Ridha Istri Setara Ridha Suami?

*Ridha Istri Setara Ridha Suami?*

Ketika membaca *QS 2 Al-Baqarah 233*, terbetik satu pertanyaan yang saya jadikan judul di atas.

Ayat di atas berbicara tentang “penyapihan” anak yang keputusannya memerlukan dua hal: “taradhin” (persetujuan) dan “musyawarah” antara suami-istri.

Kata “taradhin” pada QS 2 Al-Baqarah 233 diterjemahkan dengan “persetujuan” dan pada ayat yang lain diterjemahkan dengan “suka sama suka” (*baca:https://kitabdiri.com/2021/03/16/suka-sama-suka-adakah-di-dalam-alquran/*).

Jika dalam perkara “penyapihan” anak diperlukan taradhin antara suami-istri apakah di luar urusan penyapihan ini juga diperlukan taradhin antara suami-istri? Atau dalam ungkapan lain bisa diajukan pertanyaan ini: apakah seluruh atau setiap urusan/perkara dalam rumah tangga atau dalam relasi suami-istri diperlukan taradhin (persetujuan bersama/mutual consent)? Dapatkah konsep taradhin ini diperluas bukan hanya untuk “penyapihan” melainkan juga untuk seluruh urusan rumah tangga?

Jawaban “ya” atas pertanyaan-pertanyaan di atas memberi satu konsekuensi lanjutan dalam benak penulis, yaitu: jika demikian halnya, maka suami memerlukan “ridha” istri dan sebaliknya, istri juga memerlukan “ridha” suami bila ingin melakukan atau memutuskan suatu perkara dalam konteks rumah tangga atau relasi suami istri.

Bila kondisi di atas diterima, maka *ridha istri sama nilainya atau sama pentingnya dengan ridha suami*.

Gimana?