Memaafkan

Memberi maaf atau memaafkan merupakan salah satu dari akhlak mulia/agung sehingga tidak mudah untuk melakukan atau memraktekkannya.

Karena itu, memberi maaf atau memaafkan harus dipelajari dan dilatih atau dibiasakan (dengan sengaja) agar perbuatan tersebut menjadi bagian dari diri kita; karakter kita.

Dalam Al-Quran, pembicaraan tentang memaafkan dapat ditemukan melalui akar kata ‘a-f-w (ع ف و) yang terulang sebanyak 35 kali dan tersebar di berbagai surah dan ayat.

Makna dasar akar kata ‘a-f’w adalah: (1) meminta atau menuntut sesuatu, dan (2) meninggalkan atau mengabaikan sesuatu.

Dari dua makna dasar tersebut berkembang makna-makna lain, di antaranya: meringankan, memperluas, mengangkat/menghilangkan (hingga tiada bekas), menambah/meningkatkan, kelebihan atau lebih dari yang dibutuhkan.

Memaafkan berarti meninggalkan, mengabaikan atau melepaskan hukuman kepada pihak yang bersalah; perbuatan memaafkan adalah tindakan tidak memberi dan atau meringankan/melepaskan/mengakhiri hukuman terhadap pihak yang bersalah (karena telah melakukan pelanggaran). Dalam ungkapan lain, memaafkan adalah kondisi tidak melakukan pembalasan terhadap pihak yang bersalah.

Bila ada orang yang melakukan perbuatan buruk kepada diri kita dan kita tidak menghukum orang tersebut dan tidak juga membalas perbuatan orang tersebut maka kita disebut memberi orang itu maaf.

Sampai di sini telah jelas bentuk, sifat, unsur perbuatan memaafkan.

Bagaimana mempraktekkannya?

Pertama, kita harus memahami mengapa seseorang bisa melakukan perbuatan yang melanggar. Caranya adalah dengan melihat kepada diri sendiri bagaimana proses kita melakukan pelanggaran atau perbuatan buruk. Kita melakukan perbuatan buruk karena berbagai faktor atau dorongan. Kadang karena terpaksa (oleh keadaan), lupa/alpa/khilaf, ketidaktahuan, dan lain sebagainya.

Dengan memahami hal di atas, ketika orang lain berbuat buruk atau melanggar (kepada kita) maka yang pertama kali terpikirkan adalah sebab-sebab di atas dan pada gilirannya membuat kita memahami kondisi orang yang melakukan pelanggaran tersebut.

Kedua, mengajukan pertanyaan: apakah kalau saya yang melakukan pelanggaran tersebut saya berharap untuk tidak dihukum dan dibalas? Bila ya, maka orang lain yang melakukan pelanggaran juga berpikir dan berharap hal yang sama dengan saya.

Itulah dua hal dasar yang harus dihadirkan di dalam diri kita agar kita mampu memberi maaf.

>>>> Penjelasan Tambahan <<<<<

Rasa sakit hati bisa timbul jika kita berfikir bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang disebabkan perbuatan buruk orang lain kepada kita. Perbuatan buruk orang lain terhadap kita membuat kita kehilangan sesuatu.

Kita akan sulit memaafkan bila masih menyimpan dan memelihara pola pikir di atas, pola pikir yang menyatakan bahwa orang lain telah mengambil sesuatu dari kita dan kita berpikir bahwa sesuatu telah hilang dari diri kita karena telah diambil.

Sebaliknya, meski banyak orang yang berbuat buruk kepada kita atau “mengambil” sesuatu dari kita namun kita tetap berpikir bahwa kita tidak kehilangan atau tidak kekurangan (bahkan setelah berulang kali diambil) maka kita tidak akan merasa tersakiti dan malah bersiap untuk memberi karena kita berpikir bahwa kita “memiliki banyak hal yang berharga” atau lebih dari cukup; sebuah kondisi yang digambarkan melalui kata ‘a-f’w pada Al-Quran 2 Al-Baqarah 219.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *