Tidak Mau Salatkan Orang Munafik?

Beberapa hari belakangan ini beredar melalui WhatsApp sepotong informasi tentang larangan mensalatkan orang munafik.

Berikut informasi yang saya maksud:

*PENGUMUMAN.*

Kami segenap Ulama, Habaib, Kyai, Ustadz, Ustadzah se DKI menyatakan MENOLAK HADIR di semua majelis/acara/maulid dll di kampung yang warganya memenangkan Ahok (lihat daftar TPS yg memenangkan Ahok)

Tindakan ini berlaku mulai hari ini hingga putaran kedua Pilkada yaitu 19 April 2017.

Bila dalam putaran kedua, kampung-kampung tersebut masih tetap memenangkan Ahok maka kami akan MENOLAK HADIR selama 5 tahun ke depan.

Kami juga bersepakat untuk tidak akan mengurus kematian, mensholatkan dan mendoakan warga yang nyata-nyata memilih Ahok. Hal ini berlaku di seluruh kampung di Jakarta. (Ttg dalilnya Silahkan baca penjelasan di bawah)

Kampung berpenduduk Tionghoa dan Nasrani saja istiqomah, mereka memilih Ahok secara solid; mereka tidak munafiq. Mereka pilih pemimpin yang seaqidah, Nasrani pilih Ahok. Kampung-kampung berpenduduk muslim justru banyak yang munafiq dan menjual aqidahnya dengan murah.

Demikian pengumuman kami, harap maklum dan silahkan taubat sebelum ajal menjemput.

*—– Dalil larangan mensholatkan Orang Munafiq —-*

وَ لاَ تُصَلّ عَلى اَحَدٍ مّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّ لاَ تَقُمْ عَلى قَبْرِه، اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللهِ وَ رَسُوْلِه وَ مَاتُوْا وَ هُمْ فسِقُوْنَ. التوبة: 84

Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan jenazah salah seorang diantara mereka (orang-orang munafiq) selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas quburnya. Sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasiq. [QS. At-Taubah : 84]

Ayat diatas turun setelah Rasulullah mensholatkan Jenazah Abdullah Bin Ubay (Dedengkot Kaum Munafiqin), Rasulullah melakukan hal tersebut atas permintaan Sahabat beliau Abdulllah bin Abdulullah Bin Ubay yang merupakan anak Abdulllah Bin Ubay, walau sebelumnya sahabat Umar Bin Khattab RA, sempat memohon agar Rasulullah tidak mensholatkan jenazah Abdulullah Bin Ubay, setelah selesai Sholat Jenazah tersebut kemudian turunlah ayat 84 dari Surat At-Taubah.
Sesudah turun ayat tersebut Nabi SAW tidak pernah lagi menshalatkan jenazah orang munafiq.

Jadi mohon maaf untuk orang2 munafiq modern, Rasulullah tidak memperbolehkan kami kaum muslimin untuk mengurus, menyolatkan & mendoakan orang2 munafiq saat ajal mereka menjemput.

Namun Allah SWT membuka pintu Taubat sebelum ajal menjemput.
~~~~~~~~~~~~~~
*Sebarkan spy Umat Islam mengerti.*

Akhir kutipan.

Kalau kita membaca Quran surah 9 At-Tawbah 101 , kita akan terkejut dengan pernyataan bahwa nabi Muhammad saw saja tidak tahu siapa orang-orang di sekeliling beliau yang munafik. Informasi tentang siapa yang munafik dan yang tidak hanya diketahui oleh Allah azza wa jalla saja.

Jadi, mereka yang -jika benar- tidak mau mengurus jenazah dan mensalatkan orang yang mereka anggap sebagai munafik sepertinya punya keistimewaan melebihi Nabi Muhammad. Mereka tahu dan mampu memastikan siapa yang munafik dan yang tidak. Sesuatu yang bertentangan dengan informasi yang dimuat dalam Quran Surah 9 At-Tawbah 101.

Pindah ke pembahasan selanjutnya.

Bila diperhatikan terjemahan Quran Surah 9 At-Tawbah 84, kalimat di dalam tanda kurung yang menyebut orang munafik dimasukkan oleh penerjemah Quran. Dimasukkannya kata munafik di dalam terjemahan tersebut dikarenakan mufassir atau penafsir Quran memberi informasi demikian.

Padahal bila kita perhatikan teks ayatnya, tidak terdapat kata orang munafik. Malah kata yang disebut adalah kafaru dan fasiqun atau kafir dan fasiq.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *