Untuk Kerabat, Apa yang Harus Dilakukan Menurut Alquran?

*Untuk Kerabat, Apa yang Harus Dilakukan Menurut Alquran?*

Secara umum, kita diperintah untuk *berbuat kebaikan* kepada *kerabat*: Berbuat baik kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin (2 Al-Baqarah 83).

Kerabat di sini adalah *orang-orang yang dekat dengan Anda* baik melalui jalur hubungan darah (keluarga) maupun kedekatan karena lokasi (tetangga) dan aktifitas (sejawat): Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabīl dan hamba sahaya yang kamu miliki (4 An-Nisa 36).

Hubungan Anda dengan kerabat adalah hubungan yang dilandasi dengan al-mawaddah (kasih sayang): Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), “*Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan*.” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (42 Asy-Syura 23).

Hubungan dengan kerabat yang dilandasi dengan kasih sayang tersebut diwujudkan dalam bentuk *”pemberian bantuan/dukungan”*: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (16 An-Nahl 90).

Alquran banyak menyebut pemberian bantuan atau dukungan tersebut diberikan dalam bentuk *material/finansial*.

Kerabat (dalam hal ini keluarga) memiliki bagian dari *harta waris* seperti yang Anda baca di ayat-ayat berikut: Lelaki dan perempuan memiliki hak bagian dari harta waris yang ditinggalkan oleh kedua orangtua dan kerabatnya (4 An-Nisa 7, 33). // Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (4 An-Nisa 8). // Wasiat (harta) untuk kedua orangtua dan karib kerabat (2 Al-Baqarah 180). // Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan (agama) dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah salat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, “Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.” (5 Al-Maidah 106).

Selain harta waris, kerabat (umumnya dipahami dengan kerabat Nabi Muhammad saw) juga berhak mendapatkan *harta rampasan perang*: Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (8 Al-Anfal 41). // Harta rampasan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, *agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu*. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya. (59 Al-Hasyr 7)

Lebih jauh lagi, Alquran menyebut bahwa *ada bagian dari harta Anda yang menjadi hak kerabat*: Harta yang diinfakkan (dibelanjakan) diperuntukkan bagi kedua orangtua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan (2 Al-Baqarah 215). // Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (17 Al-Isra 26). // Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang *mencari keridaan Allah*. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (30 Ar-Rum 38).

Bahkan harta yang Anda berikan itu termasuk ke dalam *harta yang Anda sukai, sayangi, atau cintai*: Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya (2 Al-Baqarah 177).

Bagaimana bila ada kerabat yang katakanlah *membuat Anda kecewa, sakit hati, atau tidak Anda senangi*? Apakah kerabat seperti itu boleh tidak diberi bantuan? Alquran menjawab: tidak. *Tetaplah memberi bantuan*: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka kalau Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (24 An-Nuur 22).

Meski Anda diperintah untuk berbuat baik kepada kerabat dengan memberi bantuan (finansial/material) yang dilandasi dengan kasih sayang (al-mawaddah), tidak berarti bahwa relasi dengan kerabat itu harus selalu dalam model “lemah-lembut”. Pada kondisi tertentu Anda diharapkan untuk:

(1) bersikap tegas dengan senantiasa memberi *peringatan* kepada kerabat: Berilah peringatan terhadap kerabat terdekat (26 Asy-Syuara 214).
(2) bersikap adil terutama bila harus menjadi saksi dalam suatu perkara: Tegakkan keadilan dengan menjadi saksi baik bagi diri sendiri, kedua orang tua, dan kerabat (4 An-Nisa 135). // Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat. (6 Al-Maidah 152).
(3) tidak memohonkan ampunan kepada kerabat yang “musyrik”: Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat-(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. (9 At-Tawbah 113)
(4) kita tidak bertanggungjawab atas perbuatan (buruk) kerabat kita: Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan salat. Barangsiapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali. (35 Fathir 18).

Setelah Anda mengetahui apa yang (se)harus(nya) Anda lakukan kepada kerabat ini *ternyata sangat berat atau menyusahkan*, maka Anda telah membuktikan pesan Alquran pada surah ke-90 Al-Balad ayat 12-16: (12) *Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?*, (13) (Yaitu) membebaskan budak (hamba sahaya), (14) atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (15) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, (16) atau orang miskin yang sangat fakir.