Corona dan Ulil Amri

COVID-19 yang merupakan varian baru dari virus Corona tengah mewabah di banyak negara termasuk Indonesia.

Atas pandemi ini, pemerintah selaku ulil amri telah menetapkan berbagai kebijakan baik untuk mencegah penyebaran  maupun menangani warga yang positif membawa virus COVID-19 ini.

Namun,  dalam berbagai pemberitaan, masih ada kelompok muslim yang tidak mematuhi upaya pencegahan yang ditetapkan ulil amri Indonesia dengan tetap menggelar berbagai kegiatan yang mengumpulkan massa atau jamaah bahkan dalam jumlah yang relatif besar.

Perbuatan tersebut tentu tidak selaras dengan tuntunan Alquran yang telah menetapkan kepatuhan kepada ulil amri, yaitu pemerintah (baca, pelajari, dan renungkan ayat ke-59 surah keempat,  Annisa).

Selanjutnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI)  di beberapa daerah yang oleh ulil amri pemerintah telah diumumkan memiliki pasien positif COVID-19 juga telah mengeluarkan fatwa tentang pelaksanaan salat Jumat secara berjamaah di masjid yang diganti dengan salat zuhur di rumah masing-masing.

MUI merupakan ulil amri dari aspek keagamaan. Karenanya,  wajar bila kita mengikuti fatwa yang keluar dari mereka berkaitan dengan kasus COVID-19 ini terlepas dari apapun yang kita rasakan terkait dengan “larangan” melakukan salat Jumat di masjid.

Dokter dan tenaga medis lainnya di berbagai fasilitas kesehatan merupakan ulil amri di sisi kesehatan.  Menghormati dan mematuhi anjuran dan larangan yang berasal dari mereka dan institusi kesehatan (rumah sakit misalnya) merupakan tindakan yang selaras dengan Alquran. Larangan membesuk pasien yang sedang dirawat di fasilitas kesehatan sebaiknya dipatuhi demi maslahat bersama.

Corona telah menjadi batu ujian ketaatan kita kepada para ulil amri. Dan bukankah taat patuh kepada ulil amri merupakan bentuk ibadah yang juga diganjar pahala?

Semoga mencerahkan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *