Inilah Aku 2: Rintangan

Rintangan dalam hidup atau bisa juga disebut dengan masalah dalam kehidupan terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu (1) lingkungan yang mengekang kebebasan (terpenjara), (2) kegagalan dalam mencapai, meraih, mewujudkan impian, tujuan atau cita-cita hidup, dan (3) stress atau kondisi tidak bahagia.

Itulah tiga jenis kesulitan hidup yang kita alami sehari-hari yang merintangi kita meraih impian dan menjadi jarak atau jurang pemisah antara kita dan impian atau cita-cita kita.

Jarak antara Anda dengan impian Anda adalah “rintangan”: kesulitan, masalah, dan sejenisnya.

Rintangan ini sumbernya ada dua. Pertama dari dalam diri Anda sendiri. Kedua dari lingkungan sekitar Anda.

“What does not kill you makes you stronger”

عش كريما و مت شهيدا

 

Tiga Sifat Rintangan

Rintangan yang berada di depan kita:

(1) tidak selamanya ada dan tidak akan terus berada di sana; ia pasti berlalu, seperti badai. Sedahsyat apa pun sebuah badai yang sedang menerjang, ia pasti berlalu.

Rintangan bersifat sementara

(2) ia hanya mengganggu atau menghalangi satu atau sedikit aspek hidup dan kehidupan kita. Rintangan bersifat “lokal”, hanya memengaruhi sedikit aspek kehidupan kita. Hanya karena kita putus sekolah atau hanya tamatan sekolah dasar, tidak berarti kita sama sekali terhalangi dari atau tidak bisa memperoleh pekerjaan dan sukses dalam hidup.

(3) rintangan bisa berasal dari dalam diri bisa juga dari luar diri. Ia tidak harus selalu berasal dari dalam diri sehingga kita depresi, stress, atau berpikir bahwa kita tidak berguna hingga berpikir dan beniat mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Di sisi lain, rintangan juga tidak harus berasal dari luar sehingga kita enggan untuk melihat ke dalam diri dan mengoreksi atau memperbaiki yang keliru atau kurang pada diri kita.

Rintangan 1: Lingkungan

Lingkungan sekitar kita dapat menjadi rintangan. Lingkungan yang dimaksud bisa berupa manusia di sekeliling kita baik yang jauh maupun yang dekat dan memiliki hubungan kekerabatan. Lingkungan juga bisa berarti kondisi ruang, lokasi, tempat kita berada, bekerja, tinggal menetap.

Kapan lingkungan menjadi rintangan?

Ketika lingkungan membelenggu kebebasan kita. Ada perasaan tidak bebas untuk: membuat keputusan sendiri, memilih tujuan, impian, keinginan, serta kebebasan bekerja atau berusaha untuk mewujudkan impian.

 

Bila lingkungan kita saat ini menjadi penghalang atau rintangan, ada empat hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rintangan dan mengubah lingkungan menjadi penyokong keberhasilan kita.

Pertama, tulus. Bersikaplah tulus apa adanya terhadap orang lain yang berada di sekitar kita. Sikap tulus ini berlaku di mana pun kita sedang berada. Jangan menyimpan niat buruk terhadap lingkungan terutama orang-orang yang ada di dalamnya. Kita perlu menampakkan apa yang ada pada diri kita (pikiran, perasaan) tanpa harus melanggar norma kesantunan dan adab atau tata krama yang berlaku di lingkungan tersebut.

Kedua, adaptasi. Sesuaikanlah diri dengan kondisi sekitar. Penyesuaian diri ini berarti mengubah pikiran, perasaan, sikap, pandangan, ucapan, perbuatan kita agar sesuai atau cocok dengan suasana atau kondisi lingkungan sekitar. Kita bisa mengubah diri kita agar sesuai dengan lingkungan. Tentu saja perubahan yang dimaksud tidak terkait dengan prinsip-prinsip hidup yang dipegang, diyakini atau diimani.

Ketiga, ubah suasana lingkungan. Kita bisa mengubah suasana, kondisi, situasi lingkungan sekitar termasuk orang-orangnya agar sesuai atau cocok dengan selera atau keinginan kita. Ketika kita sadar bahwa lingkungan sedang tidak mendukung, usahakan untuk mengubah suasana atau kondisi lingkungan kita agar menjadi penyokong utama dalam meraih kebebasan untuk berkarya.

Keempat, hijrah. Tinggalkan atau pindahlah dari lingkungan yang merintangi kita bila kita tidak mampu atau tidak berhasil beradaptasi dan mengubah lingkungan. Cari dan dapatkan lingkungan yang bisa membuat kita tumbuh dan berkembang (memberi kita ruang untuk memutuskan sendiri) serta memilih dan berupaya mewujudkan impian.

Rintangan 2: Kegagalan

Kegagalan adalah situasi di mana kita berhenti atau menyerah untuk berusaha.

Takkala kita berusaha untuk meraih sesuatu namun tidak berhasil, kita punya dua pilihan: berhenti atau tetap terus berusaha dan berupaya agar sesuatu yang kita inginkan itu bisa kita raih atau wujudkan.

Perhatikan sebuah tim olahraga yang sedang bermain. Apa yang membedakan antara satu tim yang sukses dengan tim yang gagal?

Salah satu letak perbedaan mendasar dan mencolok antara tim yang sukses dan yang gagal adalah kegigihan usaha dan upaya mereka hingga menit terakhir. Tim yang tetap berusaha dengan gigih hingga detik terakhir akan mendapat apreasiasi luar biasa dari penonton meski tim tersebut kalah.

Contohlah tim olahraga yang menunjukkan kekuatan tekad hingga menit terakhir. Mereka tetap berusaha membuat skor hingga peluit berbunyi.

Sebuah tim bisa saja gagal atau kalah dalam beberapa pertandingan namun sukses memenangi kejuaraan.

Di sisi lain, orang yang gagal adalah ia yang menyerah atau berhenti berusaha.

Orang gagal adalah mereka yang, selain mudah menyerah, ia juga kehilangan arah dalam hidup, tidak punya tujuan yang jelas sehingga menimbulkan kesan ia menjadi malas menjalani hidup.

Pada sisi yang berbeda, orang bisa gagal justru karena terlalu keras berusaha, terkesan memaksakan diri, berlebihan, tidak terkendali dalam bertindak, atau bertindak di luar nalar atau akal sehat untuk mewujudkan keinginannya. Kondisi ini disebut obsesi.

Orang yang obsesif cenderung gagal mencapai impian atau tidak sempat menikmati impian yang dicapai karena sudah terlebh dahulu “hancur” akibat usahanya yang terlampau berlebihan dan di luar nalar.

Untuk mengatasi kegagalan, lakukan tiga tindakan berikut:

(1) belajar. Agar kita tidak mudah menyerah, kita tidak boleh berhenti belajar, mencoba, bereksperimen, mencari cara-cara baru, berinovasi. Kita tidak bakalan sukses bila terus menggunakan cara yang sama dengan mengharapkan hasil yang berbeda. Bersikaplah adaptif dan luwes atau fleksibel ketika memecahkan masalah yang menghadang.

(2) bekerjasama. Libatkan orang lain dalam usaha kita agar sukses.

(3) berbagi pengalaman. Temukan orang yang sudah melalui apa yang sedang atau akan kita lalui. Temuilah orang-orang sukses di bidang kita jalani. Dengarkanlah mereka. Ambillah pelajaran dari mereka.

(4) gunakan logika dan kreatifitas ketika menghadapi rintangan di hadapan kita.

Rintangan 3: Stress atau Kondisi Tidak Bahagia

Stress atau kondisi tidak bahagia ditandai dengan hadirnya amarah atau kecemasan. Orang yang mudah marah dan cemas adalah orang tidak dalam kondisi bahagia alias sedang stress.

Marah dapat dipicu oleh kejadian yang menimbulkan rasa sakit, baik di badan maupun di dalam hati atau dapat terpicu ketika kebutuhan diri tidak terpenuhi.

Adapun kecemasan dapat muncul disebabkan telah kehilangan sesuatu atau rasa percaya diri sedang berada dalam titik yang rendah atau kurang percaya diri.

Dalam ungkapan lain, terdapat empat hal yang membuat orang tidak bahagia atau stres, yakni (1) tersakiti, (2) kebutuhan atau keinginan tidak terpenuhi, (3) kehilangan sesuatu, dan (4) kurang atau rendahnya kepercayaan diri. Dua sebab pertama memicu amarah. Dua yang terakhir memicu kecemasan. Orang yang sedang marah atau cemas inilah yang disebut orang yang stres atau sedang tidak bahagia.

Apa tanda seseorang sedang tidak bahagia?

(1) cemburu

(2) melakukan pembalasan dendam

(3) mengeluh, mengungkapkan kekhawatiran

(4) menganggap diri sebagai korban

(5) depresi: terlalu banyak berpikir tanpa disertai dengan tindakan

(6) impulsif: bertindak tanpa didahului dengan pertimbangan atau berpikir rasional.

(7) adiktif: menghabiskan waktu yang berlebihan untuk suatu perilaku atau dengan suatu barang, bukan sebagai hobi tetapi karena mereka merasa harus melakukannya.

 

Cara mengatasi stress atau perasaan yang tidak bahagia adalah:

(1) bekerja memenuhi kebutuhan diri lalu membaginya kepada orang lain.

(2) berani melakukan hal benar, positif, dan membangun.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *