Perjalanan Manusia

[Sair, safar, suluk, siyah, subul, thuruq, masya, dzahab, mishr, firar, kadh, rihl, khuruj, hijrah, sa’y, qashd, tanzil, taraqqi, dan mi’raj- sumber]

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ – 84:6

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (84 Al-Insyiqaq 6)

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ – 51:50

Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu. (51 Az-Zariyat 50)

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ – 9:112

Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman. (9 At-Taubah 112)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ – 23:17

Dan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). (23 Al-Mu’minun 17)

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ – 81:26

maka ke manakah kamu akan pergi? (81 At-Takwir 26)

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ – 37:99

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (37 As-Saffat 99)

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ – 84:19

sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (84 Al-Insyiqaq 19)

Idulfitri : Kembali Normal

– Makassar, kitabdiri.com –

Makna tersirat dari idulfitri adalah kembali ke kehidupan “normal” kita. Setelah kita selesai melakukan perintah Allah azza wa jalla yaitu puasa, maka tiba saatnya kita kembali ke kehidupan normal kita.

Aktifitas puasa adalah kegiatan yang tidak “normal”, dalam pengertian apa yang boleh kita lakukan menjadi tidak boleh dalam kurun waktu tertentu.

Setelah kurun waktunya ini selesai, maka apa yang tadinya tidak “normal” menjadi normal kembali. Inilah idulfitri. Setelah bulan Ramadhan pergi dan kita kembali ke kehidupan normal, selanjutnya apa? Atau apa yang tersisa atau berubah pada diri kita setelah menjalani kehidupan yang tidak normal selama sebulan penuh?

Pertama, kita jadi tahu atau kembali mengalami apa yang dialami oleh banyak manusia di berbagai tempat di permukaan bumi ini: lapar dan haus.

Banyak manusia yang sehari-hari merasakan lapar dan haus karena keterbatasan sumberdaya. Entah karena kondisi alam maupun kondisi sosial yang menjadikan mereka miskin.

Pengalaman ini seharusnya memberi dampak pada diri kita. Kita bertindak, berdasarkan pengalaman sebulan penuh berpuasa, mencegah kerusakan lingkungan atau menghijaukan lingkungan sekitar serta membantu mengangkat kemampuan keuangan kaum miskin.

Kedua, kita mengalami perubahan diri yang mencolok yaitu semakin waspada, berhati-hati, dan sadar dalam menjalani hidup terutama ketika menghadapi berbagai ujian kenikmatan dan kesengsaraan.

Ketiga, kita menjadi semakin terhubung dengan Allah azza wa jalla. Sebab selama sebulan kita tidak berani membatalkan kegiatan puasa kita meski kita dalam keadaan sendiri karena menyadari bahwa meski tidak ada seorangpun yang tahu kita makan atau minum namun kita sadar bahwa Allah tahu. Inilah kondisi “ihsan”, yaitu beribadah kepada Allah dalam keadaan kita seolah-olah melihat Allah yang sedang melihat kita.

Bila kita mengalami ketiga hal di atas dan konsisten melakukannya hingga akhir hayat maka kita bukan hanya sukses berpuasa melainkan juga sukses meraih kemuliaan seribu bulan lebih.

29 Ramadhan 1439 H / 14 Juni , 2018 M

Ibadah, Takwa, Syukur

Ibadah, Takwa, dan Syukur

-Makassar, kitabdiri.com

Ibadah yang kita lakukan seharusnya mengubah diri kita menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

Perubahan diri menjadi yang bertakwa diperlukan agar kita mampu menjadi sosok yang senantiasa bersyukur.

Perintah melakukan ibadah agar kita menjadi sosok yang bertakwa dapat ditemukan pada Al-Quran Surah 2 Al-Baqarah 21,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُون

yang artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

Menjadi sosok bertakwa harusnya dicapai agar bisa mengantarkan diri ini untuk ke level berikutnya yaitu sosok yang bersyukur berdasarkan keterangan Al-Quran Surah 3 Ali Imran 123,

وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٍ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٌۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

yang artinya: Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

Semoga kita dapat mengubah diri menjadi sosok bertakwa melalui proses ibadah yang kita kerjakan sehingga kita mampu mencapai peringkat syukur.