Idulfitri : Kembali Normal

– Makassar, kitabdiri.com –

Makna tersirat dari idulfitri adalah kembali ke kehidupan “normal” kita. Setelah kita selesai melakukan perintah Allah azza wa jalla yaitu puasa, maka tiba saatnya kita kembali ke kehidupan normal kita.

Aktifitas puasa adalah kegiatan yang tidak “normal”, dalam pengertian apa yang boleh kita lakukan menjadi tidak boleh dalam kurun waktu tertentu.

Setelah kurun waktunya ini selesai, maka apa yang tadinya tidak “normal” menjadi normal kembali. Inilah idulfitri. Setelah bulan Ramadhan pergi dan kita kembali ke kehidupan normal, selanjutnya apa? Atau apa yang tersisa atau berubah pada diri kita setelah menjalani kehidupan yang tidak normal selama sebulan penuh?

Pertama, kita jadi tahu atau kembali mengalami apa yang dialami oleh banyak manusia di berbagai tempat di permukaan bumi ini: lapar dan haus.

Banyak manusia yang sehari-hari merasakan lapar dan haus karena keterbatasan sumberdaya. Entah karena kondisi alam maupun kondisi sosial yang menjadikan mereka miskin.

Pengalaman ini seharusnya memberi dampak pada diri kita. Kita bertindak, berdasarkan pengalaman sebulan penuh berpuasa, mencegah kerusakan lingkungan atau menghijaukan lingkungan sekitar serta membantu mengangkat kemampuan keuangan kaum miskin.

Kedua, kita mengalami perubahan diri yang mencolok yaitu semakin waspada, berhati-hati, dan sadar dalam menjalani hidup terutama ketika menghadapi berbagai ujian kenikmatan dan kesengsaraan.

Ketiga, kita menjadi semakin terhubung dengan Allah azza wa jalla. Sebab selama sebulan kita tidak berani membatalkan kegiatan puasa kita meski kita dalam keadaan sendiri karena menyadari bahwa meski tidak ada seorangpun yang tahu kita makan atau minum namun kita sadar bahwa Allah tahu. Inilah kondisi “ihsan”, yaitu beribadah kepada Allah dalam keadaan kita seolah-olah melihat Allah yang sedang melihat kita.

Bila kita mengalami ketiga hal di atas dan konsisten melakukannya hingga akhir hayat maka kita bukan hanya sukses berpuasa melainkan juga sukses meraih kemuliaan seribu bulan lebih.

29 Ramadhan 1439 H / 14 Juni , 2018 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *