Bagaimana Jika Sidratulmuntaha Ada di Langit?

 

Pada tulisan sebelumnya (baca: https://kitabdiri.com/2021/03/13/sidratul-muntaha-itu-pohon-di-bumi/) saya menyatakan sebuah indikasi bahwa sidratulmuntaha itu adalah pohon bidara terjauh/terakhir yang lokasinya berada di dekat atau sisi kebun yang ditinggali/didiami di suatu tempat di bumi sebagai lokasi turunnya sesuatu (makhluk).

Nah, pada tulisan ini saya ingin menjelajahi kemungkinan sidratulmuntaha berada di “langit” dan di “dekat surga”.

Untuk keperluan tersebut, saya dan Anda perlu membaca dengan seksama/teliti/cermat dan berdialog dengan Alquran surah ke 53 An-Najm ayat 1-18. Kita akan membaca terjemahan bahasa Indonesia dari ayat-ayat tersebut.

(1) Demi bintang ketika terbenam, (2) kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, (3) dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut keinginannya. (4) Tidak lain (Alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (5) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, (6) yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa). (7) Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. (8) Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, (9) sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). (10) Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. (11) Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (12) Maka apakah kamu (musyrikin Mekkah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? (13) Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (14) (yaitu) di Sidratilmuntahā, (15) di dekatnya ada surga tempat tinggal, (16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, (17) penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.(18) Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.

Secara keseluruhan, ayat-ayat tersebut berbicara tentang (1) penerima wahyu, (2) wahyu itu sendiri, (3) pengantar wahyu, (4) proses penerimaan wahyu, (5) penglihatan penerima wahyu terhadap pengantar wahyu dan apa yang dilihat oleh penerima wahyu adalah sebagian dari tanda-tanda Tuhan yang paling besar.

Perlu dicatat di sini bahwa kata Muhammad, Alquran, Jibril, musyrikin Mekkah, menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa), dalam rupanya yang asli, TIDAK ADA TEKS ARABNYA dalam Alquran. Mudah-mudahan kita ada waktu untuk membahas ini kemudian. Sekarang, kita pusatkan perhatian kita pada rangkaian pesan QS 53 An-Najm 1-18 untuk menemukan indikasi bahwa sidratulmuntaha itu ada di “langit dekat surga”.

Sidratulmuntaha dibahas pada ayat 13 hingga 17. Jika kita perhatikan dengan teliti terjemahannya, maka akan timbul pemahaman bahwa penerima wahyu melihat pengantar wahyu di sidratilmuntaha yang didekatnya ada “surga” tempat tinggal dan peristiwa “melihat” itu terjadi ketika sidtratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya sehingga pandangan atau penglihatan penerima wahyu “fokus atau terpusat” pada sidratulmuntaha tanpa berpaling atau melihat melampaui sidratulmuntaha itu.

Dalam ungkapan yang lain, perisitwa yang terjadi adalah “melihat”, pelakunya adalah penerima wahyu dan obyek yang dilihat adalah pengantar wahyu. Tempat atau lokasi terjadinya peristiwa penglihatan itu adalah di sisi/dekat (‘inda) sidratulmuntaha. Adapun sidratulmuntaha itu terletak di sisi/dekat (‘inda) jannah (surga/kebun) tempat tinggal atau jannah (surga/kebun) yang menjadi tempat untuk ditinggali/didiami. Bila sidratulmuntaha berada di langit dekat surga dan surga yang dimaksud adalah tempat yang Tuhan janjikan di hari kemudian, maka kita perlu menjawab pertanyaan berikut.

Pada terjemahan ayat ke-13 “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,” ada satu kata dalam teks Arab yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu kata (نَزْلَةً). Kata nazlat ini terjemahan Indonesianya adalah “turun”. Jika ayat ke-13 kita terjemahkan per kata, kita akan memeroleh terjemahan berikut: (وَلَقَدْ= dan sungguh), (رَآهُ=dia telah melihatnya), (نَزْلَةً=turun), (أُخْرَى=yang lain), “dan sungguh dia telah melihatnya turun yang lain” atau kalau kita perhalus terjemahan ini, kita bisa menulis “dan sungguh dia telah melihatnya turun [di waktu/kesempatan] yang lain.” Dengan menggunakan terjemahan per kata itu, kita mendapatkan satu gambaran bahwa pengantar wahyu TURUN ke dan dilihat oleh penerima wahyu dan lokasi turunnya pengantar wahyu dan terlihatnya ia oleh penerima wahyu adalah di sisi/dekat sidratulmuntaha. Di sini kita bertanya, jika benar pengantar wahyu TURUN ke sidratulmuntaha, berarti pengantar wahyu berasal dari tempat yang lebih tinggi dari sidratulmuntaha. Adakah tempat yang lebih tinggi dari sidratulmuntaha yang di “langit” sana? Padahal, pada catatan kaki Alquran terjemahan bahasa Indonesia, sidratulmuntaha disebut sebagai “tempat yang paling atas pada langit yang ke-7, yang telah dikunjungi Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- ketika Mi’raj”. Jika kita ambil pengertian sidratulmuntaha sebagai “tempat yang paling tinggi pada langit ke-7…” maka dari manakah pengantar wahyu itu TURUN ke sidratulmuntaha yang merupakan “tempat yang paling tinggi pada langit ke-7” itu? Adakah tempat yang lebih tinggi dari sidratulmuntaha di langit ke-7?