Lakum Dinukum waliya-Diin, Prinsip yang Dilanggar?

*Lakum Dinukum waliya-Diin, Prinsip yang Dilanggar?*

Pada QS 109 Al-Kafirun 6, kita membaca ayat yang terjemahannya: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Kalimat tersebut memberi penegasan terhadap batasan dalam ad-diin (agama) antara al-kaafirun dengan al-muslimun.

Al-kaafirun tidak “melayani” Tuhannya al-muslimun dan sebaliknya.

Apa yang dikerjakan oleh al-kaafirun menjadi tanggungjawab mereka dan apa yang dikerjakan oleh al-muslimun menjadi tanggung jawab bagi al-muslimun, seperti yang kita baca dalam QS 10 Yunus 41 yang terjemahannya: Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Al-muslimun *tidak dapat dipaksa* mempraktekkan ad-diin milik al-kafirun. Sebaliknya, al-kaafirun juga *tidak dapat dipaksa* mempraktekkan ajaran ad-diin oleh al-muslimun.

Pada konteks sosial-politik, secara historis, implementasi ajaran lakum dinukum waliya-diin ini bisa kita temukan jejaknya pada “Piagam Madinah” di mana Nabi Muhammad saw menetapkan *aturan agama berlaku untuk masing-masing penganut/pemeluknya* (وإنَّ يهود بني عوف أمة مع المؤمنين، لليهود دينهم وللمسلمين دينهم). Al-muslimun masa kini hendaknya tetap menghormati ajaran prinsip ini dalam berinteraksi dengan ummat lain.

Konsekuensinya, al-muslimun masa kini tidak boleh *memaksakan* ajaran ad-diin berkaitan dengan apa yang dianggap, misalnya, sebagai aurat dan wajib ditutup dengan sehelai kain kepada al-kaafirun meski ia berada dalam institusi pendidikan yang secara kebetulan dikuasai oleh al-muslimun.

Al-muslimun harus mengingat ini baik-baik: tidak boleh *memaksakan* ajaran ad-diin yang kita yakini kepada manusia yang tidak meyakininya. Tindakan *pemaksaan* bertentangan dengan ajaran prinsip Alquran dan juga menyalahi praktek atau “sunnah” Nabi Muhammad saw.

Jangan diulangi, ya, teman-teman!