Islam dan Perilaku Kekerasan

 

Setiap kali ada aksi “teror” atau kekerasan (pembunuhan secara sadis) yang dilakukan oleh muslim, ramai tanggapan bermunculan.

Biasanya, tanggapan dari sisi muslim yang mengecam/tidak setuju atas perbuatan tersebut adalah penyangkalan. Muslim akan menyangkal “agama” para pelaku, bahwa pelaku tindak kekerasan atau teror tersebut bukan seorang muslim atau tidak beragama Islam atau menyatakan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan (pembunuhan secara sadis).

Sumber primer ajaran Islam memuat “perintah” untuk melakukan kekerasan (baca:pembunuhan). Entah itu pada Alquran atau pada hadis, teks untuk melakukan tindak kekerasan itu ada. Anda bisa menggunakan kata kunci “bunuh” (dan variasi kata yang senada) pada kolom pencari di aplikasi Alquran atau hadis yang banyak tersedia untuk menemukan bahwa ada ajaran Islam yang berkaitan dengan (perintah melakukan tindak) kekerasan ini.

Jadi, penyangkalan sebagian muslim bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan itu terbantahkan dengan sendirinya. Sumber primer Islam “mengajarkan” tindak kekerasan.

Bila seorang yang secara nyata/jelas melaksanakan/mempraktekkan ajaran dasar Islam sehari-hari kemudian melakukan tindak kekerasan, ia tidak bisa serta-merta dinyatakan sebagai bukan muslim hanya karena melakukan tindak kekerasan yang keji. Ia adalah seorang muslim yang sedang atau telah melakukan tindak kekerasan yang keji. Tidak perlu disangkal; diakui saja bahwa ia seorang muslim yang melakukan tindak kekerasan berdasarkan ajaran Islam yang ia anut.

Ada dua fakta yang dikemukakan di sini: pertama, Islam mengajarkan tindak kekerasan, dan, kedua, ada muslim yang mempraktekkan ajaran kekerasan itu. Membantah dua fakta ini merupakan suatu kesia-siaan. Muslim cukup mengakui fakta ini.

Ada fakta lain yang perlu disebut di sini. Dari sisi kuantitas, jumlah muslim yang mempraktekkan ajaran kekerasan ini sangat sedikit. Mayoritas muslim tidak mempraktekkan ajaran kekerasan yang terdapat dalam teks primer ajaran Islam. Entah karena tidak tahu atau tahu tapi memilih untuk tidak mempraktikkannya.

Sampai di sini, kita dapat tiga keadaaan: (1) ada teks tentang kekerasan pada sumber pokok ajaran Islam, (2) ada muslim yang mempraktekkan ajaran tersebut, dan (3) banyak muslim yang tidak mempraktekkan ajaran kekerasan tersebut.

Bagi muslim yang ingin atau sedang atau malah telah mempraktikkan ajaran kekerasan, Anda tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatan kekerasan Anda itu, baik di pengadilan dunia maupun di pengadilan akhirat nanti. Keputusan Anda melakukan tindak kekerasan atas nama agama kemungkinan salah. Bisa jadi ajaran melakukan tindak kekerasan itu “benar” namun pada saat Anda mempraktikkannya, Anda terjatuh pada kekeliruan/kesalahan yang fatal yang harus Anda pertanggungjawabkan. Anda bisa salah pada pemilihan konteks, waktu, lokasi, korban, dan modus/metode. Belum lagi kalau motif Anda melakukan tindak kekerasan ternyata dipengaruhi hawa nafsu Anda, celaka dua belas Anda!!!

Bagi muslim yang memilih tidak mempraktikkan ajaran kekerasan, Anda perlu bersuara (dengan cara, salah satunya, membagikan tulisan ini) mencegah muslim lain dari melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Beritahu mereka untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mematuhi hukum yang berlaku di negara ini dengan cara mengikuti/melalui seluruh proses hukum yang berlaku (kepolisian/kejaksaan-pengadilan-mahkamah agung) serta menghormati dan mematuhi hasil/putusan yang dikeluarkan.