Persekusi Sesama Muslim

Belakangan ini marak beredar istilah persekusi. Kata tersebut mencuat seiring dengan beberapa peristiwa yang terkait dengan tokoh muslim atau yang akrab dipanggil ustaz (yang terkini, ustaz Abdul Somad).

Maka Kata Persekusi

Kata persekusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas (https://kbbi.web.id/persekusi). Di Wikipedia, persekusi diberi makna “adalah perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik.” (https://id.wikipedia.org/wiki/Persekusi).

Persekusi adalah perlakuan buruk terhadap orang lain. Faktor pembeda istilah persekusi dengan istilah lainnya, misalnya main hakim sendiri, adalah terdapat upaya atau tindakan yang sistematis pada perlakuan buruk tersebut (lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Persecution). Bila perlakuan buruk terhadap seseorang tidak dilakukan secara sistematis maka perlakuan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai persekusi.

Setelah kita batasi cakupan makna kata persekusi, sekarang kita ajukan pertanyaan ini: apakah perlakuan buruk yang dialami oleh beberapa ustaz belakangan ini dapat dikategorikan sebagai persekusi atau tidak? Atau dalam ungkapan lain, apakah perlakuan buruk yang dialami oleh beberapa ustaz belakangan ini dilakukan secara sistematis atau sporadis?

Motif Perlakuan Buruk

Pelakuan buruk antar sesama muslim telah terjadi pada umat atau komunitas muslim awal. Kita baca sejarah fitnah atau kekacauan yang terjadi pada masalah khulafaur rasyidin, yakni para sahabat besar radiyallahu anhum: Abubakar (riddah), Umar (dibunuh), Utsman (dibunuh), Ali (berperang dengan sesama sahabat, dibunuh) hingga kedua cucu Nabi Muhammad saw., Hasan dan Husain (dikudeta dan dibunuh).

Catatan perlakuan buruk oleh sesama muslim tidak hanya berhenti pada keluarga dekat (mertua, sepupu dan menantu, serta cucu) Nabi saw., namun terus berlanjut ke masa dinasti Umayyah, Abbasiyah (perlakuan buruk terhadap sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, dan para ulama) dan dinasti-dinasti berikutnya.

Muslim yang membaca sejarah Islam tentu tidak akan kaget lagi bila di masa kini terjadi perlakuan buruk antar sesama muslim. Entah hal itu menimpa kepada muslim biasa atau kepada ustaz atau bahkan ulama sekalipun. Ia hanya perlu mengajukan pertanyaan berikut: apakah perlakuan buruk itu dilakukan secara sistematis atau sporadis?

Menurut hemat penulis, muslim memperlakukan buruk muslim yang lain karena didasari oleh: (1) iri, dengki, hasad,  (2) memperoleh keuntungan baik finansial maupun non finansial, atau (3) ketidaktahuan karena terpengaruh penghasutan yang biasanya dilakukan oleh dua pihak sebelumnya.

Umat muslim yang mayoritas awam sering kali masuk ke dalam kategori ketiga ketika memperlakukan secara buruk seorang atau beberapa ustaz. Ketidaktahuan mereka terhadap perbedaan pemahaman atau interpretasi terhadap ajaran Islam seringkali mendorong mereka untuk memperlakukan seorang ustaz secara buruk (paling tidak secara lisan: menghina, mengolok-olok, menjelek-jelekkan). Perlakuan buruk ini lebih sering dilakukan secara individu atau sekelompok kecil, sporadis, insidental, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai persekusi.

Muslim yang memiliki sumber daya lebih dapat melakukan persekusi. Ia dapat mengorganisasi sumber daya manusia dan finansial untuk memberi perlakuan buruk kepada seorang ustaz dengan sistematis. Motifnya bisa karena ia memperoleh keuntungan materi dengan melakukan persekusi atau dapat pula ia memperoleh keuntungan berupa popularitas, kekuasaan, atau pengaruh melalui upaya persekusinya.

Muslim yang melakukan perbuatan buruk kepada seorang ustaz karena faktor cemburu, iri hati, hasad biasanya berasal dari latar belakang yang sama. Bila ia punya sumber daya dan mengorganisasi sumber daya tersebut, maka perlakuan buruknya disebut persekusi.

Benarkah Beberapa Ustaz Dipersekusi?

Ustaz Abdul Somad beberapa hari terakhir ini diberitakan oleh media telah mengalami tindakan persekusi. Paling tidak ada dua kejadian “buruk” yang dialami ustaz Somad dan ramai diberitakan, yakni “penolakan” di Bali dan “deportasi” dari Hong Kong. Sebelumnya, beberapa ustaz juga diberitakan mengalami “penolakan” di beberapa daerah. Selain itu, beberapa figur ustaz diperlakukan buruk di media sosial bahkan ada yang sampai difitnah. Fenomena apa ini? Apakah ini bisa disebut persekusi (karena sistematis) atau sekedar wujud ketidaksenangan pihak tertentu terhadap beberapa figur ustaz?

Perlakuan buruk terhadap ustaz sejatinya terjadi mulai dari level lokal hingga nasional. Pada tingkat lokal, perlakuan buruk berupa penolakan atau ‘pencekalan’ terhadap ustaz terjadi pada tingkat oknum pengurus masjid dan kelompok-kelompok pengajian atau majelis ta’lim. Bila suatu kepengurusan masjid atau majelis ta’lim sudah berafiliasi dengan paham, aliran atau organisasi tertentu maka akan sulit bagi mereka untuk mengundang atau menerima ustaz dari paham, aliran, atau organisasi yang berbeda apalagi yang secara nyata berseberangan pemahaman atau pendapat.

Entah apa sebabnya sebagian muslim enggan membaca atau bahkan mendengar orang lain yang berseberangan dengan dirinya. Padahal ilmu keislaman itu sangat luas spektrumnya. ‘Wadah’ Islam sangat luas sehingga mampu menampung beragam pendapat bahkan yang terlihat berseberangan sekalipun. Ini seperti Indonesia yang di dalamnya tumbuh subur berbagai macam manusia serta kepercayaannya.

Masjid yang sejatinya untuk semua muslim dan majelis ta’lim yang seharusnya wadah untuk menimba ilmu menjadi ‘sempit’ dan monoton. Mereka hanya menerima ustaz yang ‘sealiran’ dan menolak yang berbeda pandangan. Masjid dan majelis ta’lim alih-alih menjadikan wawasan umat Islam meluas, masjid dan majelis ta’lim yang dikuasai oknum tertentu justru menjadikan wawasan muslim menjadi sempit dan penuh rasa curiga terhadap sesama muslim namun berbeda aliran, pemahaman, atau afiliasi organisasi.

[Bersambung]