Kitab Suci Berbahasa Daerah, Kenapa Khawatir?

Beberapa hari yang lalu, tersiar kabar salah seorang Gubernur di pulau Sumatra menyurati Menteri Komunikasi dan Informatika (28 Mei 2020) meminta agar salah satu aplikasi kitab suci berbahasa daerah dihapus dari layanan distribusi digital Play Store.

Dari sudut pandang seorang Muslim, informasi tersebut bisa dipandang dari beberapa sisi.

Dari sisi Allah, keimanan manusia tergantung pada keputusan-Nya. Dia menentukan siapa yang beriman kepada-Nya dan siapa yang tidak. Dia memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki (baca QS 2 Al-Baqarah 213 : وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ , yang artinya: dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki).

Dari sisi manusia, keimanan kepada Tuhan merupakan hasil atau buah dari perjalanan spiritual dalam bentuk perenungan dan pencarian kebenaran atau jati diri. Perjalanan spiritual ini digambarkan secara simbolik dalam kisah Nabi Ibrahim yang termaktub dalam Alquran surah 6 Al-An’am ayat 75-79.

Bagi pemuka agama, menyiarkan kebenaran yang diyakini merupakan tugas yang dianggap mulia dan berbuah keridhaan Tuhan.

Pemuka agama tentu menyadari bahwa keimanan saudara-saudaranya sesama Muslim bergantung kepada Allah semata.

Seorang Muslim meyakini Alquran merupakan kitab yang benar/asli (haqq) dari Allah, Al-Haqq. Keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan tidak akan digoyahkan oleh ide/pemikiran/informasi dari kitab mana pun.

Seorang Muslim yang memahami Alquran tidak khawatir atau takut berhadapan dengan kitab suci lain. Hanya orang kafir saja yang takut kepada Alquran seperti yang tergambar pada QS 41 Fushshilat 26: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ  , yang artinya: Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”) bukan sebaliknya.

Menjadi tugas para pemuka agama untuk menyebarluaskan informasi yang meyakinkan bahwa Alquran adalah haqq yang berasal atau datang dari Al-Haqq sehingga tidak lagi mengkhawatirkan hadirnya kitab suci lain dalam bahasa apapun.

Upaya tersebut tentu dibarengi dengan mengajukan permohonan kepada Allah agar dirinya dan saudara-saudaranya sesama Muslim tetap dianugerahi hidayah (baca QS 3 Ali Imran 8: رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا  , yang artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami).

Dengan pemahaman dan kesadaran bahwa keimanan itu merupakan hak mutlak Allah lalu dibarengi dengan upaya-upaya tersebut di atas, pemuka agama seharusnya tidak perlu khawatir bila saudara-saudaranya “terpapar” kitab suci agama lain.

Terakhir, jumlah atau kuantitas bukanlah ukuran superioritas berdasarkan petunjuk Alquran pada surah 8 Al-Anfal ayat 65-66.

Rumusan Doa Keselematan Rumah Tempat Tinggal

Rumusan doa yang digunakan untuk keselamatan dan kesejahteraan rumah dan penghuninya.

—Update 20 April 2021——————————————

Basmalah, salawat, istighfar, al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas

1. Berkahilah rumah ini, apa saja yang ada di sekeliling rumah ini, dan apa saja yang ada di dalamnya. (allahumma baarik hazal bayta wa ma hawlahu wa maa fihi)

2. Jadikanlah rumah ini tempat berteduh yang sejuk, teduh, dan nyaman bagi para penghuninya. (allahuma ‘j’al hazal bayta bardan wa salaman [21:69] ala ahlihi)

3. Lindungilah rumah ini dan penghuninya dari berbagai musibah, marabahaya, (jannib wahfadz hazal bayta/almanzila min kulli syarrin wa balaain wa makruhin)

——————————————————end.

Perjanjian dengan Allah untuk tidak menumpahkan darah dan tidak mengusir atau mengeluarkan orang dari rumahnya (QS Al-Baqarah 2:84). Aqrarna/ naqraru an la nusfiq dimaa baynana wa la nukhrij anfusanan min diyarina. La tukhrijna min diyarina.

QS Al-An’am 6: 32 , وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِب ٌ وَلَهْو ٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْر ٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
, waj’al daarana….

QS 6 Al-An’am 127 : لَهُمْ دَارُ السَّلاَمِ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَ

How Do We Interact With The Quran

Quran is sent down in the Ramadhan.

To interact with the Quran, we must:

First, listen to the Quran when it is being recited.

at the end of surah/chapter 7 Al-A

Secondly, recite the Quran

Thirdly, learn or study the Quran

Fourthly, apply its guidance in our daily life.

Alquran dan Diskriminasi Karena Ras

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

We have certainly honored the children of Adam and carried them on the land and sea and provided good things for them, and We favored them over much of what We created, with decisive preference.

Surat al-Isra’ 17:70

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

O people, We have created you male and female and made you into nations and tribes that you may know one another. Verily, the most noble of you to Allah is the most righteous of you. Verily, Allah is knowing and aware.

Surat al-Hujurat 49:13

 

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Among His signs is the creation of the heavens and the earth and the diversity of your languages and your colors. Verily, in that are signs for people of knowledge.

Surat al-Rum 30:22

(https://abuaminaelias.com/islam-against-racism-bigotry/)

Manusia mengelompokkan diri mereka berdasarkan perbedaan-perbedaan yang nampak. Dalam satu pengertian, ras adalah pengelompokan manusia berdasarkan perbedaan pada aspek fisik atau tubuh, terutama pada warna kulit.

Pengelompokan ini sejatinya bukan merupakan suatu masalah jika tidak diiringi dengan perbedaan perlakuan terhadap manusia yang memiliki warna kulit yang berbeda.

Sayangnya, seringkali kita melihat tindakan membedakan perlakuan terhadap sesama manusia justru karena warna kulitnya. Inilah diskriminasi ras. Wujudnya adalah merendahkan manusia lain yang memiliki warna kulit yang berbeda dan pada saat yang sama meninggikan atau mengagungkan manusia lain karena kesamaan warna kulit.

Alquran membagi manusia berdasarkan perbuatannya. Inilah garis pembeda antara Alquran yang menjadi sumber ajaran atau ideologi Muslim dengan ajaran atau ideologi lainnya.

Saking kerasnya penekanan pada perbuatan, sampai-sampai Alquran memerintahkan untuk berbuat atau berlaku adil kepada atau terhadap manusia lain yang kita benci atau tidak sukai (baca: QS Almaidah 8).

Alquran menolak ras sebagai ukuran kemuliaan dan sebagai gantinya, Alquran menawarkan perbuatan atau tindakan seseorang sebagai tolok ukur kemuliaannya. Perbuatan atau tindakan manusia yang dianggap mulia dihimpun oleh Alquran ke dalam satu istilah, yaitu takwa.

Alquran menjadikan perbuatan takwa sebagai ukuran kemuliaan seorang manusia, dan yang paling mulia di antara seluruh manusia adalah yang paling bertakwa (baca QS Alhujuraat 13), bukan yang paling “putih”, “hitam”, atau “kuning”. Sementara perbuatan yang menjadi lawan dari takwa adalah fajir (baca QS 38:28 ; 91:8 ; 71:27 ; 80:42).

 

Tonton versi videonya di https://www.youtube.com/watch?v=NQndhY4kxmk