Tidak Merasa Nyaman Berbeda

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, keharusan.

Dalam pembicaraan tentang agama, Allah membuat perbedaan: beriman atau tidak beriman.

Kelompok beriman pun dibuat beragam: ada yang Muslim, Kristen, Yahudi.

Untuk Muslim pun Tuhan membuatnya beragam: ada Sunni, Syiah, Ahmadiah, dan lain-lain.

Di kelompok Sunni pun, Tuhan mengizinkan keragaman: ada empat mazhab fiqh yang dianut sampai sekarang, ada beberapa mazhab teologi/kalam, ada berbagai mazhab tasawuf serta kelompok-kelompok tarekat, dan lain-lain.

Lihatlah! Bahkan di antara dua saudara kembar pun, Tuhan membuat keduanya berbeda; beragam!

Mengapa masih ada yang tidak merasa nyaman dengan keberagaman, perbedaan?

Salah satu kemungkinan yang bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah adanya prasangka perbedaan atau keragaman itu memberikan akibat buruk atau negatif kepada dirinya. Lebih lanjut, prasangka ini dapat berkembang menjadi kekhawatiran atau ketakutan dan menimbulkan perasaan terancam.

Seluruh prasangka dan perasaan tersebut tergambar pada tingkah pola perilaku yang dibaca sebagai ketidaknyamanan berada di lingkungan yang berbeda/beragam.

Mengelola Kemarahan

Alaikum salam. Wah tidak mudah memang mengelola amarah, kebencian, kekecewaan di dalam diri. Saya rasa kita sudah tahu kalau amarah dan kebencian itu dipantik oleh setan. Bibit atau benih amarah dan kebencian itu ada di dalam diri dan dimanfaatkan oleh setan.  Kita tangani bibit amarah/kebencian itu dengan mengembalikan nya kepada Allah. Misalnya,  saya marah ketika ada orang yang menginjak kaki saya.  Sebelum amarah itu membesar, saya ingat Allah dan berkata bahwa apa yang saya sedang alami ini Allah izinkan. Allah izinkan orang itu injak kaki saya. Sekarang, daripada marah-marah, saya bertanya kepadaMu Ya Allah…. apa yang Engkau inginkan dari saya atas kejadian ini?

Dialog internal di atas seringkali meredakan amarah yang dipantik oleh setan.

Sebelum dialog internal itu, kita sudah memiliki serangkaian pola pikir, mindset yang membantu mengikis kemarahan, kekecewaan, kebencian yang ada pada diri.

Pertama, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Semua yang ada pada kita bukan milik kita melainkan punya Allah. Tidak ada sesuatu yang melekat pada diri yang bisa kita klaim atau akui sebagai milik kita. Semuanya punya Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu akan kembali kepada pemiliknya yang asli nan sejati, Allah.

Kedua, segala yang terjadi di alam semesta ini telah memperoleh restu, ridha, dan izin-Nya sesuai dengan rancangan induk-Nya yang dituangkan di lauh al-mahfudz, papan atau lembaran yang terjaga. Bila ada suatu peristiwa yang menimpa kita, yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan, respon pertama kita adalah ingat Allah, bersyukur kepada-Nya, dan meminta ilmu pengetahuan tentang maksud atau kehendakNya di balik peristiwa yang Dia izinkan terjadi atas kita.

Dengan dua mindset utama ditambah berdialog dengan Allah, kita mudah mengelola diri agar tidak mudah marah, tersinggung, kecewa, benci, maupun putus asa.

Semoga membantu dan bila ada pertanyaan atau hal yang ingin ditambahkan, silahkan didiskusikan melalui kolom komentar atau melalui nomor whatssapp.

Salam.

Pernikahan

Menikah itu ibadah. Pernikahan selayaknya dipandang sebagai salah satu bentuk ketaatan dan kepatuhan kita kepada Tuhan. Entah itu pernikahan dini atau pernikahan muda, pernikahan siri, atau pernikahan di bulan tertentu, ia adalah tindakan atau aksi ibadah karena dilakukan karena perintah Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya.

Jadi yang dipandang pada pernikahan itu bukan (hanya) sang suami atau sang istri namun Allah yang dipandang.

Pusat dari aktifitas nikah adalah Allah. Kita dapat menikah karena Allah dan mampu mempertahankan pernikahan selama puluhan tahun pun karena Allah.

Pernikahan adalah salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda keberadaan Allah yang Dia tebar di alam semesta ini, demikian yang termaktub dalam Quran Surah 3o Ar-Rum 21. Dia jadikan pasangan sebagai tempat menenangkan diri, litaskunu ilaiha, dan kepada pasangan tersebut Dia tempatkan cinta dan kasih sayang.

Pengertian pernikahan dalam Islam. Kata nikah terulang sebanyak 23 kali dalam Al-Quran. Kata nikah memiliki makna dasar atau makna asal mengikat dan kontrak. Ketika dua insan mengikatkan diri, saling berjanji untuk hidup bersama, maka mereka berdua berada dalam ikatan perjanjian atau pernikahan.

Salah satu topik yang sering dibicarakan dalam pernikahan adalah poligami, atau istilah yang lebih tepat adalah poligini, suatu keadaan dimana pria memiliki lebih dari seorang istri pada saat bersamaan.

Ayat Al-Quran yang sering dikutip adalah Quran Surah 4 An-Nisa 3. Untuk membahas ayat tersebut, kita mesti mengikutsertakan ayat sebelumnya agar konteksnya dapat terlihat dengan jelas.

Dengan melihat konteks dan kesinambungan ayat, kita renungkan dengan jernih ayat-ayat tersebut berbicara tentang anak-anak yatim, khususnya para wanita yang yatim beserta ibu mereka yang janda ditinggal mati oleh suami mereka dan sedang berada dalam pemeliharaan kita. Itulah yang dibahas, bukan sembarang wanita namun wanita yatim (atau ibu mereka) yang berada dalam pemeliharaan kita.

Selanjutnya, bila kondisi ketidakadilan sedang melanda dan kita khawatir kondisi tersebut menimpa mereka, para janda dan anak-anak wanita mereka yang yatim, maka ada semacam izin untuk menikahi dua, tiga, empat di antara mereka.

 

Muslim Cap Kafir

 

Memang bisa pada diri seseorang terkumpul stempel muslim sekaligus kafir?

Bila pertanyaan ini diajukan kepada muslim awam tentu tidak bisa jawab mereka.

Namun bila pertanyaan yang sama diajukan kepada muslim yang sering berinteraksi dengan berbagai kelompok, golongan, aliran muslim lain, maka dua cap yang bertolak belakang itu bisa disematkan kepada seorang individu muslim.

Seorang muslim bisa saja dituduh kafir oleh muslim lainnya. Tuduhan kafir terhadap seorang muslim saja sudah sangat mengherankan. Tapi yang paling ajaib adalah pihak yang mengajarkan untuk menuduh muslim lain sebagai kafir.

Berani, ya, mereka mengajarkan kekeliruan seperti itu. ..

NB
Kata kafir bisa diganti dengan kata thagut, musyrik, dan sejenisnya.

Kutuk Peledakan Bom

Menggunakan setitik kasih sayang yang berintikan kelemahlembutan, kita mengutuk tindakan meledakkan bom yang melukai baik dirinya sendiri (bunuh diri) apalagi melukai hingga menyebabkan kematian orang-orang yang tidak terkait langsung dengan pelaku.

Motif pelaku biarlah menjadi urusan dirinya dengan Penciptanya. Kita, manusia yang memiliki kasih sayang, hendaknya mengurus mereka yang menebarkan paham yang menganjurkan membunuh orang lain atas nama apa saja: agama, surga, bidadari dan lain-lain.

Kita urus paham mereka. Kita katakan kepada mereka bahwa paham yang kalian bawa dan tabur itu keliru, salah, tidak benar dan bahkan bertentangan dengan semangat Islam; semangat Al-Quran.

Paham yang disebarkan Al-Quran adalah paham kasih sayang yang berintikan kelemahlembutan yang disebut rahmat. Ia mengecam pembunuhan atas satu jiwa manusia. Ia memuliakan seluruh manusia. Ia mengangkat derajat manusia hingga melampaui malaikat.

Seluruh oknum muslim yang menebarkan paham yang bertentangan spirit qurani di atas mesti diingatkan bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengan Al-Quran. Mereka menentang ajaran Al-Quran.

Kita harus mengingatkan mereka.

Apakah Anda Berada di Luar atau Di Dalam Islam?

Kita masuk Islam supaya kita selamat, bukan sebaliknya. Islam lah yang menyelamatkan kita, bukan sebaliknya.

Perjuangan kita adalah agar selalu berada dalam Islam hingga akhir hayat, bukan memperjuangkan Islam.

Ketika kita keluar dari Islam, kita keluar dari zona perdamaian atau kedamaian dan berada dalam zona peperangan dan kekacauan.

Kita tidak mengobarkan peperangan dan agresi atas nama Islam karena itu bertentangan dengan Islam.

Mereka yang mengobarkan peperangan dan penindasan yang diawali dengan menebarkan benih kebencian dan permusuhan sejatinya sedang berada di luar Islam. Sebab mereka yang berada di dalam Islam justru memadamkan peperangan, mengakhiri dan mencegah penindasan dengan diawali tindakan menabur benih kasih sayang dan cinta kasih.

  • Selamat menyambut Ramadhan.