Ibadah Kemanusiaan

Perbuatan yang dilakukan karena Allah dan untuk Allah (lillahi ta’ala, ikhlas) dalam bentuk me-manusia-kan manusia, yaitu diri sendiri kemudian orang lain merupakan pengertian ibadah kemanusiaan.

Me-manusia-kan adalah tindakan mencapai dan menjaga harkat dan martabat sebagai seorang manusia, yaitu: (a) tidak memperlakukan diri maupun orang lain laksana hewan atau diperlakukan seperti hewan, dan (b) tidak memperlakukan diri maupun orang lain laksana tuhan/dewa/manusia suci.

Bekerja/beribadah untuk menumbuhkembangkan diri hingga ke taraf “sempurna/matang/dewasa” kemudian membantu orang lain agar tumbuh dan berkembang ke taraf yang sama.

Ibadah kemanusiaan kita dimulai dari diri sendiri dengan cara menumbuhkembangkan potensi (minat dan bakat) diri melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan (belajar dan berlatih) agar mampu meraih taraf “sempurna/matang/dewasa”.

Obyek yang dipelajari dan dilatih adalah jiwa (kalbu/minda dan ruh) serta raga. Sasaran yang ingin dicapai pada pendidikan dan pelatihan jiwa adalah “jiwa tenang” (nafs al-muthmainnah, lihat QS 89 Al-Fajr 27-30). Adapun sasaran yang ingin dicapai pada pendidikan dan pelatihan raga adalah sehat-bugar-afiat.

Dengan kondisi jiwa tenang dan raga sehat-bugar-afiat, kita melakukan kerja “memakmurkan bumi”(lihat QS 11 Hud 61 dan QS 30 Ar-Ruum 9)¬†yang merupakan bentuk pelaksanaan tugas sebagai khalifah di bumi (lihat QS 2 Al-Baqarah 30, QS 38 Shad 26, QS 35 Faathir 39). Kegiatan memakmurkan bumi meliputi mengolah dan mengelola bumi beserta makhluk yang hidup di dalamnya.