Al-Quran yang Ditinggalkan

Rasulullah saw diberitakan (akan) mengadu kepada Allah tentang kaumnya yang meninggalkan Al-Quran (QS Al-Furqan 30).

Kata pertama yang Allah turunkan kepada Muhammad saw adalah iqra!

Iqra diterjemahkan dengan bacalah. Ia merupakan kata kerja bentuk perintah (fi’l amr). Ini berarti perintah pertama bagi seorang muslim adalah membaca.

Apa yang (bisa) kita baca? Pertama, kita bisa membaca alam semesta. Kedua, kita bisa membaca manusia secara umum. Ketiga, kita bisa membaca diri, atau bagian dalam dan tak terlihat pada diri (jiwa).

Apakah perintah membaca ini sudah banyak dipraktekkan oleh muslim Indonesia? Kalau kita bercermin kepada diri sendiri, kita bisa menjawab bahwa kita masih malas melaksanakan perintah iqra ini. Ada survei yang menyebut bahwa minat baca orang Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei (2016, http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data). Kompas melaporkan, berdasarkan hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017, bahwa orang Indonesia hanya menamatkan 5-9 buku per tahun (bandingkan dengan Amerika Serika, 12 buku per tahun [http://www.pewresearch.org/fact-tank/2018/03/08/nearly-one-in-five-americans-now-listen-to-audiobooks/]).

Kita enggan membaca alam, manusia, dan jiwa. Kita menganggap tidak penting membaca ketiga hal tersebut. Akibatnya, kita menjadi lemah, tertinggal, terbelakang karena kita abai terhadap perintah pertama Al-Quran: iqra.

Kalau kita ingin maju, mengejar ketertinggalan kita, kita harus menaikkan kemampuan dan intensitas membaca kita. Kita harus lebih banyak membaca alam, manusia, dan jiwa dibandingkan bermain, misalnya.

Kita membaca alam dengan menggunakan angka (matematika); kita membaca manusia dengan menggunakan huruf (bahasa), dan kita membaca jiwa dengan menggunakan rasa.

Kita harus akrab dengan angka, huruf, dan rasa.

Bagaimana memulainya? Awali melalui Al-Quran.

Ketika kita membaca Al-Quran dan tiba pada ayat yang menyebutkan peredaran matahari dan bulan, maka letakkan Al-Qurannya lalu keluarlah kemudian tengok langit, perhatikan matahari dan bulan!

Ketika kita membaca ayat tentang kesatuan manusia, persaudaraan, larangan bermusuhan dan berpecah belah, keluarlah lalu perhatikan dan temui sekumpulan manusia lalu jalin kesatuan, persaudaraan dan cegah perpecahan dan permusuhan!

Ketika kita membaca ayat tentang ketenangan atau kedamaian batin/jiwa, berhentilah sejenak dari seluruh kegiatan, praktekkan zikrullah lalu rasakan efeknya!

Muslim seperti diberi ‘kacamata kuda’ ketika berinteraksi dengan Al-Quran. Apa kacatama kuda itu? Berkaitan dengan Al-Quran, muslim hanya ‘diarahkan’ untuk membaca (perhatikan tajwidnya!)dan menamatkan Al-Quran dalam satu bulan dan paling jauh menghafal 30 juz Al-Quran. Kedua aktifitas ini langsung dikaitkan dengan surga.

Pernahkah kita mendengar bahwa dengan memerhatikan matahari dan bulan kita masuk surga?  Atau, mengapa tidak ada pemuka agama Islam yang mengaitkan kegiatan memerhatikan (meneliti) matahari dan bulan sebagai amal saleh yang bakal diganjar dengan pahala dan surga?

Apa yang menghalangi kita membaca Al-Quran dengan cara yang benar? Bagaimanakah cara membaca Al-Quran?