazal bayta/almanzila min kulli syarrin wa balaain wa makruhin)

——————————————————end.

Perjanjian dengan Allah untuk tidak menumpahkan darah dan tidak mengusir atau mengeluarkan orang dari rumahnya (QS Al-Baqarah 2:84). Aqrarna/ naqraru an la nusfiq dimaa baynana wa la nukhrij anfusanan min diyarina. La tukhrijna min diyarina.

QS Al-An’am 6: 32 , وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِب ٌ وَلَهْو ٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْر ٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
, waj’al daarana….

QS 6 Al-An’am 127 : لَهُمْ دَارُ السَّلاَمِ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَ

How Do We Interact With The Quran

Quran is sent down in the Ramadhan.

To interact with the Quran, we must:

First, listen to the Quran when it is being recited.

at the end of surah/chapter 7 Al-A

Secondly, recite the Quran

Thirdly, learn or study the Quran

Fourthly, apply its guidance in our daily life.

Alquran dan Diskriminasi Karena Ras

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

We have certainly honored the children of Adam and carried them on the land and sea and provided good things for them, and We favored them over much of what We created, with decisive preference.

Surat al-Isra’ 17:70

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

O people, We have created you male and female and made you into nations and tribes that you may know one another. Verily, the most noble of you to Allah is the most righteous of you. Verily, Allah is knowing and aware.

Surat al-Hujurat 49:13

 

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Among His signs is the creation of the heavens and the earth and the diversity of your languages and your colors. Verily, in that are signs for people of knowledge.

Surat al-Rum 30:22

(https://abuaminaelias.com/islam-against-racism-bigotry/)

Manusia mengelompokkan diri mereka berdasarkan perbedaan-perbedaan yang nampak. Dalam satu pengertian, ras adalah pengelompokan manusia berdasarkan perbedaan pada aspek fisik atau tubuh, terutama pada warna kulit.

Pengelompokan ini sejatinya bukan merupakan suatu masalah jika tidak diiringi dengan perbedaan perlakuan terhadap manusia yang memiliki warna kulit yang berbeda.

Sayangnya, seringkali kita melihat tindakan membedakan perlakuan terhadap sesama manusia justru karena warna kulitnya. Inilah diskriminasi ras. Wujudnya adalah merendahkan manusia lain yang memiliki warna kulit yang berbeda dan pada saat yang sama meninggikan atau mengagungkan manusia lain karena kesamaan warna kulit.

Alquran membagi manusia berdasarkan perbuatannya. Inilah garis pembeda antara Alquran yang menjadi sumber ajaran atau ideologi Muslim dengan ajaran atau ideologi lainnya.

Saking kerasnya penekanan pada perbuatan, sampai-sampai Alquran memerintahkan untuk berbuat atau berlaku adil kepada atau terhadap manusia lain yang kita benci atau tidak sukai (baca: QS Almaidah 8).

Alquran menolak ras sebagai ukuran kemuliaan dan sebagai gantinya, Alquran menawarkan perbuatan atau tindakan seseorang sebagai tolok ukur kemuliaannya. Perbuatan atau tindakan manusia yang dianggap mulia dihimpun oleh Alquran ke dalam satu istilah, yaitu takwa.

Alquran menjadikan perbuatan takwa sebagai ukuran kemuliaan seorang manusia, dan yang paling mulia di antara seluruh manusia adalah yang paling bertakwa (baca QS Alhujuraat 13), bukan yang paling “putih”, “hitam”, atau “kuning”. Sementara perbuatan yang menjadi lawan dari takwa adalah fajir (baca QS 38:28 ; 91:8 ; 71:27 ; 80:42).

 

Tonton versi videonya di https://www.youtube.com/watch?v=NQndhY4kxmk

Permasalahan Berkaitan dengan PENERJEMAHAN Alquran

Tulisan ini sifatnya rintisan dan masih dalam proses pengembang. Karena itu apa yang tertulis bisa saja bertambah dan berubah.

Tulisan ini dipicu oleh artikel-artikel Dr Kashif Khan (quranguideblog). DImaksudkan untuk referensi serta bahan pemikiran.

Berkaitan dengan penerjemahan Alquran,  berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Alquran berbahasa Arab namun makna/arti/terjemahan ada (bahkan banyak terutama yang berkaitan dengan istilah kunci,  ritual) diambil dari bahasa Farsi/Persia.
  2. Untuk menemukan makna setiap  kata yang benar/tepat dalam Alquran , kita perlu membedah, memisahkan, mengurai kata yang termaktub lalu menganalisa satu per satu hurufnya.
  3. Konstruksi pesan Alquran
    1. Tentang Tuhan/Allah: dia bukan sesuatu yang butuh/perlu disembah namun perlu dipatuhi/diikuti. Dia tunggal/esa. Selain Dia disebut “sesuatu” (syai’). Dia meliputi segala sesuatu. Segala sesuatu berada di “dalam”-Nya; diliputi Rahmat-Nya. Entitas tunggal tapi “multi dimensi” (tasbih); “Kami”. Hubungan antara Allah dengan ciptaan-Nya (sang syai) adalah hubungan memberi perintah dan menerima-melaksanakan perintah.
    2. Alam Semesta:
      1. tunduk/patuh secara otomatis kepada Allah
      2. Past: proses terjadinya alam semesta
      3. Present: kondisi alam semesta, cara alam semesta bekerja (hukum alam), manfaat untuk manusia.
      4. Future: ketika alam semesta “habis energinya”; hancur.
    3. Manusia
  4. Bagaimana modus operandi masuknya bahasa Persia ke dalam penerjemahan Alquran?
    1. Perbuatan: merusak, memalsukan, mengubah makna Alquran, mengalihkan dari kitab Alquran ke kitab selain Alquran.
    2. Motif/alasan: balas dendam, tidak senang ajarannya dikalahkan/diganggu/diganti.
    3. Pelaku: Mereka yang dikalahkan saat kota Makkah jatuh/dikuasai oleh Nabi saw dan para Sahabatnya dari, utamanya,  kaum Muhajirin dan Anshar. Quraish? Arab-Musyrik? Yang berkuasa setelah Nabi saw wafat (dinasti Umayah dan Abbasiyah)? Mereka yang kekaisarannya di Persia runtuh/ditaklukkan oleh Muslim awal?
    4. Waktu: segera setelah wafatnya Nabi saw? Setelah masa kekhalifahan Ali?
    5. Tempat: Ka’bah, masjid. Buku-buku, teks-teks keagamaan.
  5. Ritual/Rukun Islam
    1. Syahadah: kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah. Bagaimana dengan kalimat ini “bukan sembahan (ilah, yang disembah/dipuja) melain Tuhan”?
    2. Salat: perbuatan takbir hingga salam diawali dengan bersuci (wudhu/tayammum) pada waktu-waktu tertentu (ritual). Bagaimana dengan ini: mengikuti jejak/tanda/petunjuk/arahan Allah (takhallaqu biakhlaqillah)?
    3. Puasa: menahan makan-minum dan hubungan seksual mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Bagaimana dengan ini: steadfast?
    4. Zakat
    5. Haji (termasuk Umrah)
  6. Apalagi?

Permasalahan Berkaitan dengan Hadis

Tulisan ini dalam pengembangan karena itu bisa saja berubah.

Penulis dalam proses memelajari argumen baik dari sisi inkarus sunnah maupun ansharus sunnah.

Berikut beberapa pertanyaan atau permasalahan berkaitan dengan hadis atau sunnah:

  1. Pengertian : perbuatan,  perkataan, dan persetujuan Nabi Muhammad saw.
  2. Ketiga hal yang disandarkan kepada Nabi saw sejalan dan tidak bertentangan dengan Alquran. Ia merupakan aplikasi atau praktek Alquran. Ia adalah Alquran yang dibumikan pada ruang dan waktu yaitu selama periode kenabian 23 tahun,  berakhir pada 11 H / 632 M.
  3. Perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw dilihat,  disaksikan, dan diketahui oleh para Sahabat Nabi saw. Merekalah yang menjadi saksi yang bisa ditanyai atau dimintai pertanggungjawaban atas keabsahan, kebenaran, keaslian hadis Nabi saw. Lebih jauh lagi,  para Sahabat Nabi saw mencontoh perbuatan dan melaksanakan ucapan serta mengikuti persetujuan Nabi saw. Mereka bisa memenuhi kriteria “taat kepada Rasul”. Tetapi bagi kita yang tidak bertemu Nabi saw, bagaimana kita ikut/taat kepada beliau?
  4. Alquran yang merupakan firman atau perkataan Allah swt yang diwahyukan kepada Nabi saw melalui Jibril sejak awal didesain sebagai atau dalam wujud kitab yang bisa dipegang,  dilihat, dan dibaca menggunakan mata kepala.  Sehingga ketika agama telah disempurnakan (QS 5:3) kemudian menyusul kejadian wafatnya Nabi saw,  Alquran sudah dalam wujud sebuah dokumen tertulis dalam bentuk kitab/buku. Atau, bila pandangan ini tidak disetujui,  Alquran dalam bentuk dokumen tertulis telah ada dan disebarluaskan di era khulafaur rasyidin (yang berakhir pada tahun 30 H). Adapun perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw (hadis) tidak dibukukan bahkan hingga di era khulafaur rasyidin berakhir. Inilah perbedaan mendasar antara Alquran vs Hadis. Alquran dapat diperiksa keberadaan, keaslian, keabsahannya karena sudah muncul dalam bentuk dokumen tertulis sementara Hadis tidak.
  5. Kita akan sangat mudah memeriksa kitab Alquran. Sebaliknya kita akan sangat kesulitan memeriksa keabsahan atau keotentikan “kitab” hadis. Bila kita ajukan kitab Hadis kepada Nabi saw sambil mengajukan pertanyaan apakah benar baginda Nabi saw melakukan, mengucapkan, atau menyetujui apa yang tercantum dalam kitab Hadis ini kira-kira apa jawaban atau respon Nabi saw?
  6. Kitab Alquran dijamin keasliannya oleh Allah sebagai sumber. Kitab Hadis tidak dijamin keasliannya oleh Nabi saw.
  7. Kitab Hadis bersandar sepenuhnya pada rantai mulut ke mulut yang individu-individu yang terlibat tidak dijamin kebenaran/keaslian/keotentikannya.
  8. Keterangan atau ajaran Alquran terjamin keasliannya,  dalam pengertian bahwa apa yang kita baca pada Alquran benar bersumber dari Allah. Sementara keterangan atau ajaran dalam kitab Hadis tidak dijamin keasliannya (apalagi kebenarannya) karena tidak bisa atau tidak ada jaminan dari para Sahabat Nabi saw atau bahkan dari Nabi saw sendiri bahwa apa yang tercantum pada kitab Hadis benar merupakan perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw.
  9. Bagaimana mungkin seorang Muslim yang hidup beratus-ratus tahun setelah Nabi saw dan bahkan tidak pernah ketemu Nabi berani menyatakan bahwa apa yang tertulis dalam kitab Hadis benar merupakan perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw? Lagi pula,  “ilmu” yang digunakan untuk itu tidak berasal dari Nabi saw.
  10. Alquran dijamin asli dan benar. Kitab Hadis tidak dijamin asli dan isinya tidak dijamin benar oleh Nabi saw.
  11. Alquran sifatnya ilahiah,  suci. Kitab Hadis tidak bersifat ilahiah, tidak suci. Kitab Hadis boleh saja menempati posisi kedua namun kualitasnya (keaslian dan kebenarannya) jauh di bawah Alquran. Kitab Alquran seratus persen keasliannya dan kebenaran isinya sementara kitab Hadis paling tidak dua puluh persen.
  12. Nabi saw amin (terpercaya)  dan maksum (tidak melakukan perbuatan dosa)  sehingga perbuatan, perkataan, dan persetujuan beliau bisa dijadikan rujukan. Para Sahabat hingga penulis kitab Hadis tidak dijamin amin dan maksum. Sehingga apa yang mereka katakan bahwa ini hadis Nabi tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus diuji atau dibandingkan dengan Alquran.
  13. Adakah “dukungan” Alquran terhadap perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw?  Adakah “dukungan” Alquran terhadap kitab hadis?
  14. Apakah menolak hadis sahih termasuk dalam pembahasan aqidah? Apakah menolak hadis sahih menjadikan kita murtad?
  15. Kitab hadis bersandar atau mengandalkan kekuatan hafalan dan jalur sanad (“nasab”).
  16. Quran butuh hadis? Quran butuh perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw agar bisa dipahami?
  17. Apa kata Alquran tentang hadis = apa kata Alquran tentang perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw?
  18. Alquran memuat perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw = Alquran adalah kitab hadis? (QS 39:23)
  19. Apakah Alquran memberi arahan, petunjuk, instruksi kepada Muslim (para Sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan generasi sesudah mereka)  untuk mengumpulkan dan membukukan perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw di luar apa yang termaktub pada Alquran?
  20. Apakah Alquran melarang, mencegah, mencela Muslim yang ingin perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw dikumpulkan atau dibukukan selain yang tercantum  dalam Alquran?  QS 10:15
  21. Apakah kita diperintah untuk mengikuti kitab hadis? QS 7:3. Kitab hadis diklaim berisi perbuatan, ucapan, dan persetujuan Nabi saw namun apakah kitab tersebut berasal/bersumber dari Nabi saw?