Ridha Istri Setara Ridha Suami?

*Ridha Istri Setara Ridha Suami?*

Ketika membaca *QS 2 Al-Baqarah 233*, terbetik satu pertanyaan yang saya jadikan judul di atas.

Ayat di atas berbicara tentang “penyapihan” anak yang keputusannya memerlukan dua hal: “taradhin” (persetujuan) dan “musyawarah” antara suami-istri.

Kata “taradhin” pada QS 2 Al-Baqarah 233 diterjemahkan dengan “persetujuan” dan pada ayat yang lain diterjemahkan dengan “suka sama suka” (*baca:https://kitabdiri.com/2021/03/16/suka-sama-suka-adakah-di-dalam-alquran/*).

Jika dalam perkara “penyapihan” anak diperlukan taradhin antara suami-istri apakah di luar urusan penyapihan ini juga diperlukan taradhin antara suami-istri? Atau dalam ungkapan lain bisa diajukan pertanyaan ini: apakah seluruh atau setiap urusan/perkara dalam rumah tangga atau dalam relasi suami-istri diperlukan taradhin (persetujuan bersama/mutual consent)? Dapatkah konsep taradhin ini diperluas bukan hanya untuk “penyapihan” melainkan juga untuk seluruh urusan rumah tangga?

Jawaban “ya” atas pertanyaan-pertanyaan di atas memberi satu konsekuensi lanjutan dalam benak penulis, yaitu: jika demikian halnya, maka suami memerlukan “ridha” istri dan sebaliknya, istri juga memerlukan “ridha” suami bila ingin melakukan atau memutuskan suatu perkara dalam konteks rumah tangga atau relasi suami istri.

Bila kondisi di atas diterima, maka *ridha istri sama nilainya atau sama pentingnya dengan ridha suami*.

Gimana?

Untuk Kerabat, Apa yang Harus Dilakukan Menurut Alquran?

*Untuk Kerabat, Apa yang Harus Dilakukan Menurut Alquran?*

Secara umum, kita diperintah untuk *berbuat kebaikan* kepada *kerabat*: Berbuat baik kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin (2 Al-Baqarah 83).

Kerabat di sini adalah *orang-orang yang dekat dengan Anda* baik melalui jalur hubungan darah (keluarga) maupun kedekatan karena lokasi (tetangga) dan aktifitas (sejawat): Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabīl dan hamba sahaya yang kamu miliki (4 An-Nisa 36).

Hubungan Anda dengan kerabat adalah hubungan yang dilandasi dengan al-mawaddah (kasih sayang): Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), “*Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan*.” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (42 Asy-Syura 23).

Hubungan dengan kerabat yang dilandasi dengan kasih sayang tersebut diwujudkan dalam bentuk *”pemberian bantuan/dukungan”*: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (16 An-Nahl 90).

Alquran banyak menyebut pemberian bantuan atau dukungan tersebut diberikan dalam bentuk *material/finansial*.

Kerabat (dalam hal ini keluarga) memiliki bagian dari *harta waris* seperti yang Anda baca di ayat-ayat berikut: Lelaki dan perempuan memiliki hak bagian dari harta waris yang ditinggalkan oleh kedua orangtua dan kerabatnya (4 An-Nisa 7, 33). // Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (4 An-Nisa 8). // Wasiat (harta) untuk kedua orangtua dan karib kerabat (2 Al-Baqarah 180). // Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan (agama) dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah salat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, “Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.” (5 Al-Maidah 106).

Selain harta waris, kerabat (umumnya dipahami dengan kerabat Nabi Muhammad saw) juga berhak mendapatkan *harta rampasan perang*: Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (8 Al-Anfal 41). // Harta rampasan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, *agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu*. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya. (59 Al-Hasyr 7)

Lebih jauh lagi, Alquran menyebut bahwa *ada bagian dari harta Anda yang menjadi hak kerabat*: Harta yang diinfakkan (dibelanjakan) diperuntukkan bagi kedua orangtua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan (2 Al-Baqarah 215). // Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (17 Al-Isra 26). // Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang *mencari keridaan Allah*. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (30 Ar-Rum 38).

Bahkan harta yang Anda berikan itu termasuk ke dalam *harta yang Anda sukai, sayangi, atau cintai*: Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya (2 Al-Baqarah 177).

Bagaimana bila ada kerabat yang katakanlah *membuat Anda kecewa, sakit hati, atau tidak Anda senangi*? Apakah kerabat seperti itu boleh tidak diberi bantuan? Alquran menjawab: tidak. *Tetaplah memberi bantuan*: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka kalau Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (24 An-Nuur 22).

Meski Anda diperintah untuk berbuat baik kepada kerabat dengan memberi bantuan (finansial/material) yang dilandasi dengan kasih sayang (al-mawaddah), tidak berarti bahwa relasi dengan kerabat itu harus selalu dalam model “lemah-lembut”. Pada kondisi tertentu Anda diharapkan untuk:

(1) bersikap tegas dengan senantiasa memberi *peringatan* kepada kerabat: Berilah peringatan terhadap kerabat terdekat (26 Asy-Syuara 214).
(2) bersikap adil terutama bila harus menjadi saksi dalam suatu perkara: Tegakkan keadilan dengan menjadi saksi baik bagi diri sendiri, kedua orang tua, dan kerabat (4 An-Nisa 135). // Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat. (6 Al-Maidah 152).
(3) tidak memohonkan ampunan kepada kerabat yang “musyrik”: Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat-(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. (9 At-Tawbah 113)
(4) kita tidak bertanggungjawab atas perbuatan (buruk) kerabat kita: Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan salat. Barangsiapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali. (35 Fathir 18).

Setelah Anda mengetahui apa yang (se)harus(nya) Anda lakukan kepada kerabat ini *ternyata sangat berat atau menyusahkan*, maka Anda telah membuktikan pesan Alquran pada surah ke-90 Al-Balad ayat 12-16: (12) *Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?*, (13) (Yaitu) membebaskan budak (hamba sahaya), (14) atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (15) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, (16) atau orang miskin yang sangat fakir.

Suka-Sama-Suka, Adakah di Dalam Alquran

*Suka-Sama-Suka, Adakah di Dalam Alquran?*

Frasa ‘suka sama suka” atau “persetujuan bersama (mutual consent)” terlintas di lini masa (timeline) www.twitter.com beberapa waktu lalu. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari dalam Alquran dua frasa tersebut. Adakah?

Ternyata, ada!

Kedua frasa tersebut merupakan terjemahan dari kata “تَرَاضٍ” (taraadhin) yang terdapat pada QS 2 Al-Baqarah 233 dan 4 An-Nisa 29. Konteks pembicaraan “taraadhin” pada surah Al-Baqarah adalah “penyapihan” dan pada surah An-Nisa konteksnya adalah “perdagangan”.

Dari sini kita bisa mengurai pesan Alquran bahwa hubungan atau interaksi antar manusia perlu didasari oleh sikap “taraadhin” ini, yaitu “suka sama suka” atau “persetujuan bersama (mutual consent)”.

Dengan demikian, dalam konteks hubungan sesama manusia, kita sudah mengenali dua prinsip dasar, yakni:

(1) bahwa Allah *hadir* dalam *setiap interaksi antar manusia* (baca: https://kitabdiri.com/2021/03/16/hubungan-anda-dengan-sesama-manusia-senantiasa-dipantau-allah/), dan

(2) interaksi atau hubungan tersebut didasari “suka sama suka” atau “persetujuan bersama (mutual consent)” yang dalam istilah Alquran disebut “تَرَاضٍ” (taraadhin).

Sekarang kita lihat kehidupan kita sendiri (refleksi diri), apakah seluruh interaksi atau hubungan/urusan kita dengan orang lain didasari oleh kedua prinsip di atas atau masih ada jenis interaksi atau urusan yang belum didasari oleh salah satu atau kedua prinsip tersebut?

Apakah urusan kita dengan pekerjaan, kantor atau perusahaan sudah didasari oleh “taraadhin” atau belum? Apakah setiap transaksi keuangan (belanja, jualan) sudah didasari “taraadhin”? Dan seterusnya.

Hubungan Anda dengan Sesama Manusia Senantiasa Dipantau Allah

*Hubungan Anda dengan Sesama Manusia Senantiasa Dipantau Allah*

Pada *QS 58 Al-Mujadilah 7* kita membaca terjemahan ayat berikut:

Tidakkah engkau *perhatikan*, bahwa *Allah mengetahui* apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada *pembicaraan rahasia* antara tiga orang, melainkan *Dialah yang keempatnya*. Dan tidak ada lima orang, melainkan *Dialah yang keenamnya*. Dan tidak ada yang *kurang* dari itu atau *lebih banyak*, melainkan *Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada*. Kemudian *Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan*. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat di atas memberi pesan bahwa Allah tahu segalanya dan tidak ada yang bisa disembunyikan dari-nya karena *Allah bersama mereka di mana pun mereka berada*. Contoh kasus yang ditampilkan adalah “najwa”, yaitu pertemuan untuk membicarakan sesuatu yang sifatnya rahasia atau disembunyikan dari orang lain. Para pelaku “najwa” ini hendaknya menyadari bahwa bila mereka melakukannya bertiga, Allah adalah pihak keempat. Begitu pula bila jumlah pelaku najwa lebih dari tiga atau kurang dari tiga, Allah ada sebagai pihak yang *”ikut mendengarkan”*.

Pertanyaan: apakah hanya pada peristiwa “najwa” saja Allah hadir bersama para pelakunya? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Allah hadir dan bersama dengan manusia di mana pun manusia itu berada (QS 57 Al-Hadid 4) dan menyaksikan seluruh perbuatan manusia.

Dengan informasi tersebut di atas, Anda perlu melakukan dua hal, yaitu *membangunkan kesadaran* bahwa Allah *hadir* dalam *setiap interaksi Anda dengan orang lain* lalu *mempertahankan kesadaran* tersebut. Anda perlu melatih diri Anda agar sadar bahwa Allah bersama Anda, mengetahui seluruh perbuatan Anda, kemudian akan meminta pertanggungjawaban Anda nanti.

Luangkan waktu lebih kurang lima menit untuk membangunkan kesadaran ini. Anda bisa melakukannya dalam keadaan duduk bersila kemudian mengucapkan dalam hati bahwa Allah Sang Pencipta *ada*, *Dia meliputi* saya, kemudian nyatakan “aku menghadapkan diriku ke Pencipta langit dan bumi (inni wajjahtu wajhiya lillazi fatharas samawaati wal ardha…), lalu *sebut nama-Nya (zikrullah)*, lanjutkan dengan *memanggil-Nya (Yaa Allaah… Yaa Rahmaan…) sampai Anda merasakan respon-Nya (ijabah-Nya)*.

Lakukan sesering mungkin sampai Anda merasakan bahwa Allah senantiasa bersama, mengawasi, dan memberi petunjuk kepada Anda setiap saat (kondisi *ihsan*).

Untuk membantu pemahaman tentang kebersamaan Allah ini, silahkan pelajari ayat-ayat Alquran yang disajikan pada video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=zRpqZcZaTW0

Silahkan berkonsultasi bila menemukan kesulitan dalam memraktikkan latihan di atas.

Jalan Bertingkat Kehidupan Manusia

*Jalan Bertingkat Kehidupan Manusia*

Pada QS 84 Al-Insyiqaq 19 kita membaca ayat yang terjemahannya: sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).

Kata thabaq digunakan Alquran untuk memberi gambaran tentang langit yang “berlapis/bertingkat” (QS 67 Al-Mulk 3 dan 71 Nuh 15.

Kata “latarkabunna” terdiri dari:
(1) harf [huruf bermakna] – lam yang mengindikasikan adanya “sumpah”,

(2) tarkabu, kata kerja yang mengindikasikan “sedang terjadi”, dan

(3) harf [huruf bermakna] – nun yang mengindikasikan “penegasan” atas peristiwa “tarkabu”.

Kata tarkabu diambil dari akar kata ra-kaf-ba yang terulang sebanyak 15 kali dalam Alquran (https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=rkb) dengan rentang makna: menaiki, mengendarai, menunggangi, dan yang semakna.

Informasi yang kita ambil dari QS 84 Al-Insyiqaq 19 adalah: *kita benar-benar sedang naik/menunggangi tingkatan-tingkatan atau lapisan-lapisan*.

Sekarang coba lihat kehidupan yang sedang Anda jalani. Anda sekarang berada di tingkat/lapisan ke berapa? Dari tingkat/lapisan mana Anda sebelumnya? Dan akan ke tingkat/lapisan mana setelah ini?

Mari *dialogkan Alquran dengan dua jenis ayat Allah lainnya*, yaitu alam semesta dan diri sendiri.

Bila Anda melihat fase kehidupan satu siklus penuh Anda, yaitu *dari Allah menuju ke Allah*, maka Anda sekarang berada di tingkatan/lapisan kehidupan dunia di planet bumi. Sebelumnya, Anda berada di tingkat/lapisan kehidupan dalam rahim sebagai janin yang juga di planet bumi. Tingkatan/lapisan berikutnya yang akan Anda lalui adalah kehidupan di alam kubur/alam barzakh yang lokasinya di… planet bumi inikah?

Bila melihat fase kehidupan di bumi dari lahir hingga meninggalkan dunia, tingkatan/lapisan Anda bisa ditentukan dari usia biologis Anda. Apakah Anda berada pada tingkatan/lapisan remaja, dewasa, atau lanjut usia tergantung pada berapa usia Anda saat ini. Selain dari usia biologis, Anda juga bisa melihat posisi tingkatan/lapisan Anda dari sisi jiwa/nafs. Menggunakan kata-kata Alquran, nafs Anda bisa saja berada pada salah satu tingkatan berikut:(1) *ammarah bis-su’*, (2) *lawwamah*, atau (3) *muthmainnah*.

Lakum Dinukum waliya-Diin, Prinsip yang Dilanggar?

*Lakum Dinukum waliya-Diin, Prinsip yang Dilanggar?*

Pada QS 109 Al-Kafirun 6, kita membaca ayat yang terjemahannya: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Kalimat tersebut memberi penegasan terhadap batasan dalam ad-diin (agama) antara al-kaafirun dengan al-muslimun.

Al-kaafirun tidak “melayani” Tuhannya al-muslimun dan sebaliknya.

Apa yang dikerjakan oleh al-kaafirun menjadi tanggungjawab mereka dan apa yang dikerjakan oleh al-muslimun menjadi tanggung jawab bagi al-muslimun, seperti yang kita baca dalam QS 10 Yunus 41 yang terjemahannya: Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Al-muslimun *tidak dapat dipaksa* mempraktekkan ad-diin milik al-kafirun. Sebaliknya, al-kaafirun juga *tidak dapat dipaksa* mempraktekkan ajaran ad-diin oleh al-muslimun.

Pada konteks sosial-politik, secara historis, implementasi ajaran lakum dinukum waliya-diin ini bisa kita temukan jejaknya pada “Piagam Madinah” di mana Nabi Muhammad saw menetapkan *aturan agama berlaku untuk masing-masing penganut/pemeluknya* (وإنَّ يهود بني عوف أمة مع المؤمنين، لليهود دينهم وللمسلمين دينهم). Al-muslimun masa kini hendaknya tetap menghormati ajaran prinsip ini dalam berinteraksi dengan ummat lain.

Konsekuensinya, al-muslimun masa kini tidak boleh *memaksakan* ajaran ad-diin berkaitan dengan apa yang dianggap, misalnya, sebagai aurat dan wajib ditutup dengan sehelai kain kepada al-kaafirun meski ia berada dalam institusi pendidikan yang secara kebetulan dikuasai oleh al-muslimun.

Al-muslimun harus mengingat ini baik-baik: tidak boleh *memaksakan* ajaran ad-diin yang kita yakini kepada manusia yang tidak meyakininya. Tindakan *pemaksaan* bertentangan dengan ajaran prinsip Alquran dan juga menyalahi praktek atau “sunnah” Nabi Muhammad saw.

Jangan diulangi, ya, teman-teman!

Bagaimana Jika Sidratulmuntaha Ada di Langit?

 

Pada tulisan sebelumnya (baca: https://kitabdiri.com/2021/03/13/sidratul-muntaha-itu-pohon-di-bumi/) saya menyatakan sebuah indikasi bahwa sidratulmuntaha itu adalah pohon bidara terjauh/terakhir yang lokasinya berada di dekat atau sisi kebun yang ditinggali/didiami di suatu tempat di bumi sebagai lokasi turunnya sesuatu (makhluk).

Nah, pada tulisan ini saya ingin menjelajahi kemungkinan sidratulmuntaha berada di “langit” dan di “dekat surga”.

Untuk keperluan tersebut, saya dan Anda perlu membaca dengan seksama/teliti/cermat dan berdialog dengan Alquran surah ke 53 An-Najm ayat 1-18. Kita akan membaca terjemahan bahasa Indonesia dari ayat-ayat tersebut.

(1) Demi bintang ketika terbenam, (2) kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, (3) dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut keinginannya. (4) Tidak lain (Alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (5) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, (6) yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa). (7) Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. (8) Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, (9) sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). (10) Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. (11) Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (12) Maka apakah kamu (musyrikin Mekkah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? (13) Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (14) (yaitu) di Sidratilmuntahā, (15) di dekatnya ada surga tempat tinggal, (16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, (17) penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.(18) Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.

Secara keseluruhan, ayat-ayat tersebut berbicara tentang (1) penerima wahyu, (2) wahyu itu sendiri, (3) pengantar wahyu, (4) proses penerimaan wahyu, (5) penglihatan penerima wahyu terhadap pengantar wahyu dan apa yang dilihat oleh penerima wahyu adalah sebagian dari tanda-tanda Tuhan yang paling besar.

Perlu dicatat di sini bahwa kata Muhammad, Alquran, Jibril, musyrikin Mekkah, menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa), dalam rupanya yang asli, TIDAK ADA TEKS ARABNYA dalam Alquran. Mudah-mudahan kita ada waktu untuk membahas ini kemudian. Sekarang, kita pusatkan perhatian kita pada rangkaian pesan QS 53 An-Najm 1-18 untuk menemukan indikasi bahwa sidratulmuntaha itu ada di “langit dekat surga”.

Sidratulmuntaha dibahas pada ayat 13 hingga 17. Jika kita perhatikan dengan teliti terjemahannya, maka akan timbul pemahaman bahwa penerima wahyu melihat pengantar wahyu di sidratilmuntaha yang didekatnya ada “surga” tempat tinggal dan peristiwa “melihat” itu terjadi ketika sidtratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya sehingga pandangan atau penglihatan penerima wahyu “fokus atau terpusat” pada sidratulmuntaha tanpa berpaling atau melihat melampaui sidratulmuntaha itu.

Dalam ungkapan yang lain, perisitwa yang terjadi adalah “melihat”, pelakunya adalah penerima wahyu dan obyek yang dilihat adalah pengantar wahyu. Tempat atau lokasi terjadinya peristiwa penglihatan itu adalah di sisi/dekat (‘inda) sidratulmuntaha. Adapun sidratulmuntaha itu terletak di sisi/dekat (‘inda) jannah (surga/kebun) tempat tinggal atau jannah (surga/kebun) yang menjadi tempat untuk ditinggali/didiami. Bila sidratulmuntaha berada di langit dekat surga dan surga yang dimaksud adalah tempat yang Tuhan janjikan di hari kemudian, maka kita perlu menjawab pertanyaan berikut.

Pada terjemahan ayat ke-13 “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,” ada satu kata dalam teks Arab yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu kata (نَزْلَةً). Kata nazlat ini terjemahan Indonesianya adalah “turun”. Jika ayat ke-13 kita terjemahkan per kata, kita akan memeroleh terjemahan berikut: (وَلَقَدْ= dan sungguh), (رَآهُ=dia telah melihatnya), (نَزْلَةً=turun), (أُخْرَى=yang lain), “dan sungguh dia telah melihatnya turun yang lain” atau kalau kita perhalus terjemahan ini, kita bisa menulis “dan sungguh dia telah melihatnya turun [di waktu/kesempatan] yang lain.” Dengan menggunakan terjemahan per kata itu, kita mendapatkan satu gambaran bahwa pengantar wahyu TURUN ke dan dilihat oleh penerima wahyu dan lokasi turunnya pengantar wahyu dan terlihatnya ia oleh penerima wahyu adalah di sisi/dekat sidratulmuntaha. Di sini kita bertanya, jika benar pengantar wahyu TURUN ke sidratulmuntaha, berarti pengantar wahyu berasal dari tempat yang lebih tinggi dari sidratulmuntaha. Adakah tempat yang lebih tinggi dari sidratulmuntaha yang di “langit” sana? Padahal, pada catatan kaki Alquran terjemahan bahasa Indonesia, sidratulmuntaha disebut sebagai “tempat yang paling atas pada langit yang ke-7, yang telah dikunjungi Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- ketika Mi’raj”. Jika kita ambil pengertian sidratulmuntaha sebagai “tempat yang paling tinggi pada langit ke-7…” maka dari manakah pengantar wahyu itu TURUN ke sidratulmuntaha yang merupakan “tempat yang paling tinggi pada langit ke-7” itu? Adakah tempat yang lebih tinggi dari sidratulmuntaha di langit ke-7?

Sidratul Muntaha itu Pohon di Bumi?

Sidratul Muntaha itu Pohon di Bumi?

Kata sidratul muntaha disebutkan sebanyak satu kali dalam Alquran, yaitu pada surah ke-53 An-Najm ayat 14. Pada Alquran terjemahan bahasa Indonesia, kata sidratulmuntaha tidak diterjemahkan. Ia ditulis seperti kata aslinya dalam teks berbahasa Arab.

Namun, bila kita membaca terjemahan Alquran berbahasa Inggris, kita akan menemukan terjemahan dari frasa sidratulmuntaha, yakni (mayoritas penerjemah mengartikan sidratulmuntaha dengan) “(the) Lote Tree (of) the utmost boundary (dan terjemahan yang semakna)”.

Bila kita mengikuti terjemahan berbahasa Inggris, kata sidrat/sidrah diterjemahkan dengan “lote tree” yang dalam bahasa Indonesia berarti “pohon bidara”.

Menariknya, kata “(pohon) bidara” terulang sebanyak dua kali dalam terjemahan Alquran berbahasa Indonesia, yakni pada surah ke-34 Saba 16 dan surah ke-56 Al-Waqiah 28. Pada kedua ayat tersebut, kata “bidara” merupakan terjemahan dari kata “sidr” dalam teks asli Alquran.

Kata “sidrat/sidrah” dan “sidr” berasal dari akar kata sin-dal-ra yang terulang sebanyak lima kali dalam Alquran (https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=sdr).

Dalam ungkapan yang lain, kata “sidr” dalam terjemahan Alquran berbahasa Indonesia diartikan dengan “(pohon) bidara” sementara sidrah/sidrat tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun kalau kita membuka terjemahan Alquran berbahasa Inggris, kita akan menemukan kata “sidr” dan “sidrat/sidrah” diterjemahkan secara relatif konsisten dengan “lote tree” atau “pohon bidara”.

Adapun kata al-muntaha diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan “farthest limit” atau “the utmost boundary” yang memberi gambaran sebagai “batas terjauh/terakhir”. Sementara terjemahan al-muntaha dalam bahasa Indonesia adalah “kesudahan” yang bisa kita baca pada surah ke-53 An-Najm 42 (وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ).

Jadi, dalam Alquran terjemahan bahasa Indonesia kata sidratulmuntaha pada surah ke-53 An-Najm ayat 14 tidak diterjemahkan. Namun pada ayat-ayat yang lain kata sidr dan al-muntaha diterjemahkan dengan “(pohon) bidara” dan “kesudahan”.

Pertanyaan yang bisa kita ajukan adalah: apa makna sidratulmuntaha itu? Apakah “yang ada di langit sana” atau “pohon bidara di batas terjauh/terakhir atau pohon bidara kesudahan” yang ada di bumi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melanjutkan bacaan kita ke ayat 15 surah ke-53 An-Najm, yaitu (عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ) “di dekatnya ada surga tempat tinggal”. Nah, di sini terlihat bahwa sidratulmuntaha terletak di dekat “surga tempat tinggal”. Ini yang kita pahami kalau membaca terjemahan Alquran berbahasa Indonesia. Selesai persoalan, kan?

Tunggu dulu…

Kata “جَنَّةُ” bisa berarti “surga” dapat pula berarti “kebun”. Dalam Alquran terjemahan bahasa Indonesia, kata jannah diartikan “kebun” bila konteks pembicaraan ayat tersebut adalah kehidupan di bumi/dunia dan diterjemahkan dengan “surga” bila konteks pembicaraan ayatnya adalah kehidupan di hari kemudian/akhirat (http://quran.bblm.go.id/?id=72727&test=lewat#11).

Bagaimana caranya kita mengetahui konteks pembicaraan “sidratulmuntaha di dekatnya ada surga/kebun tempat tinggal” pada QS 53 An-Najm 14-15? Apakah konteksnya di akhirat sehingga kata surga lebih cocok atau di bumi/dunia sehingga kata kebun lebih cocok sebagai terjemahan “جَنَّةُ”?

Ada satu kata dalam QS 53 An-Najm 13 yang bisa kita jadikan petunjuk, yaitu kata “نَزْلَةً”. Teks ayat QS 53 An-Najm 13 adalah (وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ). Kata “nazlat/nazlah” artinya “turun”. Sayangnya, kata “nazlat” pada QS 53 An-Najm 13 tidak diterjemahkan dalam terjemahan Alquran berbahasa Indonesia!

Kalau kita baca rangkaian ayat pada QS 53 An-Najm ayat 13-15, akan ditemukan satu pemahaman bahwa ada “sesuatu” yang “turun” di sisi/dekat “sidratulmuntaha” yang “di dekatnya ada surga/kebun tempat tinggal”. Kata “turun/nazlat” mengindikasikan bahwa ada gerakan dari suatu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Nah, bila “jannat” dimaknai sebagai “surga” maka “tempat apakah yang lebih tinggi dari surga”? Lalu, jika “jannat” dimaknai sebagai “kebun” maka “tempat apakah yang lebih tinggi dari kebun (di bumi)”? Jawaban untuk pertanyaan kedua adalah “langit”. Apa jawaban atas pertanyaan pertama? Entahlah saya tidak tahu (bila Anda tahu jawabannya, bolehlah berbagi).

Di sini mulai terlihat sedikit pemahaman bahwa indikasi yang tersirat dari yang tersurat pada QS 53 An-Najm 13-15 adalah sidratulmuntaha terletak di kebun tempat tinggal (yang ditinggali/didiami) dan berlokasi di atas bumi. Karena itu, sidratulmuntaha adalah “pohon bidara terjauh/terakhir” yang lokasinya berada “di sisi/dekat kebun yang ditinggali/didiami” di suatu tempat di bumi sebagai lokasi turunnya sesuatu (makhluk).

Kata Mi’raj Tidak Ada dalam Alquran

 

Mi’raj berasal dari akar kata ain-ra-jim dalam bahasa Arab.

Kata mi’raj tidak tercantum dalam Alquran tetapi akar kata ain-ra-jim ada dan terulang sebanyak sembilan kali dalam Alquran dengan tiga bentuk/jenis kata (https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=Erj).

Dalam surah ke-70 Al-Ma’arij kita membaca dua ayat berikut:
مِّنَ ٱللَّهِ ذِى ٱلْمَعَارِجِ(3)
تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍۢ (4)

(3) (Azab) dari Allah, yang memiliki tempat-tempat naik.(4) Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.

Dengan membaca dua ayat di atas, kita mendapatkan informasi bahwa Allah memiliki al-ma’arij yang diterjemahkan dengan “tempat-tempat naik” bahkan pada surah ke-43 Az-Zukruf 33 kata al-ma’arij diterjemahkan dengan “tangga-tangga” dan yang menggunakannya adalah para malaikat dan al-Ruh yang diterjemahkan dengan Jibril.

Pada surah ke-32 As-Sajdah 5 ditemukan tambahan penjelasan bahwa al-Amr yang diterjemahkan dengan “urusan” juga naik ke Allah: يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍۢ مِّمَّا تَعُدُّونَ, Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Karena “tempat-tempat naik atau tangga-tangga” (al-ma’arij) itu milik Allah, maka Dia mengetahui apa saja yang naik seperti yang kita baca dalam surah ke-34 Saba 2 dan surah ke-57 Al-Hadid 4. Dan Allah bisa membuka tempat-tempat naik tersebut seperti yang kita baca dalam surah ke-15 Al-Hijr 14-15: (14) Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, (15) tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.”

Membaca surah ke-15 ayat 14-15 bisa menimbulkan pemahaman bahwa bisa saja atau mungkin saja manusia dibukakan pintu langit dan naik melalui “tempat-tempat naik atau tangga-tangga” (al-ma’arij). Hanya saja, kalau kita mencari dasar/dalil tentang kejadian mi’raj Nabi Muhammad saw ke langit dalam Alquran niscaya kita tidak akan menemukannya.

Surga Dunia untuk Muslim

Pandangan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak bisa menikmati kehidupan rasa surga di bumi ini dan saat ini merupakan sebuah kekeliruan.

Alquran menyebut bahwa orang yang berbuat baik dan (dalam keadaan) beriman hidup dalam kondisi kehidupan (hayatan) yang thayyibah (baik). Hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) inilah surga dunia bagi Muslim. Pandangan ini bisa dibaca dengan teliti dalam Alquran surah ke-16 An-Nahl 97. Muslim tidak perlu percaya terhadap anggapan bahwa dirinya tidak bisa menikmati kehidupan ala dan rasa surga sekarang saat masih hidup di dunia.

Silahkan baca Alquran Anda dengan teliti/cermat.

Anda akan menemukan bahwa Allah membolehkan banyak sekali “hal-hal yang baik” (QS 5:4,5,87; 7:157).

Anda juga diberi tempat hidup di negeri/kampung/lingkungan yang baik (QS 7:58; 34:15) kalau sesekali kebanjiran atau terkena bencana alam, ya bersabarlah. Toh lebih sering kita menikmati udara/cuaca yang bersahabat, anginnya “enak” (QS 10:22) asal jangan sampai anginnya masuk ke badan.

Kesabaran Anda atas berbagai bencana dan kesulitan hidup selalu disertai Allah dengan rezeki (pemberian Allah) yang baik (QS 7:32; 8:26; 10:93; 16:72; 17:70; 40:64; 45:16). Bentuknya bisa berupa makanan yang baik (QS 2:57,168,172; 5:88; 8:69; 16:114; 20:81; 23:51), pasangan hidup (dan kehidupan keluarga) yang baik (QS 24:26) hingga akhir hidup Anda pun baik (QS16:32)

Jadi, tinggalkan anggapan bahwa kenikmatan kehidupan di bumi ini hanya untuk orang kafir. Anda yang Muslim juga berhak, kok. Ditambah lagi, setelah Anda meninggalkan kehidupan ala dan rasa surga di bumi ini, Anda masih akan hidup dalam surga (QS 9:72; 61:12).

Lantas, bagaimana cara menikmati “kehidupan baik” ini sekarang?

https://www.youtube.com/channel/UCcnmTOUabCHf9VzCRahqYTg