Bagian Dua

Bagian ini memuat tulisan-tulisan lama maupun baru dari penulis yang dianggap berkaitan dengan tema utama pada Bagian Satu.

Tulisan-tulisan pada bagian ini tidak disusun secara kronologis-sistematis; ia diharapkan berfungsi sebagai rujukan bila ada pertanyaan yang berkaitan dengan empat pasal terdahulu.

Pasal 4: Pelipatgandaan

Setelah perbuatan buruk kita terampuni, pikiran kita bersih dan mampu kita kendalikan, maka secara berangsur perbuatan buruk kita menjadi semakin sedikit dan kalaupun ada hanya perbuatan buruk yang kategorinya ringan saja.

Situasi ini menambah peluang kita masuk surga dan terhindar dari neraka.

Tetapi ini belum cukup.

Kita perlu melakukan dua hal lagi agar kebahagiaan akhirat bisa kita peroleh, yakni (1) melipatgandakan perbuatan baik kita dan (2) membuatnya terus mengalir (jariyah) bahkan setelah kia meninggalkan dunia fana ini.

Kunci perbuatan baik yang berlipatganda adalah pada satu amal fisik, terdapat lima amal batin yang menyertainya. Lima amal batin yang dimaksud adalah: (1) ikhlas, (2) tawakkal, (3) ridha, (4) sukur, dan (5) sabar.

Boleh jadi satu perbuatan baik yang kita lakukan terlihat kecil, sederhana, remeh, atau mudah namun bila disertai dengan lima amal batin maka kualitas perbuatan baik kita melonjak tak terhingga.

Contoh, kita mengambil pecahan atau serpihan botol kaca dari jalanan. Perbuatan ini sangat sederhana dan ringan dikerjakan. Namun, perbuatan tersebut menjadi “rumit” dan “berat” bila disertai dengan niat yang ikhlas karena Allah dan untuk Allah, disusul tawakkal kepada Allah, ridha atas apapun yang Allah lakukan atas perbuatan tersebut, bersabar bila terlihat respon negatif atau hasil yang diterima tidak sesuai yang diharapkan, dan bersukur telah diberi kemampuan melakukan perbuatan tersebut dan lebih bersukur lagi bila kita memperoleh balasan di dunia dan di akhirat kelak.

Dengan melakukan perbuatan fisik yang sederhana dan ringan serta kita istiqamah (konsisten, ajeg, berkelanjutan, tak pernah putus dan berhenti) melakukan lima amal batin maka kita memenuhi Kitab Diri dengan catatan atau rekaman perbuatan baik yang banyak dan berat nilainya insya Allah.

Pelipatgandaan perbuatan baik juga dilakukan dengan cara melakukan tiga amal jariyah berikut: mewakafkan harta (shadaqh jariyah), menciptakan ilmu atau teori yang dapat dimanfaatkan, dan menghasilkan keturunan yang baik yang senantiasa mendoakan kita.

Kitab Diri kita akan terus aktif menyimpan catatan atau rekaman tiga amal jariyah di atas ketika kita telah wafat dan berada di alam antara (barzakh).

Pasal 3: Pencegahan

Cegah keburukan agar tidak masuk ke dalam diri. Pintu utama masuknya keburukan adalah pikiran. Dengan menjaga pikiran, kita bisa mencegah keburukan masuk ke dalam diri kita. Semakin sedikit keburukan yang masuk ke dalam diri maka makin sedikit perbuatan buruk kita.

Ajakan untuk melakukan perbuatan buruk berasal dari setan jin maupun setan dalam wujud manusia.

Shalat dan puasa mampu mencegah ajakan melakukan perbuatan buruk yang dihembuskan oleh setan jin agar tidak masuk ke dalam diri kita.

Kita mencegah masuknya keburukan yang berasal dari setan manusia dengan cara menjaga daerah perbatasan antara diri kita dengan dunia atau lingkungan luar.

Daerah perbatasan yang ideal adalah yang memiliki pintu masuk. Ketika ada yang buruk hendak masuk, kita tutup pintu masuk perbatasan kita.

Ketika ada ajakan buruk yang datang kepada kita, kita dengan perasaan nyaman menutup pintu perbatasan dengan mengatakan “tidak” terhadap ajakan buruk tersebut. Namun bila yang hendak melewati batas diri adalah kebaikan, maka kita buka pintu perbatasan kita lebar-lebar dan menyambutnya secara hangat dengan mengatakan “ya”sambil tersenyum manis.

Pasal 2: Pembersihan

Langkah pertama dan utama dari kegiatan membersihkan diri adalah membersihkan pikiran. Bersihkan atau jernihkan pikiran kita. Buang pikiran buruk. Campakkan pikiran yang melemahkan atau yang membuat diri tidak berdaya.

Perbuatan buruk yang telah kita lakukan di masa lalu ada yang merupakan kebiasaan namun ada juga yang dilakukan secara spontan. Perbuatan buruk yang diulangi akan menjadi kebiasaan buruk. Inilah yang harus ditinggalkan.

Perbuatan buruk dapat dipantik oleh perasaan buruk, marah misalnya. Perasaan buruk ini didahului oleh pikiran buruk. Sehingga urutannya menjadi pikiran –> perasaan –> perbuatan –> kebiasaan.

Pembersihan dimulai dari pikiran sehingga dengan pikiran yang bersih maka perasaan, perbuatan dan kebiasaan pun menjadi bersih pula. Apa yang kita pikirkan tentang diri sendiri harus bersih. Segala yang pikiran buruk tentang diri sendiri, misalnya:

 

 

 

 

 

 

Saya payah

lemah

miskin

tak berdaya

(selalu) gagal

tidak mampu/sanggup/bisa

tak layak/pantas mendapatkannya

 

 

harus dihilangkan dari pikiran kita. Buang pikiran buruk tentang diri kita sendiri.

Pasal 1: Ampunan

Perlu disadari bahwa tidak ada manusia, selain para nabi dan rasul, yang tidak pernah melakukan perbuatan buruk. Dalam ungkapan lain, tidak ada manusia yang statusnya bersih-suci. Sebab nafs atau diri manusia sejak semula diberi kemampuan untuk melakukan perbuatan buruk dan perbuatan baik. Karena itu, status apalagi tampilan seorang manusia biasa bukanlah jaminan bahwa ia tidak pernah dan tidak akan berbuat buruk. Semua orang pasti telah, sedang dan akan terus melakukan perbuatan buruk yang kemudian tercatat dalam Kitab Diri-nya.

Konsekuensi logis dari suatu perbuatan buruk adalah jatuhnya hukuman atau sanksi, yakni azab neraka atau disiksa di dalam api yang menyala-nyala. Kabar baiknya, kita diberi peluang untuk meminta ampunan, yakni meminta kepada Tuhan agar hukuman tersebut tidak dijatuhkan atau kita dibebaskan dari hukuman dan tuntutan atas perbuatan buruk yang telah kita kerjakan selama hidup di dunia.

Cara Tuhan memberi ampunan agar kita tidak dihukum adalah dengan:

(1) “menghapus” (‘afa) yang dalam bahasa sehari-hari disebut memaafkan,

(2) menutupi atau melindungi (ghafara dan kaffara), dan

(3) melapangkan dengan memberi kesempatan kedua atau lembaran baru (shaf).

Cara kita memohon ampunan Tuhan adalah dengan:

  • menunjukkan penyesalan (nadm),
  • memohon ampunan dengan mengucapkan minimal astaghfirullah,
  • berjanji atau bertekad tidak mengulangi perbuatan buruk yang dimintai ampunan, dan
  • menghindari atau menjauhkan diri dari lingkungan yang memfasilitasi perbuatan buruk.

Perbuatan buruk di masa lalu jangan dibiarkan berlalu. Hapus atau tutupi rekaman perbuatan buruk pada Kitab Diri kita dengan memohon pengampunan Allah SWT.

Bagian 1

Cara agar Kitab Diri kita kelak isinya lebih banyak catatan perbuatan baik ketimbang perbuatan buruk adalah dengan melakukan empat hal berikut:

  1. memohon ampunan Tuhan; bertaubat;
  2. membersihkan pikiran dari hal-hal buruk negatif, dan merusak;
  3. mencegah keburukan masuk ke dalam diri, dan
  4. melipatgandakan perbuatan baik.

Keempat hal di atas adalah satu set “keterampilan” yang dapat dilatih hingga kita mahir mempraktekkannya. Penulis “Kitab Diri” ini memberikan  pelatihan dan pendampingan bagi Anda, pembaca yang terhormat.

Pengantar

KITAB DIRI

Nafs kita dianugerahi potensi keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa) sebagaimana yang termaktub dalam Quran Surah 91 Asy-Syams 7-8

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), (7)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (8)

Artinya, diri kita dapat melakukan perbuatan buruk dan baik karena keberadaan potensi tersebut.

Ketika kita mengaktualkan potensi keburukan dan kebaikan kita dalam arti kita melakukan perbuatan buruk (baca: dosa) dan baik, ada malaikat yang ditugaskan untuk mencatat atau merekam kedua jenis perbuatan tersebut.

Quran Surah 50 Qaf 18:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Catatan atau rekaman inilah yang dikumpulkan menjadi sebuah kitab atau buku. Buku yang merekam segala perbuatan diri kita inilah “KITAB DIRI” yang akan kita baca di hari penghitungan (hisab) kelak.

Quran Surah 17:13-14:

وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (13)

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (14)

Apa isi Kitab Diri yang akan kita baca di akhirat kelak? Jawabannya terletak pada apa yang telah, sedang, dan akan kita perbuat di dunia ini. Bila Kitab Diri kita nanti isinya banyak perbuatan buruk dan sedikit perbuatan baik yang terhitung, maka kita akan dimasukkan ke dalam neraka,  nauzu billah min  zalik.

Yang kita inginkan adalah Kitab Diri yang akan kita baca kelak isinya banyak perbuatan baik dan sedikit perbuatan buruk yang terhitung sehingga insya Allah kita dimasukkan ke dalam surga-Nya, amin ya rabbal alamin.

Bagaimana caranya agar keinginan tersebut di atas dapat kita wujudkan?

Jawaban atas pertanyaan di atas menjadi pokok bahasan buku “Kitab Diri” ini.

Buku “Kitab Diri” dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menjawab secara ringkas pertanyaan di atas. Bagian kedua merupakan pengembangan dari sub tema atau sub topik yang dimuat pada bagian pertama.

Selamat membaca dan mempraktekkan.