Sidratul Muntaha itu Pohon di Bumi?

Sidratul Muntaha itu Pohon di Bumi?

Kata sidratul muntaha disebutkan sebanyak satu kali dalam Alquran, yaitu pada surah ke-53 An-Najm ayat 14. Pada Alquran terjemahan bahasa Indonesia, kata sidratulmuntaha tidak diterjemahkan. Ia ditulis seperti kata aslinya dalam teks berbahasa Arab.

Namun, bila kita membaca terjemahan Alquran berbahasa Inggris, kita akan menemukan terjemahan dari frasa sidratulmuntaha, yakni (mayoritas penerjemah mengartikan sidratulmuntaha dengan) “(the) Lote Tree (of) the utmost boundary (dan terjemahan yang semakna)”.

Bila kita mengikuti terjemahan berbahasa Inggris, kata sidrat/sidrah diterjemahkan dengan “lote tree” yang dalam bahasa Indonesia berarti “pohon bidara”.

Menariknya, kata “(pohon) bidara” terulang sebanyak dua kali dalam terjemahan Alquran berbahasa Indonesia, yakni pada surah ke-34 Saba 16 dan surah ke-56 Al-Waqiah 28. Pada kedua ayat tersebut, kata “bidara” merupakan terjemahan dari kata “sidr” dalam teks asli Alquran.

Kata “sidrat/sidrah” dan “sidr” berasal dari akar kata sin-dal-ra yang terulang sebanyak lima kali dalam Alquran (https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=sdr).

Dalam ungkapan yang lain, kata “sidr” dalam terjemahan Alquran berbahasa Indonesia diartikan dengan “(pohon) bidara” sementara sidrah/sidrat tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun kalau kita membuka terjemahan Alquran berbahasa Inggris, kita akan menemukan kata “sidr” dan “sidrat/sidrah” diterjemahkan secara relatif konsisten dengan “lote tree” atau “pohon bidara”.

Adapun kata al-muntaha diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan “farthest limit” atau “the utmost boundary” yang memberi gambaran sebagai “batas terjauh/terakhir”. Sementara terjemahan al-muntaha dalam bahasa Indonesia adalah “kesudahan” yang bisa kita baca pada surah ke-53 An-Najm 42 (وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ).

Jadi, dalam Alquran terjemahan bahasa Indonesia kata sidratulmuntaha pada surah ke-53 An-Najm ayat 14 tidak diterjemahkan. Namun pada ayat-ayat yang lain kata sidr dan al-muntaha diterjemahkan dengan “(pohon) bidara” dan “kesudahan”.

Pertanyaan yang bisa kita ajukan adalah: apa makna sidratulmuntaha itu? Apakah “yang ada di langit sana” atau “pohon bidara di batas terjauh/terakhir atau pohon bidara kesudahan” yang ada di bumi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melanjutkan bacaan kita ke ayat 15 surah ke-53 An-Najm, yaitu (عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ) “di dekatnya ada surga tempat tinggal”. Nah, di sini terlihat bahwa sidratulmuntaha terletak di dekat “surga tempat tinggal”. Ini yang kita pahami kalau membaca terjemahan Alquran berbahasa Indonesia. Selesai persoalan, kan?

Tunggu dulu…

Kata “جَنَّةُ” bisa berarti “surga” dapat pula berarti “kebun”. Dalam Alquran terjemahan bahasa Indonesia, kata jannah diartikan “kebun” bila konteks pembicaraan ayat tersebut adalah kehidupan di bumi/dunia dan diterjemahkan dengan “surga” bila konteks pembicaraan ayatnya adalah kehidupan di hari kemudian/akhirat (http://quran.bblm.go.id/?id=72727&test=lewat#11).

Bagaimana caranya kita mengetahui konteks pembicaraan “sidratulmuntaha di dekatnya ada surga/kebun tempat tinggal” pada QS 53 An-Najm 14-15? Apakah konteksnya di akhirat sehingga kata surga lebih cocok atau di bumi/dunia sehingga kata kebun lebih cocok sebagai terjemahan “جَنَّةُ”?

Ada satu kata dalam QS 53 An-Najm 13 yang bisa kita jadikan petunjuk, yaitu kata “نَزْلَةً”. Teks ayat QS 53 An-Najm 13 adalah (وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ). Kata “nazlat/nazlah” artinya “turun”. Sayangnya, kata “nazlat” pada QS 53 An-Najm 13 tidak diterjemahkan dalam terjemahan Alquran berbahasa Indonesia!

Kalau kita baca rangkaian ayat pada QS 53 An-Najm ayat 13-15, akan ditemukan satu pemahaman bahwa ada “sesuatu” yang “turun” di sisi/dekat “sidratulmuntaha” yang “di dekatnya ada surga/kebun tempat tinggal”. Kata “turun/nazlat” mengindikasikan bahwa ada gerakan dari suatu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Nah, bila “jannat” dimaknai sebagai “surga” maka “tempat apakah yang lebih tinggi dari surga”? Lalu, jika “jannat” dimaknai sebagai “kebun” maka “tempat apakah yang lebih tinggi dari kebun (di bumi)”? Jawaban untuk pertanyaan kedua adalah “langit”. Apa jawaban atas pertanyaan pertama? Entahlah saya tidak tahu (bila Anda tahu jawabannya, bolehlah berbagi).

Di sini mulai terlihat sedikit pemahaman bahwa indikasi yang tersirat dari yang tersurat pada QS 53 An-Najm 13-15 adalah sidratulmuntaha terletak di kebun tempat tinggal (yang ditinggali/didiami) dan berlokasi di atas bumi. Karena itu, sidratulmuntaha adalah “pohon bidara terjauh/terakhir” yang lokasinya berada “di sisi/dekat kebun yang ditinggali/didiami” di suatu tempat di bumi sebagai lokasi turunnya sesuatu (makhluk).