Pernikahan

Menikah itu ibadah. Pernikahan selayaknya dipandang sebagai salah satu bentuk ketaatan dan kepatuhan kita kepada Tuhan. Entah itu pernikahan dini atau pernikahan muda, pernikahan siri, atau pernikahan di bulan tertentu, ia adalah tindakan atau aksi ibadah karena dilakukan karena perintah Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya.

Jadi yang dipandang pada pernikahan itu bukan (hanya) sang suami atau sang istri namun Allah yang dipandang.

Pusat dari aktifitas nikah adalah Allah. Kita dapat menikah karena Allah dan mampu mempertahankan pernikahan selama puluhan tahun pun karena Allah.

Pernikahan adalah salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda keberadaan Allah yang Dia tebar di alam semesta ini, demikian yang termaktub dalam Quran Surah 3o Ar-Rum 21. Dia jadikan pasangan sebagai tempat menenangkan diri, litaskunu ilaiha, dan kepada pasangan tersebut Dia tempatkan cinta dan kasih sayang.

Pengertian pernikahan dalam Islam. Kata nikah terulang sebanyak 23 kali dalam Al-Quran. Kata nikah memiliki makna dasar atau makna asal mengikat dan kontrak. Ketika dua insan mengikatkan diri, saling berjanji untuk hidup bersama, maka mereka berdua berada dalam ikatan perjanjian atau pernikahan.

Salah satu topik yang sering dibicarakan dalam pernikahan adalah poligami, atau istilah yang lebih tepat adalah poligini, suatu keadaan dimana pria memiliki lebih dari seorang istri pada saat bersamaan.

Ayat Al-Quran yang sering dikutip adalah Quran Surah 4 An-Nisa 3. Untuk membahas ayat tersebut, kita mesti mengikutsertakan ayat sebelumnya agar konteksnya dapat terlihat dengan jelas.

Dengan melihat konteks dan kesinambungan ayat, kita renungkan dengan jernih ayat-ayat tersebut berbicara tentang anak-anak yatim, khususnya para wanita yang yatim beserta ibu mereka yang janda ditinggal mati oleh suami mereka dan sedang berada dalam pemeliharaan kita. Itulah yang dibahas, bukan sembarang wanita namun wanita yatim (atau ibu mereka) yang berada dalam pemeliharaan kita.

Selanjutnya, bila kondisi ketidakadilan sedang melanda dan kita khawatir kondisi tersebut menimpa mereka, para janda dan anak-anak wanita mereka yang yatim, maka ada semacam izin untuk menikahi dua, tiga, empat di antara mereka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *