Kata Mi’raj Tidak Ada dalam Alquran

 

Mi’raj berasal dari akar kata ain-ra-jim dalam bahasa Arab.

Kata mi’raj tidak tercantum dalam Alquran tetapi akar kata ain-ra-jim ada dan terulang sebanyak sembilan kali dalam Alquran dengan tiga bentuk/jenis kata (https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=Erj).

Dalam surah ke-70 Al-Ma’arij kita membaca dua ayat berikut:
مِّنَ ٱللَّهِ ذِى ٱلْمَعَارِجِ(3)
تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍۢ (4)

(3) (Azab) dari Allah, yang memiliki tempat-tempat naik.(4) Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.

Dengan membaca dua ayat di atas, kita mendapatkan informasi bahwa Allah memiliki al-ma’arij yang diterjemahkan dengan “tempat-tempat naik” bahkan pada surah ke-43 Az-Zukruf 33 kata al-ma’arij diterjemahkan dengan “tangga-tangga” dan yang menggunakannya adalah para malaikat dan al-Ruh yang diterjemahkan dengan Jibril.

Pada surah ke-32 As-Sajdah 5 ditemukan tambahan penjelasan bahwa al-Amr yang diterjemahkan dengan “urusan” juga naik ke Allah: يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍۢ مِّمَّا تَعُدُّونَ, Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Karena “tempat-tempat naik atau tangga-tangga” (al-ma’arij) itu milik Allah, maka Dia mengetahui apa saja yang naik seperti yang kita baca dalam surah ke-34 Saba 2 dan surah ke-57 Al-Hadid 4. Dan Allah bisa membuka tempat-tempat naik tersebut seperti yang kita baca dalam surah ke-15 Al-Hijr 14-15: (14) Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, (15) tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.”

Membaca surah ke-15 ayat 14-15 bisa menimbulkan pemahaman bahwa bisa saja atau mungkin saja manusia dibukakan pintu langit dan naik melalui “tempat-tempat naik atau tangga-tangga” (al-ma’arij). Hanya saja, kalau kita mencari dasar/dalil tentang kejadian mi’raj Nabi Muhammad saw ke langit dalam Alquran niscaya kita tidak akan menemukannya.

Surga Dunia untuk Muslim

Pandangan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak bisa menikmati kehidupan rasa surga di bumi ini dan saat ini merupakan sebuah kekeliruan.

Alquran menyebut bahwa orang yang berbuat baik dan (dalam keadaan) beriman hidup dalam kondisi kehidupan (hayatan) yang thayyibah (baik). Hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) inilah surga dunia bagi Muslim. Pandangan ini bisa dibaca dengan teliti dalam Alquran surah ke-16 An-Nahl 97. Muslim tidak perlu percaya terhadap anggapan bahwa dirinya tidak bisa menikmati kehidupan ala dan rasa surga sekarang saat masih hidup di dunia.

Silahkan baca Alquran Anda dengan teliti/cermat.

Anda akan menemukan bahwa Allah membolehkan banyak sekali “hal-hal yang baik” (QS 5:4,5,87; 7:157).

Anda juga diberi tempat hidup di negeri/kampung/lingkungan yang baik (QS 7:58; 34:15) kalau sesekali kebanjiran atau terkena bencana alam, ya bersabarlah. Toh lebih sering kita menikmati udara/cuaca yang bersahabat, anginnya “enak” (QS 10:22) asal jangan sampai anginnya masuk ke badan.

Kesabaran Anda atas berbagai bencana dan kesulitan hidup selalu disertai Allah dengan rezeki (pemberian Allah) yang baik (QS 7:32; 8:26; 10:93; 16:72; 17:70; 40:64; 45:16). Bentuknya bisa berupa makanan yang baik (QS 2:57,168,172; 5:88; 8:69; 16:114; 20:81; 23:51), pasangan hidup (dan kehidupan keluarga) yang baik (QS 24:26) hingga akhir hidup Anda pun baik (QS16:32)

Jadi, tinggalkan anggapan bahwa kenikmatan kehidupan di bumi ini hanya untuk orang kafir. Anda yang Muslim juga berhak, kok. Ditambah lagi, setelah Anda meninggalkan kehidupan ala dan rasa surga di bumi ini, Anda masih akan hidup dalam surga (QS 9:72; 61:12).

Lantas, bagaimana cara menikmati “kehidupan baik” ini sekarang?

https://www.youtube.com/channel/UCcnmTOUabCHf9VzCRahqYTg

Islam dan Perilaku Kekerasan

 

Setiap kali ada aksi “teror” atau kekerasan (pembunuhan secara sadis) yang dilakukan oleh muslim, ramai tanggapan bermunculan.

Biasanya, tanggapan dari sisi muslim yang mengecam/tidak setuju atas perbuatan tersebut adalah penyangkalan. Muslim akan menyangkal “agama” para pelaku, bahwa pelaku tindak kekerasan atau teror tersebut bukan seorang muslim atau tidak beragama Islam atau menyatakan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan (pembunuhan secara sadis).

Sumber primer ajaran Islam memuat “perintah” untuk melakukan kekerasan (baca:pembunuhan). Entah itu pada Alquran atau pada hadis, teks untuk melakukan tindak kekerasan itu ada. Anda bisa menggunakan kata kunci “bunuh” (dan variasi kata yang senada) pada kolom pencari di aplikasi Alquran atau hadis yang banyak tersedia untuk menemukan bahwa ada ajaran Islam yang berkaitan dengan (perintah melakukan tindak) kekerasan ini.

Jadi, penyangkalan sebagian muslim bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan itu terbantahkan dengan sendirinya. Sumber primer Islam “mengajarkan” tindak kekerasan.

Bila seorang yang secara nyata/jelas melaksanakan/mempraktekkan ajaran dasar Islam sehari-hari kemudian melakukan tindak kekerasan, ia tidak bisa serta-merta dinyatakan sebagai bukan muslim hanya karena melakukan tindak kekerasan yang keji. Ia adalah seorang muslim yang sedang atau telah melakukan tindak kekerasan yang keji. Tidak perlu disangkal; diakui saja bahwa ia seorang muslim yang melakukan tindak kekerasan berdasarkan ajaran Islam yang ia anut.

Ada dua fakta yang dikemukakan di sini: pertama, Islam mengajarkan tindak kekerasan, dan, kedua, ada muslim yang mempraktekkan ajaran kekerasan itu. Membantah dua fakta ini merupakan suatu kesia-siaan. Muslim cukup mengakui fakta ini.

Ada fakta lain yang perlu disebut di sini. Dari sisi kuantitas, jumlah muslim yang mempraktekkan ajaran kekerasan ini sangat sedikit. Mayoritas muslim tidak mempraktekkan ajaran kekerasan yang terdapat dalam teks primer ajaran Islam. Entah karena tidak tahu atau tahu tapi memilih untuk tidak mempraktikkannya.

Sampai di sini, kita dapat tiga keadaaan: (1) ada teks tentang kekerasan pada sumber pokok ajaran Islam, (2) ada muslim yang mempraktekkan ajaran tersebut, dan (3) banyak muslim yang tidak mempraktekkan ajaran kekerasan tersebut.

Bagi muslim yang ingin atau sedang atau malah telah mempraktikkan ajaran kekerasan, Anda tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatan kekerasan Anda itu, baik di pengadilan dunia maupun di pengadilan akhirat nanti. Keputusan Anda melakukan tindak kekerasan atas nama agama kemungkinan salah. Bisa jadi ajaran melakukan tindak kekerasan itu “benar” namun pada saat Anda mempraktikkannya, Anda terjatuh pada kekeliruan/kesalahan yang fatal yang harus Anda pertanggungjawabkan. Anda bisa salah pada pemilihan konteks, waktu, lokasi, korban, dan modus/metode. Belum lagi kalau motif Anda melakukan tindak kekerasan ternyata dipengaruhi hawa nafsu Anda, celaka dua belas Anda!!!

Bagi muslim yang memilih tidak mempraktikkan ajaran kekerasan, Anda perlu bersuara (dengan cara, salah satunya, membagikan tulisan ini) mencegah muslim lain dari melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Beritahu mereka untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mematuhi hukum yang berlaku di negara ini dengan cara mengikuti/melalui seluruh proses hukum yang berlaku (kepolisian/kejaksaan-pengadilan-mahkamah agung) serta menghormati dan mematuhi hasil/putusan yang dikeluarkan.

Ibadah Kemanusiaan

Perbuatan yang dilakukan karena Allah dan untuk Allah (lillahi ta’ala, ikhlas) dalam bentuk me-manusia-kan manusia, yaitu diri sendiri kemudian orang lain merupakan pengertian ibadah kemanusiaan.

Me-manusia-kan adalah tindakan mencapai dan menjaga harkat dan martabat sebagai seorang manusia, yaitu: (a) tidak memperlakukan diri maupun orang lain laksana hewan atau diperlakukan seperti hewan, dan (b) tidak memperlakukan diri maupun orang lain laksana tuhan/dewa/manusia suci.

Bekerja/beribadah untuk menumbuhkembangkan diri hingga ke taraf “sempurna/matang/dewasa” kemudian membantu orang lain agar tumbuh dan berkembang ke taraf yang sama.

Ibadah kemanusiaan kita dimulai dari diri sendiri dengan cara menumbuhkembangkan potensi (minat dan bakat) diri melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan (belajar dan berlatih) agar mampu meraih taraf “sempurna/matang/dewasa”.

Obyek yang dipelajari dan dilatih adalah jiwa (kalbu/minda dan ruh) serta raga. Sasaran yang ingin dicapai pada pendidikan dan pelatihan jiwa adalah “jiwa tenang” (nafs al-muthmainnah, lihat QS 89 Al-Fajr 27-30). Adapun sasaran yang ingin dicapai pada pendidikan dan pelatihan raga adalah sehat-bugar-afiat.

Dengan kondisi jiwa tenang dan raga sehat-bugar-afiat, kita melakukan kerja “memakmurkan bumi”(lihat QS 11 Hud 61 dan QS 30 Ar-Ruum 9) yang merupakan bentuk pelaksanaan tugas sebagai khalifah di bumi (lihat QS 2 Al-Baqarah 30, QS 38 Shad 26, QS 35 Faathir 39). Kegiatan memakmurkan bumi meliputi mengolah dan mengelola bumi beserta makhluk yang hidup di dalamnya.

Permasalahan Berkaitan dengan Hadis

Tulisan ini dalam pengembangan karena itu bisa saja berubah.

Penulis dalam proses memelajari argumen baik dari sisi inkarus sunnah maupun ansharus sunnah.

Berikut beberapa pertanyaan atau permasalahan berkaitan dengan hadis atau sunnah:

  1. Pengertian : perbuatan,  perkataan, dan persetujuan Nabi Muhammad saw.
  2. Ketiga hal yang disandarkan kepada Nabi saw sejalan dan tidak bertentangan dengan Alquran. Ia merupakan aplikasi atau praktek Alquran. Ia adalah Alquran yang dibumikan pada ruang dan waktu yaitu selama periode kenabian 23 tahun,  berakhir pada 11 H / 632 M.
  3. Perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw dilihat,  disaksikan, dan diketahui oleh para Sahabat Nabi saw. Merekalah yang menjadi saksi yang bisa ditanyai atau dimintai pertanggungjawaban atas keabsahan, kebenaran, keaslian hadis Nabi saw. Lebih jauh lagi,  para Sahabat Nabi saw mencontoh perbuatan dan melaksanakan ucapan serta mengikuti persetujuan Nabi saw. Mereka bisa memenuhi kriteria “taat kepada Rasul”. Tetapi bagi kita yang tidak bertemu Nabi saw, bagaimana kita ikut/taat kepada beliau?
  4. Alquran yang merupakan firman atau perkataan Allah swt yang diwahyukan kepada Nabi saw melalui Jibril sejak awal didesain sebagai atau dalam wujud kitab yang bisa dipegang,  dilihat, dan dibaca menggunakan mata kepala.  Sehingga ketika agama telah disempurnakan (QS 5:3) kemudian menyusul kejadian wafatnya Nabi saw,  Alquran sudah dalam wujud sebuah dokumen tertulis dalam bentuk kitab/buku. Atau, bila pandangan ini tidak disetujui,  Alquran dalam bentuk dokumen tertulis telah ada dan disebarluaskan di era khulafaur rasyidin (yang berakhir pada tahun 30 H). Adapun perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw (hadis) tidak dibukukan bahkan hingga di era khulafaur rasyidin berakhir. Inilah perbedaan mendasar antara Alquran vs Hadis. Alquran dapat diperiksa keberadaan, keaslian, keabsahannya karena sudah muncul dalam bentuk dokumen tertulis sementara Hadis tidak.
  5. Kita akan sangat mudah memeriksa kitab Alquran. Sebaliknya kita akan sangat kesulitan memeriksa keabsahan atau keotentikan “kitab” hadis. Bila kita ajukan kitab Hadis kepada Nabi saw sambil mengajukan pertanyaan apakah benar baginda Nabi saw melakukan, mengucapkan, atau menyetujui apa yang tercantum dalam kitab Hadis ini kira-kira apa jawaban atau respon Nabi saw?
  6. Kitab Alquran dijamin keasliannya oleh Allah sebagai sumber. Kitab Hadis tidak dijamin keasliannya oleh Nabi saw.
  7. Kitab Hadis bersandar sepenuhnya pada rantai mulut ke mulut yang individu-individu yang terlibat tidak dijamin kebenaran/keaslian/keotentikannya.
  8. Keterangan atau ajaran Alquran terjamin keasliannya,  dalam pengertian bahwa apa yang kita baca pada Alquran benar bersumber dari Allah. Sementara keterangan atau ajaran dalam kitab Hadis tidak dijamin keasliannya (apalagi kebenarannya) karena tidak bisa atau tidak ada jaminan dari para Sahabat Nabi saw atau bahkan dari Nabi saw sendiri bahwa apa yang tercantum pada kitab Hadis benar merupakan perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw.
  9. Bagaimana mungkin seorang Muslim yang hidup beratus-ratus tahun setelah Nabi saw dan bahkan tidak pernah ketemu Nabi berani menyatakan bahwa apa yang tertulis dalam kitab Hadis benar merupakan perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi saw? Lagi pula,  “ilmu” yang digunakan untuk itu tidak berasal dari Nabi saw.
  10. Alquran dijamin asli dan benar. Kitab Hadis tidak dijamin asli dan isinya tidak dijamin benar oleh Nabi saw.
  11. Alquran sifatnya ilahiah,  suci. Kitab Hadis tidak bersifat ilahiah, tidak suci. Kitab Hadis boleh saja menempati posisi kedua namun kualitasnya (keaslian dan kebenarannya) jauh di bawah Alquran. Kitab Alquran seratus persen keasliannya dan kebenaran isinya sementara kitab Hadis paling tidak dua puluh persen.
  12. Nabi saw amin (terpercaya)  dan maksum (tidak melakukan perbuatan dosa)  sehingga perbuatan, perkataan, dan persetujuan beliau bisa dijadikan rujukan. Para Sahabat hingga penulis kitab Hadis tidak dijamin amin dan maksum. Sehingga apa yang mereka katakan bahwa ini hadis Nabi tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus diuji atau dibandingkan dengan Alquran.
  13. Adakah “dukungan” Alquran terhadap perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw?  Adakah “dukungan” Alquran terhadap kitab hadis?
  14. Apakah menolak hadis sahih termasuk dalam pembahasan aqidah? Apakah menolak hadis sahih menjadikan kita murtad?
  15. Kitab hadis bersandar atau mengandalkan kekuatan hafalan dan jalur sanad (“nasab”).
  16. Quran butuh hadis? Quran butuh perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw agar bisa dipahami?
  17. Apa kata Alquran tentang hadis = apa kata Alquran tentang perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw?
  18. Alquran memuat perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw = Alquran adalah kitab hadis? (QS 39:23)
  19. Apakah Alquran memberi arahan, petunjuk, instruksi kepada Muslim (para Sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan generasi sesudah mereka)  untuk mengumpulkan dan membukukan perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw di luar apa yang termaktub pada Alquran?
  20. Apakah Alquran melarang, mencegah, mencela Muslim yang ingin perbuatan, perkataan, persetujuan Nabi saw dikumpulkan atau dibukukan selain yang tercantum  dalam Alquran?  QS 10:15
  21. Apakah kita diperintah untuk mengikuti kitab hadis? QS 7:3. Kitab hadis diklaim berisi perbuatan, ucapan, dan persetujuan Nabi saw namun apakah kitab tersebut berasal/bersumber dari Nabi saw?

KHUTBAH JUMAT: MEMERIKSA INFORMASI

الْحَمْدَ لله. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ

أَمَّا بَعْدُ

Ada doa yang diajarkan, yaitu rabbana arinal haqqa haqqa warzuqnat tiba’ah wa arinal baathila bathila warzuqnaj tinaabah

(وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ: اللَّهُمَّ، أَرِنَا الْحَقَّ حَقّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَوَفِّقْنَا لِاجْتِنَابِهِ، وَلَا تَجْعَلْه مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا). Ref:https://furqan.co/ibn-katheer/2/213

Doa ini semakin penting kita ucapkan karena kita saat ini hidup di era informasi. Setiap detik bermunculan ribuan informasi yang bisa kita dapatkan secara aktif dengan mencari tahu maupun yang sampai kepada kita secara pasif melalui berbagai jenis media.

Banjir informasi tersebut, seperti sebuah pedang bermata dua, bisa memberi kita banyak manfaat namun dapat juga mendatangkan banyak mudharat.

Ada jenis informasi yang bisa menyesatkan bahkan bisa sampai merugikan diri kita. Jenis informasi tersebut adalah informasi bohong atau hoax. Banyak teks yang beredar secara luas (viral) namun bohong. Ada pula informasi visual (audio-video) yang bohong.

Saat ini, orang bisa merekayasa suatu informasi visual (video). Mulai dari teknik sederhana (memotong, menambah, dll) hingga mengganti wajah dan suara orang yang ada di video dengan wajah dan suara orang lain (deep fake).

Dengan kecanggihan teknologi saat ini, kita dituntut untuk berhati-hari menerima dan menyebarluaskan suatu informasi teks, audio, maupun video. Kehati-hatian ini sesuai dengan anjuran Alquran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6)

Adapun wujud kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi adalah dengan mengamalkan perintah Alquran yaitu, tabayun:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Alhujurat 6)

Memeriksa informasi dengan teliti bisa dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan 5W+1H. Jika informasi yang kita dapatkan lolos uji pertanyaan tersebut, barulah kita bisa menggunakannya.

Agar kita senantiasa terhindar dari dampak buruk kabar bohong, hendaknya kita rajin berdoa dengan doa di atas.

 

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

%%%%%

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}

اَمَّا بَعْدُ،

ثُمَّ اعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ

فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

 

n

Allah Awal Akhir Zahir Batin Tafsir QS 57 Alhadid 3

Teks ayat QS 57 Alhadid 3:

هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡـَٔاخِرُ وَٱلظَّـٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمٌ

Ayat di atas dikomentari oleh para penafsir:

  1. Imam Thabari:
    1. يقول تعالى ذكره: ﴿هُوَ الأوَّلُ﴾ قبل كل شيء بغير حدّ، ﴿وَالآخِرُ﴾ يقول: والآخر بعد كل شيء بغير نهاية. وإنما قيل ذلك كذلك، لأنه كان ولا شيء موجود سواه، وهو كائن بعد فناء الأشياء كلها، كما قال جلّ ثناؤه: ﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ﴾
    2. وقوله: ﴿وَالظَّاهِرُ﴾
      يقول: وهو الظاهر على كل شيء دونه، وهو العالي فوق كل شيء، فلا شيء أعلى منه. ﴿وَالْبَاطِنُ﴾ يقول: وهو الباطن جميع الأشياء، فلا شيء أقرب إلى شيء منه، كما قال: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾
  2. Imam Ibnu Katsir:
    1. Beberapa hadits berikut:
      1. https://sunnah.com/urn/743370
      2. https://sunnah.com/urn/743640
  3. Imam Alqurthubi:
    1. قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْباطِنُ﴾ اخْتُلِفَ فِي مَعَانِي هَذِهِ الْأَسْمَاءِ وَقَدْ بَيَّنَّاهَا فِي الْكِتَابِ الْأَسْنَى. وَقَدْ شَرَحَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شَرْحًا يُغْنِي عَنْ قَوْلِ كُلِّ قَائِلٍ، فَقَالَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ: (اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فليس قبلك شي وأنت الآخر فليس بعدك شي وأنت الظاهر فليس فوقك شي وأنت الباطن فليس دونك شي اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ) عَنَى بِالظَّاهِرِ الْغَالِبَ، وَبِالْبَاطِنِ الْعَالِمَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
      (وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ) بِمَا كَانَ أَوْ يَكُونُ فلا يخفى عليه شي.
  4. Imam Albagawi:
    1. ﴿سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ﴾ يَعْنِي هُوَ “الْأَوَّلُ” قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ بِلَا ابْتِدَاءٍ، كَانَ هُوَ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مَوْجُودًا وَ”الْآخِرُ” بَعْدَ فَنَاءِ كُلِّ شَيْءٍ، بِلَا انْتِهَاءٍ تَفْنَى الْأَشْيَاءُ وَيَبْقَى هُوَ، وَ”الظَّاهِرُ” الْغَالِبُ الْعَالِي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَ”الْبَاطِنُ” الْعَالِمُ بِكُلِّ شَيْءٍ، هَذَا مَعْنَى قَوْلِ ابْنِ عَبَّاسٍ.
      وَقَالَ يَمَانٌ: “هُوَ الْأَوَّلُ” الْقَدِيمُ وَ”الْآخِرُ” الرَّحِيمُ وَ”الظَّاهِرُ” الْحَلِيمُ وَ”الْبَاطِنُ” الْعَلِيمُ.
      وَقَالَ السُّدِّيُّ: هُوَ الْأَوَّلُ بِبِرِّهِ إِذْ عَرَّفَكَ تَوْحِيدَهُ، وَالْآخِرُ بِجُودِهِ إِذْ عَرَّفَكَ التَّوْبَةَ عَلَى مَا جَنَيْتَ، وَالظَّاهِرُ بِتَوْفِيقِهِ إِذْ وَفَّقَكَ لِلسُّجُودِ لَهُ وَالْبَاطِنُ بِسَتْرِهِ إِذْ عَصَيْتَهُ فَسَتَرَ عَلَيْكَ.
      وَقَالَ الْجُنَيْدُ: هُوَ الْأَوَّلُ بِشَرْحِ الْقُلُوبِ، وَالْآخِرُ بِغُفْرَانِ الذُّنُوبِ، وَالظَّاهِرُ بِكَشْفِ الْكُرُوبِ، وَالْبَاطِنُ بِعِلْمِ الْغُيُوبِ. وَسَأَلَ عُمَرُ -رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -كَعْبًا عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ فَقَالَ: مَعْنَاهَا إِنَّ عِلْمَهُ بِالْأَوَّلِ كَعِلْمِهِ بِالْآخَرِ، وَعِلْمَهُ بِالظَّاهِرِ كَعِلْمِهِ بِالْبَاطِنِ.
  5. Imam Ibn Aljawzi:
    1. قَوْلُهُ تَعالى: ﴿هُوَ الأوَّلُ﴾ قالَ أبُو سُلَيْمانَ الخَطّابِيُّ: هو السّابِقُ لِلْأشْياءِ ﴿والآخِرُ﴾ الباقِي بَعْدَ فَناءِ الخَلْقِ ﴿والظّاهِرُ﴾ بِحُجَجِهِ الباهِرَةِ، وبَراهِينِهِ النَّيِّرَةِ، وشَواهِدِهِ الدّالَّةِ عَلى صِحَّةِ وحْدانِيَّتِهِ. ويَكُونُ: الظّاهِرُ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ بِقُدْرَتِهِ. وقَدْ يَكُونُ الظُّهُورُ بِمَعْنى العُلُوِّ، ويَكُونُ بِمَعْنى الغَلَبَةِ. والباطِنُ: هو المُحْتَجِبُ عَنْ أبْصارِ الخَلْقِ الَّذِي لا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ تَوَهُّمُ الكَيْفِيَّةِ. وقَدْ يَكُونُ مَعْنى الظُّهُورِ والبُطُونِ: احْتِجابَهُ عَنْ أبْصارِ النّاظِرِينَ، وتَجَلِّيَهُ لِبَصائِرِ المُتَفَكِّرِينَ. ويَكُونُ مَعْناهُ: العالِمَ بِما ظَهَرَ مِنَ الأُمُورِ، والمُطَّلِعَ عَلى ما بَطَنَ مِنَ الغُيُوبِ
  6. Imam Al-Maawardy:
    1. ﴿هُوَ الأوَّلُ والآخِرُ﴾ يُرِيدُ بِالأوَّلِ أنَّهُ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ لِقِدَمِهِ، وبِالآخِرِ لِأنَّهُ بَعْدَ كُلِّ شَيْءٍ لِبَقائِهِ.
      ﴿والظّاهِرُ والباطِنُ﴾ فِيهِ ثَلاثَةُ تَأْوِيلاتٍ:
      أحَدُها: الظّاهِرُ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ لِعُلُوِّهِ، والباطِنُ إحاطَتُهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لِقُرْبِهِ، قالَهُ ابْنُ حَيّانَ.
      الثّانِي: أنَّهُ القاهِرُ لِما ظَهَرَ وبَطَنَ كَما قالَ تَعالى ﴿فَأيَّدْنا الَّذِينَ آمَنُوا عَلى عَدُوِّهِمْ فَأصْبَحُوا ظاهِرِينَ﴾
      الثّالِثُ: العالِمُ بِما ظَهَرَ وما بَطَنَ.
      ﴿وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ يَعْنِي بِالأوَّلِ والآخِرِ والظّاهِرِ والباطِنِ.
      وَلِأصْحابِ الخَواطِرِ في ذَلِكَ ثَلاثَةُ أوْجُهٍ:
      أحَدُها: الأوَّلُ في ابْتِدائِهِ بِالنِّعَمِ، والآخِرِ في خِتامِهِ بِالإحْسانِ، والظّاهِرِ في إظْهارِ حُجَجِهِ لِلْعُقُولِ، والباطِنِ في عِلْمِهِ بِبَواطِنِ الأُمُورِ.
      الثّانِي: الأوَّلُ بِكَشْفِ أحْوالِ الآخِرَةِ حِينَ تَرْغَبُونَ فِيها، والآخِرُ بِكَشْفِ أحْوالِ الدُّنْيا حِينَ تَزْهَدُونَ فِيها، والظّاهِرُ عَلى قُلُوبِ أوْلِيائِهِ حِينَ يَعْرِفُونَهُ، والباطِنُ عَلى قُلُوبِ أعْدائِهِ حِينَ يُنْكِرُونَهُ.
      الثّالِثُ: الأوَّلُ قَبْلَ كُلِّ مَعْلُومٍ، والآخِرُ بَعْدَ كُلِّ مَخْتُومٍ، والظّاهِرُ فَوْقَ كُلِّ مَرْسُومٍ، والباطِنُ مُحِيطٌ بِكُلِّ مَكْتُومٍ.
  7. Imam Ibnul Qayyim:
    1. «وَأرْشَدَ ﷺ مَن بُلِيَ بِشَيْءٍ مِن وسْوَسَةِ التَّسَلْسُلِ في الفاعِلِينَ، إذا قِيلَ لَهُ: هَذا اللَّهُ خَلَقَ الخَلْقَ، فَمَن خَلَقَ اللَّهَ؟ أنْ يَقْرَأ: ﴿هُوَ الأوَّلُ والآخِرُ والظّاهِرُ والباطِنُ وهو بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ [الحديد: ٣]».
      كَذَلِكَ «قالَ ابْنُ عَبّاسٍ لأبي زميل سماك بن الوليد الحنفي، وقَدْ سَألَهُ: ما شَيْءٌ أجِدُهُ في صَدْرِي؟ قالَ: ما هُوَ؟ قالَ: قُلْتُ: واللَّهِ لا أتَكَلَّمُ بِهِ. قالَ فَقالَ لِي: أشَيْءٌ مِن شَكٍّ؟ قُلْتُ: بَلى، فَقالَ لِي: ما نَجا مِن ذَلِكَ أحَدٌ، حَتّى أنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: ﴿فَإنْ كُنْتَ في شَكٍّ مِمّا أنْزَلْنا إلَيْكَ فاسْألِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الكِتابَ مِن قَبْلِكَ﴾ [يونس: ٩٤]
      قالَ: فَقالَ لِي: فَإذا وجَدْتَ في نَفْسِكَ شَيْئًا، فَقُلْ: ﴿هُوَ الأوَّلُ والآخِرُ والظّاهِرُ والباطِنُ وهو بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾»
      فَأرْشَدَهم بِهَذِهِ الآيَةِ إلى بُطْلانِ التَّسَلْسُلِ الباطِلِ بِبَدِيهَةِ العَقْلِ، وأنَّ سِلْسِلَةَ المَخْلُوقاتِ في ابْتِدائِها تَنْتَهِي إلى أوَّلَ لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، كَما تَنْتَهِي في آخِرِها إلى آخِرٍ لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ، كَما أنَّ ظُهُورَهُ هو العُلُوُّ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ، وبُطُونَهُ هو الإحاطَةُ الَّتِي لا يَكُونُ دُونَهُ فِيها شَيْءٌ، ولَوْ كانَ قَبْلَهُ شَيْءٌ يَكُونُ مُؤَثِّرًا فِيهِ لَكانَ ذَلِكَ هو الرَّبَّ الخَلّاقَ، ولا بُدَّ أنْ يَنْتَهِيَ الأمْرُ إلى خالِقٍ غَيْرِ مَخْلُوقٍ وغَنِيٍّ عَنْ غَيْرِهِ، وكُلُّ شَيْءٍ فَقِيرٌ إلَيْهِ قائِمٌ بِنَفْسِهِ، وكُلُّ شَيْءٍ قائِمٌ بِهِ مَوْجُودٌ بِذاتِهِ، وكُلُّ شَيْءٍ مَوْجُودٌ بِهِ. قَدِيمٌ لا أوَّلَ لَهُ، وكُلُّ ما سِواهُ فَوُجُودُهُ بَعْدَ عَدَمِهِ باقٍ بِذاتِهِ، وبَقاءُ كُلِّ شَيْءٍ بِهِ فَهو الأوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، والآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ، الظّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ، الباطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ.
  8. Imam Samaani:
    1. قَوْله تَعَالَى: ﴿هُوَ الأول وَالْآخر﴾ أَي: الأول قبل كل شَيْء، وَالْآخر بعد كل شَيْء. وَقيل: الأول فَلَا أول لَهُ، وَالْآخر فَلَا آخر لَهُ، وَهُوَ فِي معنى الأول. وَقيل: الأول بِلَا ابْتِدَاء، وَالْآخر بِلَا انْتِهَاء.
      وَقَوله: ﴿وَالظَّاهِر وَالْبَاطِن﴾ أَي: الظَّاهِر بالدلائل والآيات، وَالْبَاطِن لِأَنَّهُ لَا يرى بالأبصار، وَلَا يدْرك بالحواس. وَقيل: الظَّاهِر هُوَ الْغَالِب؛ وَهَذَا يحْكى عَن ابْن عَبَّاس. وَالْبَاطِن المحتجب عَن خلقه. (وَعَن) بَعضهم: الْعَالم بِمَا ظهر وَمَا بطن.
      وَقَوله: ﴿وَهُوَ بِكُل شَيْء عليم﴾ أَي: عَالم.
  9. Imam Makki ibn Abi Thalib:
    1. ثم قال: ﴿هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾: أي: هو الأول قبل كل شيء بغير حد، والآخر بعد كل شيء بغير نهاية، وهو الظاهر على كل شيء، فكل شيء دونه، وهو العالي فوق كل شيء، فلا شيء أعلا منه، والباطن في جميع الأشياء، فلا شيء أقرب إلى شيء منه، كما قال: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ﴾ [ق: ١٦] يعني القرب بعلمه وقدرته وهو فوق عرشه.
  10. Imam Al-Qaasimi:
    1. القَوْلُ في تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعالى:
      [٣] ﴿هُوَ الأوَّلُ والآخِرُ والظّاهِرُ والباطِنُ وهو بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
      ﴿هُوَ الأوَّلُ﴾ أيِ: السّابِقُ عَلى كُلِّ مَوْجُودٍ، مِن حَيْثُ إنَّهُ مُوجِدُهُ ومُحْدِثُهُ ﴿والآخِرُ﴾ أيِ: الباقِي بَعْدَ فَناءِ كُلِّ شَيْءٍ ﴿والظّاهِرُ﴾ أيْ: وجُودُهُ بِالأدِلَّةِ الدّالَّةِ عَلَيْهِ. وقالَ ابْنُ جَرِيرٍ: أيِ: الظّاهِرُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ مِن دُونِهِ، وهو العالِي فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ فَلا شَيْءَ أعْلى مِنهُ ﴿والباطِنُ﴾ أيْ: بِاحْتِجابِهِ بِذاتِهِ وماهِيَّتِهِ، أوِ العالَمِ بِباطِنِ كُلِّ شَيْءٍ. قالَ ابْنُ جَرِيرٍ: أيِ: الباطِنُ جَمِيعَ الأشْياءِ فَلا شَيْءَ أقْرَبُ إلى شَيْءٍ مِنهُ، كَما قالَ: ﴿ونَحْنُ أقْرَبُ إلَيْهِ مِن حَبْلِ الوَرِيدِ﴾ [ق: ١٦] ﴿وهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ أيْ: تامُّ العِلْمِ، فَلا يَخْفى عَلَيْهِ شَيْءٌ.
      وقَدْ رَوى الإمامُ أحْمَدُ عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ، «أنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كانَ يَدْعُو عِنْدَ النَّوْمِ: «اللَّهُمَّ رَبَّ السَّماواتِ السَّبْعِ ورَبَّ العَرْشِ العَظِيمِ، رَبَّنا ورَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، مُنْزِلَ التَّوْراةِ والإنْجِيلِ والقُرْآنِ، فالِقَ الحَبِّ والنَّوى، لا إلَهَ إلّا أنْتَ، أعُوذُ بِكَ مِن شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أنْتَ آخِذٌ بِناصِيَتِهِ، أنْتَ الأوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وأنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وأنْتَ الظّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وأنْتَ الباطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنّا الدَّيْنَ وأغْنِنا مِنَ الفَقْرِ»» رَواهُ مُسْلِمٌ وغَيْرُهُ.
  11. Imam Tsa’labi:
    1. وقوله تعالى: هُوَ الْأَوَّلُ [أي] : [الذي] ليس لوجوده بداية مُفْتَتَحَةٌ وَالْآخِرُ:
      الدائم الذي ليس له نهاية منقضية، قال أبو بكر الوَرَّاق: هُوَ الْأَوَّلُ: بالأزلية وَالْآخِرُ: بالأبديَّة.
      وَالظَّاهِرُ: معناه بالأدِلَّةِ ونظر العقول في صنعته.
      وَالْباطِنُ: بلطفه وغوامضِ حكمته وباهِرِ صفاته التي لا تصل إلى معرفتها على- ما هي عليه- الأوهامُ، وباقي الآية تقدم تفسيرُ نظيره.
  12. Imam As-Samarqandi:
    1. ثم قال عز وجل: هُوَ الْأَوَّلُ يعني: الأول قبل كل أحد وَالْآخِرُ بعد كل أحد وَالظَّاهِرُ يعني: الغالب على كل شيء وَالْباطِنُ يعني: العالم بكل شيء. ويقال: هُوَ الْأَوَّلُ يعني: مؤول كل شيء وَالْآخِرُ يعني: مؤخر كل شيء وَالظَّاهِرُ يعني: المظهر وَالْباطِنُ يعني: المبطن. ويقال: هو الْأَوَّلُ يعني: خالق الأولين وَالْآخِرُ يعني: خالق الآخرين وَالظَّاهِرُ يعني: خالق الآدميين، وهم ظاهرون. وَالْباطِنُ يعني: خالق الجن، والشياطين الذين لا يظهرون. ويقال: هُوَ الْأَوَّلُ يعني: خالق الدنيا وَالْآخِرُ يعني: خالق الآخرة. وَالظَّاهِرُ وَالْباطِنُ يعني: عالم بالظاهر والباطن. ويقال: هُوَ الْأَوَّلُ بلا ابتداء وَالْآخِرُ بلا انتهاء. وَالظَّاهِرُ وَالْباطِنُ يعني: منه نعمة ظاهرة. ويقال: هو الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْباطِنُ يعني: هو الرب الواحد.
      ثم قال: وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ يعني: من أمر الدنيا والآخرة.

Kezaliman

Kezaliman berasal dari akar kata ẓā lām mīm (ظ ل م) yang makna dasarnya adalah kegelapan atau ketiadaan cahaya.

Pada laman http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=Zlm disebutkan kata ini terulang sebanyak 315 kali dalam Al-Quran.

Dari makna dasar kegelapan atau ketiadaan cahaya, kata z-l-m ini berkembang menjadi tiga makna, yakni kebodohan, kesyirikan, dan kefasikan.

Pada perkembangan selanjutnya, kata tersebut memuat makna “meletakkkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Di sini, kata z-l-m berlawanan dengan kata ‘-d-l atau keadilan.

Pada Quran Surah 6 Al-An’am ayat 1, kegelapan dan cahaya itu diadakan oleh Allah swt.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.

Keadaan gelap yang merupakan fenomena alam banyak ditunjukkan dalam Al-Quran. Misalnya, kegelapan di darat dan laut: 6 Al-An’am 63 dan 97, 24 An-Nur 40, 27 An-Naml 63.

Bagi manusia, keadaan gelap telah dialami sejak awal penciptaan. Pada Quran Surah 39 Az-Zumar ayat 6 disebutkan bahwa manusia berada dalam tiga kegelapan:

خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

 

 

 

###

ظلم: الظلمة عدم النور، وجمعها: ظلمات. قال تعالى: {أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ} [النور:40]، {ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ} [النور:40]، وقال تعالى: {أَمَّن يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ} [النمل:63]، {وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ} [الأنعام:1]، ويعبر بها عن الجهل والشرك والفسق، كما يعبر بالنور عن أضدادها. قال الله تعالى: {يُخْرِجُهُمْ مِّنَ ٱلظُّلُمَاتِ إِلَى ٱلنُّورِ} [البقرة:257]، {أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ ٱلظُّلُمَاتِ إِلَى ٱلنُّورِ} [إبراهيم:5]، {فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَاتِ} [الأنبياء:87]، {كَمَن مَّثَلُهُ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ} [الأنعام:122]، هو كقوله: {كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ} [الرعد:19]، وقوله في سورة الأنعام: {وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي ٱلظُّلُمَاتِ} [الأنعام:39]، فقوله: {فِي ٱلظُّلُمَاتِ} [الأنعام:39] هاهنا موضوع موضع العمى في قوله: {صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ} [البقرة:18]، وقوله: {فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاَثٍ} [الزمر:6]، أي: البطن والرحم والمشيمة، وأظلم فلان: حصل في ظلمة. قال تعالى: {فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ} [يس:37]، والظلم عند أهل اللغة وكثير من العلماء: وضع الشيء في غير موضعه المختص به؛ إما بنقصان أو بزيادة؛ وإما بعدول عن وقته أو مكانه، ومن هذا يقال: ظلمت السقاء: إذا تناولته في غير وقته، ويسمى ذلك اللبن الظليم. وظلمت الأرض: حفرتها ولم تكن موضعا للحفر، وتلك الأرض يقال لها: المظلومة، والتراب الذي يخرج منها: ظليم. والظلم يقال في مجاوزة الحق الذي يجري مجرى نقطة الدائرة، ويقال فيما يكثر وفيما يقل من التجاوز، ولهذا يستعمل في الذنب الكبير، وفي الذنب الصغير، ولذلك قيل لآدم في تعديه ظالم، وفي إبليس ظالم وإن كان بين الظلمين بون بعيد. قال بعض الحكماء: الظلم ثلاثة:
الأول: ظلم بين الإنسان وبين الله تعالى، وأعظمه: الكفر والشرك والنفاق، ولذلك قال: {إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان:13]، وإياه قصد بقوله: {أَلاَ لَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّالِمِينَ} [هود:18]، {وَٱلظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً} [الإنسان:31]، في آي كثيرة، وقال: {فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَذَبَ علَى ٱللَّهِ} [الزمر:32]، {وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِباً} [الأنعام:21].
والثاني: ظلم بينه وبين الناس، وإياه قصد بقوله: {وَجَزَآءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ} [الشورى: 40] إلى قوله: {إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلظَّالِمِينَ} [الشورى: 40] وبقوله: {إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ} [الشورى:42]، وبقوله: {وَمَن قُتِلَ مَظْلُوماً} [الإسراء:33].
والثالث: ظلم بينه وبين نفسه، وإياه قصد بقوله: {فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ} [فاطر:32]، وقوله: {إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي} [النمل:44]، {إِذ ظَّلَمُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ} [النساء:64]، {فَتَكُونَا مِنَ ٱلْظَّٰلِمِينَ} [البقرة:35]، أي: من الظالمين أنفسهم، {وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ} [البقرة:231] وكل هذه الثلاثة في الحقيقة ظلم للنفس؛ فإن الإنسان في أول ما يهم بالظلم فقد ظلم نفسه، فإذا الظالم أبدا مبتدئ في الظلم، ولهذا قال تعالى في غير موضع: {وَمَا ظَلَمَهُمُ ٱللَّهُ وَلـٰكِن كَانُواْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [النحل:33]، {وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـٰكِن كَانُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [البقرة:57]، وقوله: {وَلَمْ يَلْبِسُوۤاْ إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} [الأنعام:82]، فقد قيل: هو الشرك، بدلالة أنه لما نزلت هذه الآية شق ذلك على أصحاب النبي عليه السلام، وقال لهم: ألم تروا إلى قوله: {إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان:13] وقوله: {وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئاً} [الكهف:33]، أي: لم تنقص، وقوله: {وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا فِي ٱلأَرْضِ جَمِيعاً} [الزمر:47]، فإنه يتناول الأنواع الثلاثة من الظلم، فما أحد كان منه ظلم ما في الدنيا إلا ولو حصل له ما في الأرض ومثله معه لكان يفتدي به، وقوله: {هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ} [النجم:52]، تنبيها أن الظلم لا يغني ولا يجدي ولا يخلص بل يردي بدلالة قوم نوح. وقوله: {وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعِبَادِ} [غافر:31]، وفي موضع: {وَمَآ أَنَاْ بِظَلاَّمٍ لِّلْعَبِيدِ} [ق:29]، وتخصيص أحدهما بالإرادة مع لفظ العباد، والآخر بلفظ الظلام للعبيد يختص بما بعد هذا الكتاب (يريد كتاب تحقيق الألفاظ المترادفة على المعنى الواحد). والظليم: ذكر النعام، وقيل: إنما سمي بذلك لاعتقادهم أنه مظلوم، للمعنى الذي أشار إليه الشاعر:
فصرت كالهيق عدا يبتغي       قرنا فلم يرجع بأذنين
والظلم: ماء الأسنان. قال الخليل: لقيته أول ذي ظلم، أو ذي ظلمة، أي: أول شيء سد بصرك، قال: ولا يشتق منه فعل، ولقيته أدنى ظلم كذلك.

[http://www.altafsir.com/MiscellaneousBooks.asp , معجم مفردات ألفاظ القرآن/الأصفهاني)

 Kezaliman