Suka-Sama-Suka, Adakah di Dalam Alquran

*Suka-Sama-Suka, Adakah di Dalam Alquran?*

Frasa ‘suka sama suka” atau “persetujuan bersama (mutual consent)” terlintas di lini masa (timeline) www.twitter.com beberapa waktu lalu. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari dalam Alquran dua frasa tersebut. Adakah?

Ternyata, ada!

Kedua frasa tersebut merupakan terjemahan dari kata “تَرَاضٍ” (taraadhin) yang terdapat pada QS 2 Al-Baqarah 233 dan 4 An-Nisa 29. Konteks pembicaraan “taraadhin” pada surah Al-Baqarah adalah “penyapihan” dan pada surah An-Nisa konteksnya adalah “perdagangan”.

Dari sini kita bisa mengurai pesan Alquran bahwa hubungan atau interaksi antar manusia perlu didasari oleh sikap “taraadhin” ini, yaitu “suka sama suka” atau “persetujuan bersama (mutual consent)”.

Dengan demikian, dalam konteks hubungan sesama manusia, kita sudah mengenali dua prinsip dasar, yakni:

(1) bahwa Allah *hadir* dalam *setiap interaksi antar manusia* (baca: https://kitabdiri.com/2021/03/16/hubungan-anda-dengan-sesama-manusia-senantiasa-dipantau-allah/), dan

(2) interaksi atau hubungan tersebut didasari “suka sama suka” atau “persetujuan bersama (mutual consent)” yang dalam istilah Alquran disebut “تَرَاضٍ” (taraadhin).

Sekarang kita lihat kehidupan kita sendiri (refleksi diri), apakah seluruh interaksi atau hubungan/urusan kita dengan orang lain didasari oleh kedua prinsip di atas atau masih ada jenis interaksi atau urusan yang belum didasari oleh salah satu atau kedua prinsip tersebut?

Apakah urusan kita dengan pekerjaan, kantor atau perusahaan sudah didasari oleh “taraadhin” atau belum? Apakah setiap transaksi keuangan (belanja, jualan) sudah didasari “taraadhin”? Dan seterusnya.