Hasbuna Kitab Allah

Salah satu penggalan cerita hari-hari akhir hayat nabi Muhammad saw yang kurang populer adalah peristiwa di mana Nabi saw hendak menuliskan sesuatu namun dicegah oleh Umar bin Khattab.

Kisah ini termuat di dalam kitab-kitab hadits dan bisa dilihat di situs sunnah.com pada tautan ini.

Takkala rasa sakit Nabi saw bertambah (لَمَّا اشْتَدَّ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَجَعُهُ), beliau meminta didatangkan ‘kitab’ dan beliau hendak menulis sebuah tulisan (قَالَ ‏”‏ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ ‏”)

Hanya saja, Umar bin Khattab mengeluarkan pernyataan bahwa Nabi saw dalam kondisi sakit parah dan kita (kaum muslimin saat itu) memiliki kitab Allah dan kita merasa cukup dengan kitab tersebut (dan karenanya tidak lagi memerlukan kitab lain). Pernyataan Umar ini direspon beragam oleh para sahabat sehingga terjadi keributan padahal mereka sedang berada di sekitar Nabi saw yang sedang sakit (قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ).

Mengalami peristiwa tersebut di tengah rasa sakit yang dideritanya, Nabi saw lantas meminta para sahabatnya untuk keluar meninggalkan beliau (قَالَ ‏”‏ قُومُوا عَنِّي، وَلاَ يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ ‏”).

Apa yang bisa dibaca dari keterangan tersebut?

Pertama, Nabi saw bisa menulis(?)

Kedua, Umar menganggap ummat Islam telah memiliki satu kitab sebagai pedoman yaitu Kitab Allah (Alquran) dan ummat tidak memerlukan kitab lain selain Alquran.

Ketiga, Pendapat Umar tidak disepakati oleh seluruh sahabat yang hadir pada saat itu. Ketidaksepakatan ini kemungkinan alot karena sampai membuat Nabi saw menyuruh para sahabatnya untuk keluar meninggalkannya.

 

 

 

++++++

 

Sumber:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ لَمَّا اشْتَدَّ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَجَعُهُ قَالَ ‏”‏ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ ‏”‏‏.‏ قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ‏.‏ قَالَ ‏”‏ قُومُوا عَنِّي، وَلاَ يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ ‏”‏‏.‏ فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَبَيْنَ كِتَابِهِ‏.‏
 Ibn `Abbas said, “When the ailment of the Prophet (ﷺ) became worse, he said, ‘Bring for me (writing) paper and I will write for you a statement after which you will not go astray.’ But `Umar said, ‘The Prophet is seriously ill, and we have got Allah’s Book with us and that is sufficient for us.’ But the companions of the Prophet (ﷺ) differed about this and there was a hue and cry. On that the Prophet (ﷺ) said to them, ‘Go away (and leave me alone). It is not right that you should quarrel in front of me.” Ibn `Abbas came out saying, “It was most unfortunate (a great disaster) that Allah’s Messenger (ﷺ) was prevented from writing that statement for them because of their disagreement and noise. (Note: It is apparent from this Hadith that Ibn `Abbas had witnessed the event and came out saying this statement. The truth is not so, for Ibn `Abbas used to say this statement on narrating the Hadith and he had not witnessed the event personally. See Fath Al-Bari Vol. 1, p.220 footnote.) (See Hadith No. 228, Vol. 4).
Reference  : Sahih al-Bukhari 114
In-book reference  : Book 3, Hadith 56
USC-MSA web (English) reference  : Vol. 1, Book 3, Hadith 114
  (deprecated numbering scheme)

https://sunnah.com/bukhari/3/56

Syarah Fath Bari atas hadis di atas.

Islamic Studies

ISLAMIC STUDIES

by Muhammad Hamzah

for Al-Markaz for Khudi Enlightening Studies

 

To study Islam, one must learn Arabic first since it is the language of Islamic teachings’ sources, Al-Quran and Hadith. While studying Arabic, he or she can learn the sciences of Al-Quran (ulum al-quran) and the sciences of Hadith (ulum al-hadith) and then the history of Muslim.

In short, Quranic sciences or Quranic studies comprise the proper recitation/pronunciation (ilm tajwid), the collection and compilation of Al-Quran, its Makkan and Madeenan verses, and its exegesis (tafseer). The sciences of Hadith consist of the text of hadith (matn), chain of narration (isnad) and the authenticity of hadith. These are the sciences or studies that one needs to know pertaining the sources of Islamic teachings.

The content of Islamic teachings taken from the sources mentioned above can be divided into three main categories: iman, islam, and ihsan. The first division covers the system of faith (aqeeda), the second covers the islamic law (sharia), and the third covers morality or manners (akhlaq).

Studying those sciences or even better, mastering it, can take years.

The writer is sometimes amazed seeing an entertainer is suddenly being called or labeled ustadh or ustadha and teaching people about Islam without knowing those studies.

Ramadhan 1440 H (2019)

Ada dua ibadah yang wajib dikerjakan pada saat bulan Ramadhan, yakni puasa dan zakat fitrah. Dua ibadah inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita. Selain kedua ibadah ini dan salat fardhu, aktifitas ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan status hukumnya adalah sunnah yang berarti bila dikerjakan dapat pahala tapi bila tidak dilakukan tidak mendapatkan dosa atau sanksi.

Ibadah-ibadah sunnah yang biasa dikerjakan saat Ramadhan adalah salat malam (termasuk tarwih dan witir), membaca (hingga tammat, berkali-kali) Al-Quran, i’tikaf di masjid, menyediakan penganan buka puasa (gratis), dan lain-lain.

Kita harus memperhatikan dua jenis status hukum ibadah (wajib dan sunnah) yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini dengan cara mendahulukan atau mengutamakan ibadah yang wajib ketimbang ibadah yang sunnah. Kita tidak boleh mengorbankan atau merusak ibadah wajib demi menegakkan yang sunnah.

Misalnya, kita tidak boleh bertengkar tentang salat tarwih (apalagi dilakukan di dalam masjid) padahal kita baru saja berbuka dan akan melanjutkan puasa beberapa jam kemudian. Pertengkaran untuk ibadah sunnah memungkinkan merusak ibadah wajib, yaitu puasa.

Ibadah puasa adalah ibadah menahan (dalam bahasa Arab:imsak). Aktifitas yang kita lakukan dalam puasa adalah menahan. Kita tahan diri dari kegiatan makan, minum, dan aktifitas seksual. Supaya kita mampu menahan diri dari tiga kegiatan tersebut, kita perlu menahan indera (penglihatan, penciuman, perasa) agar tidak memancing diri ke arah tiga perbuatan tadi.

Kita juga perlu menahan mulut agar tidak mengucapkan perkataan atau kalimat yang tidak benar, tidak baik, tidak bermanfaat. Di masa sekarang, kita juga perlu menahan jari jemari kita agar tidak menulis atau berkomentar serampangan.

I Trust in KPU

I Trust in KPU

by Muhammad Hamzah

for Al-Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES)

On April 17, 2019, I voted the future leaders and representatives in the general elections.

One of the reasons behind my participation as a citizen in this general elections is my trust in the election systems and particularly the General Elections Commission or KPU as the organizer.

As the organizer of this year general elections, KPU carries out the general elections transparently. This means that everyone can monitor, watch, and track all of the elections processes both directly and indirectly.

Take the vote counting process as an example. The vote count process is carried out in stages. Starting from the districts level, then regencies or cities, provinces and lastly at the national level.

The process involves representatives of the KPU and General Elections  Supervisory Body (Bawaslu). There are also witnesses from 2019 elections participants. The count progress can be viewed on a website (pemilu2019.kpu.go.id).

Even though frauds conducted by KPU may happen, the system that in place can and will detect the attempts plus there are several watchdogs that will bark at them.

I have no worries.