Salat Dalam Al-Quran

Sumber

Corpus

IslamAwakened

 

I: Makna Kata

prayer, supplication, petition, oration, eulogy, benediction, commendation, blessing, honour, magnify, bring forth, follow closely, walk/follow behind closely, to remain attached.
In a horse race when the second horse follows the first one so closely that its head always overlaps the first horse’s body that horse is called AL-MUSSALLI (i.e. the one who follows closely / remains attached).
Central portion of the back, portion from where the tail of an animal comes out, the rump.

doa, permohonan, petisi, orasi, pidato, doa, pujian, berkat, kehormatan, kemuliaan, melahirkan, mengikuti erat, berjalan / mengikuti di belakang erat, untuk tetap melekat.
Dalam pacuan kuda ketika kuda kedua berikut yang pertama begitu erat bahwa kepalanya selalu tumpang tindih tubuh kuda pertama yang kuda disebut AL-MUSSALLI (yaitu orang yang mengikuti erat / tetap terlampir).bagian tengah belakang, bagian dari mana ekor binatang keluar, pantat.[Google Translate]

Hubungan, sambungan, koneksi, komunikasi.

Pada Quran Surah 75 Al-Qiyamah 31-32 ditemukan kesan lawan kata salla adalah tawalla. Tawalla berarti mengindar, berpaling (avoid ; shun ; turn away from). Bila benar tawalla adalah lawan kata dari salla, maka salla berarti, salah satunya, mengikuti (To follow, like the runners-up horse closely follows the winner = To closely follow the Commands of Allah, Shabbir Ahmed). Atau arti lainnya adalah melakukan kontak, hubungan, komunikasi (The Monotheist Group, 2013 Edition).

Pada perlombaan atau pacuan kuda, salla berarti kuda yang berada di posisi kedua (runner up) dan dekat dengan kuda yang berada di posisi pertama, صلَّى الفَرَسُ في السِّبَاق : جاءَ مُصلِّياً ؛ وهو الثاني في السِّباق

Untuk sementara, kata salla kita biarkan tanpa terjemahan meski kita sudah memperoleh gambaran bahwa makna dasar dari kata tersebut, bila benar, adalah “mengikuti dalam jarak dekat hingga terjalin kontak atau hubungan dalam bentuk komunikasi, yakni pertukaran informasi“. Kita ringkas pemahaman kata salla tersebut dalam kalimat “mendekati dan menjalin kontak/komunikasi”.

87:15 dan dia mengingat dan menyebut Allah lalu mendekati dan menjalin kontak / komunikasi.

96:10 hamba ketika ia mendekati dan menjalin kontak / komunikasi.

108:2 dekati dan jalin kontak/komunikasi kepada/untuk Tuhanmu

33:43 Dialah yang mendekati dan menjalin kontak / komunikasi atasmu dan malaikat Nya supaya kamu keluar dari kegelapan kepada cahaya.

9:103 ambillah dari harta mereka sedekah menyucikan dan menumbuhkan diri mereka dengan sedekah itu dan dekati serta jalin kontak dengan mereka sesungguhnya salatmu (pendekatan dan jalinan komunikasi kamu) penenang bagi mereka.

9:84 Dan jangan kamu dekati dan jalin kontak dengan salah seorang di antara mereka yang telah meninggal selama lamanya dan jangan kamu berdiri di atas quburnya. [catatan: Makna ini agak aneh]

33:56 sesungguhnya Allah dan malaikat Nya mendekati dan menjalin kontak atas nabi wahai orang-orang beriman dekati dan jalin komunikasi atasnya dan beri salam atasnya.

Bagaimana bentuk model tata cara mendekati dan menjalin komunikasi.

Perlu diingat bahwa kata salla ini konteksnya adalah (1) dari Allah dan malaikat kepada manusia, (2) dari manusia ke sesama manusia dan terakhir (3) dari manusia kepada Allah.

Terdapat 3 kata kerja bentuk perintah dari salla dalam Al-Quran. Pertama, perintah salla ala yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Kedua, perintah salla ala yang ditujukan kepada orang beriman untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Ketiga perintah salla li atau kepada/untuk Allah.

Jadi pada kata kerja perintah salla terdapat dua kata depan yaitu ala dan li. Ini perlu diperhatikan. Apakah ada perbedaan antara salla ala dengan salla li?

II: Salat

Sekarang, kita akan melihat, memelajari, dan merenungkan makna kata salat (الصَّلَاةَ) dan salawat (صَلَوَاتٌ).

Kata salat yang akan kita lihat adalah yang berkaitan dengan aktifitas salla oleh manusia untuk/kepada (li) Allah. Siapa tahu dengan melihat hal tersebut, menjadi jelas pula makna salla yang dilakukan kepada sesama manusia.

Kata salat adalah kata benda (ism). Ia menunjukkan serangkaian ‘aktifitas’ yang menggambarkan “mengikuti/mendekati dan menjalin kotak/komunikasi”.

Pada Quran Surah 24 An-Nur 41 disebutkan bahwa penghuni langit dan bumi serta burung yang mengembangkan sayapnya mengetahui salat-nya (أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ , Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.)

Bagaimanakah bentuk, model cara salat para burung? Apa yang burung-burung lakukan sehingga mereka disebut melakukan salat?

Selain seluruh penghuni langit dan bumi tahu cara salat mereka masing-masing, Al-Quran juga menyebut bahwa ummat-ummat sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam juga melakukan salat. Paling tidak, mulai ummat Ibrahim hingga Isa melakukan salat.

Bagaimana cara mereka salat?

Indikasi aktifitas yang dikaitkan dengan salat dalam Al-Quran adalah:

  1. Berdiri
  2. Mengatakan atau mengucapkan ‘sesuatu’
  3. Ruku, yaitu gerakan menundukkan/membungkukkan badan atau berlutut
  4. Sujud

Kita akan mencari, menemukan, melihat, memelajari, dan merenungkan ayat-ayat yang berkaitan dengan empat aktifitas di atas terutama yang berkaitan dengan salat.

Berdiri. Pada Quran Surah 3 Ali Imran 39 ditemukan keterangan tentang nabi Zakariya yang dalam keadaan berdiri melakukan salat di mihrab dipanggil atau diseru oleh malaikat tentang akan lahir putranya yang diberi nama Yahya (فَنَادَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَهُوَ قَائِم ٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقا ً بِكَلِمَة ٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدا ً وَحَصُورا ً وَنَبِيّا ً مِنَ الصَّالِحِينَ). Pada Quran Surah 4 An-Nisa 102 ditemukan keterangan tentang berdiri untuk salat atau salat dalam keadaan berdiri (وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰ أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا). Pada Quran Surah 4 An-Nisa 142 disebutkan tentang orang munafik yang berdiri untuk salat dalam keadaan malas (إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا). Pada Quran Surah 62 Al-Jumuah 11 dalam konteks salat di waktu Jum’at, para sahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam meninggalkan Nabi yang sedang berdiri (وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ).

Kata yang digunakan pada ayat-ayat tersebut adalah qaama dengan berbagai variasi, yang salah satu artinya adalah berdiri. Rentang makna dari kata yang berasal dari akar q-w-m adalah:

(1) stand still or firm, (2) rose/stand up, (3) managed/conducted/ordered/regulated/superintended, (4) established, (5) made it straight/right, (6) maintain/erect/observe/perform, (7) set up, (8) people/community/company, (9) abode, (10) stature/dignity/rank.

(1) bangkit, berdiri, (2) mengelola, mengatur, memerintahkan, mengawasi, (3) mengadakan, mendirikan, (4) membuat sesuatu menjadi lurus atau benar, (5) menjaga/memelihara, melakukan, (6) komunitas, kaum, pangkat.

Terlihat pada rentang makna q-w-m, meski terjemahan berdiri di atas dua kaki mendominasi makna yang ditunjuk oleh kata qaama namun tidak berarti makna lain selain berdiri menjadi tidak relevan. Sehingga timbul kesan bahwa secara umum salat itu “didirikan, dilakukan, dikelola, dipelihara dengan cara berdiri baik dalam keadaan sendirian maupun bersama dengan orang lain atau komunitas.”

 

Selain q-w-m, juga w-q-f, istwa (48:29),

 

Mengatakan atau mengucapkan sesuatu. Salat melibatkan ucapan atau perkataan yang penuturnya harus memahami apa yang ia ucapkan. Pada Quran Surah 4 An-Nisa 43 terdapat larangan untuk mendekati salat dalam keadaan mabuk karena berakibat ucapan yang dikeluarkan tidak ia ketahui atau pahami (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا). Pada Quran Surah 17 Al-Isra 110 terdapat arahan tentang volume (tingkat kenyaringan atau kekuatan) suara ketika melakukan salat, yaitu antara suara keras/tinggi dengan suara rendah (قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلً). Suara yang dikecam adalah suara siulan dan tepukan tangan seperti yang diterangkan pada Quran Surah 8 Al-Anfal 35 (وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ).

 

Sujud. Gerakan sujud yang dikaitkan dengan kegiatan salat terdapat pada Quran Surah 4 An-Nisa 102  (وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰ أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا). Sujud di atas dagu seperti yang dicantumkan pada Quran Surah 17 Al-Isra 107 (قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا). Gerakan sujud ini sering kali dipasangkan penyebutannya dengan gerakan ruku dalam Al-Quran.

Ruku. Ruku dapat berarti berlutut. Makna ini diambil dari perenungan terhadap Quran Surah 38 Sad 24 terutama atas frasa kharra rakian (قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ). Kharra berarti fell down atau jatuh atau tersungkur dalam keadaan rakian. Salah satu makna kata ruku adalah berlutut. Sehingga frasa kharra rakian dapat menggambarkan peristiwa jatuhnya seseorang dalam keadaan berlutut atau rakian, yaitu kedua lututnya yang lebih dahulu menyentuh tanah. Pada terjemahan bahasa Indonesia, frasa kharra rakian pada ayat di atas diterjemahkan dengan “menyungkur sujud”. Frasa ini menggambarkan bahwa seseorang jatuh tersungkur dengan keseluruhan atau sebagian dari wajah yang terlebih dahulu menyentuh tanah bukan kedua lutut. Gambaran terakhir ini agak sulit diwujudkan, untuk tidak menyatakan bahwa hal itu mustahil dilakukan, terutama dalam kegiatan salat. Karena itu, lebih mudah membayangkan seseorang jatuh berlutut dibanding jatuh dengan wajah yang lebih dahulu menyentuh tanah. Sehingga frasa kharra rakian pada Quran Surah 38 Sad 24 di atas dapat dipahami dengan jatuh berlutut. Inilah makna kata ruku dalam konteks kegiatan salat.

Ruku dan sujud seringkali dipasangkan dalam Al-Quran. Pada Quran Surah 2 Al-Baqarah 125 (وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ). Pada Quran Surah 3 Ali Imran 43 (يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ). Pada Quran Surah 9 At-Tawbah 112 (التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ). Pada Quran Surah 22 Al-Hajj 26 (وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ). Pada Quran Surah 22 Al-Hajj 77 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ). Pada Quran Surah 48 Al-Fath 29 (مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا).

Namun ruku disebut tanpa sujud pada beberapa ayat Al-Quran berikut. Pada Quran Surah 2 Al-Baqarah 43 (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ). Pada Quran Surah 5 Al-Maidah 55 (إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ). Pada Quran Surah 38 Sad 24 (قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ).

Terdapat satu ayat yang menghimpun tiga aktifitas sekaligus: berdiri, ruku dan sujud, yaitu Quran Surah 22 Al-Hajj 26 (وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ). Ayat yang senada adalah Quran Surah 2 Al-baqarah 125 (وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ)

III: Salat Fisik dan Psikis

Salat yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang ditujukan kepada Allah. Secara fisik, kegiatan salat meliputi empat aktifitas pokok yaitu berdiri, mengucapkan sesuatu, berlutut, dan sujud.

Secara psikis, salat adalah aktifitas mengikuti secara dekat (berada di belakang) dan menjalin kontak/komunikasi. Obyek yang diikuti adalah “apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, yakni Al-Quran”. Sementara jalinan kontak atau komunikasi adalah antara manusia dengan Allah. Kata qama secara psikis bermakna mengelola, mengadakan, mendirikan, menjaga, memelihara sesuatu agar senantiasa lurus atau benar. Kata ruku dan sujud secara psikis bermakna merendahkan, membungkukkan, menghinakan diri, atau mengagungkan (obyek sujud). Rangkaian qaama, ruku dan sujud bila dihimpun maka berwujud: menghinakan diri di hadapan Allah, patuh/tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya,  serta berkomunikasi dengan-Nya dalam bentuk doa: memanggil atau menyeru nama-Nya yang indah lalu memohon sesuatu kepada-Nya.

Kejadian yang terjadi di dalam diri/jiwa/psikis/mental memberi dampak kepada tubuh/fisik. Perbuatan fisik baru bermakna atau ‘berisi’ bila perbuatan tersebut timbul atau terdorong oleh perbuatan di dalam diri, jiwa, pikiran, batin. Bila di dalam diri sedang berkecamuk perasaan hina, rendah, tak berdaya maka peristiwa itu berdampak pada aktifitas tubuh yang terlihat lemah, lemas, lunglai, membungkuk, berlutut, meratakan anggota tubuh dengan tanah (ruku-sujud), dan bisa jadi, diiringi dengan tangisan.

Paragraf di atas menekankan pentingnya aspek psikis dalam aktiftas salat sekaligus menyatakan bahwa bukti adanya aktifitas psikis adalah bergeraknya fisik.

Bila diringkas, salat adalah aktifitas mengikuti Allah dan berkomunikasi dengan Dia secara psikis atau mental yang terefleksikan secara fisik dalam bentuk gerakan berdiri, berucap, berlutut dan bersujud.

 

IV: Shalat vs Syahwat

Ketika membaca Quran Surah 19 Maryam 59, timbul kesan lawan kata dari salat adalah syahwat (فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا). Orang meninggalkan salat dan mengikuti syahwat. Kegiatan mengikuti syahwat menjadi pengganti kegiatan salat. Perlu kembali diingat bahwa makna salat yang telah dirumuskan pada tulisan ini adalah aktifitas mengikuti dan berkomunikasi dengan Allah secara psikis atau mental yang terefleksikan secara fisik dalam bentuk gerakan berdiri, berucap, berlutut, dan bersujud. Meninggalkan salat berarti meninggalkan Allah dan tidak berkomunikasi dengan Dia. Ketika seseorang meninggalkan Allah, ke mana ia berpaling (tawalla)? Ia berpaling kepada syahwat (lust, desire, pleasure).

Syahwat berasal dari akar kata (ش ه و) yang terulang sebanyak 13 kali, lima kali dalam bentuk kata benda dan sisanya kata kerja. Syahwat memuat makna: keinginan yang kuat, di mana yang menjadi obyeknya adalah hal-hal yang lezat atau menyenangkan.

Sebagian dari hal-hal yang lezat atau menyenangkan itu disebut pada Quran Surah 3 Ali Imran 14 (زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ) dan pada Quran Surah 7 Al-A’raf 81 dan 27 An-Naml 55 (… إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ).

Mereka yang mengikuti syahwat menyimpang atau berpaling dari Allah seperti yang diterangkan pada Quran Surah 4 An-Nisa 27 (وَاللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا).

Orang yang mengikuti syahwat adalah ia yang menginginkan kelezatan dari hal-hal yang duniawi, material. Sebaliknya, orang yang mengikuti salat adalah ia yang menginginkan kelezatan dari hal-hal yang ukhrawi, immaterial.

Ketika ia meninggalkan salat atau meninggalkan kelezatan ukhrawi dan mengikuti kelezatan duniawi maka ia akan menemui dirinya berada dalam kesesatan, kekecewaan, kehancuran, keburukan, kemalangan atau penderitaan abadi. Inilah yang diterangkan pada Quran Surah 19 Maryam 59 (فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا).

V: Zikir – Shalat – Menyebar di bumi – Cari karunia Allah – Zikir.

Tidak Mau Salatkan Orang Munafik?

Beberapa hari belakangan ini beredar melalui WhatsApp sepotong informasi tentang larangan mensalatkan orang munafik.

Berikut informasi yang saya maksud:

*PENGUMUMAN.*

Kami segenap Ulama, Habaib, Kyai, Ustadz, Ustadzah se DKI menyatakan MENOLAK HADIR di semua majelis/acara/maulid dll di kampung yang warganya memenangkan Ahok (lihat daftar TPS yg memenangkan Ahok)

Tindakan ini berlaku mulai hari ini hingga putaran kedua Pilkada yaitu 19 April 2017.

Bila dalam putaran kedua, kampung-kampung tersebut masih tetap memenangkan Ahok maka kami akan MENOLAK HADIR selama 5 tahun ke depan.

Kami juga bersepakat untuk tidak akan mengurus kematian, mensholatkan dan mendoakan warga yang nyata-nyata memilih Ahok. Hal ini berlaku di seluruh kampung di Jakarta. (Ttg dalilnya Silahkan baca penjelasan di bawah)

Kampung berpenduduk Tionghoa dan Nasrani saja istiqomah, mereka memilih Ahok secara solid; mereka tidak munafiq. Mereka pilih pemimpin yang seaqidah, Nasrani pilih Ahok. Kampung-kampung berpenduduk muslim justru banyak yang munafiq dan menjual aqidahnya dengan murah.

Demikian pengumuman kami, harap maklum dan silahkan taubat sebelum ajal menjemput.

*—– Dalil larangan mensholatkan Orang Munafiq —-*

وَ لاَ تُصَلّ عَلى اَحَدٍ مّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّ لاَ تَقُمْ عَلى قَبْرِه، اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللهِ وَ رَسُوْلِه وَ مَاتُوْا وَ هُمْ فسِقُوْنَ. التوبة: 84

Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan jenazah salah seorang diantara mereka (orang-orang munafiq) selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas quburnya. Sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasiq. [QS. At-Taubah : 84]

Ayat diatas turun setelah Rasulullah mensholatkan Jenazah Abdullah Bin Ubay (Dedengkot Kaum Munafiqin), Rasulullah melakukan hal tersebut atas permintaan Sahabat beliau Abdulllah bin Abdulullah Bin Ubay yang merupakan anak Abdulllah Bin Ubay, walau sebelumnya sahabat Umar Bin Khattab RA, sempat memohon agar Rasulullah tidak mensholatkan jenazah Abdulullah Bin Ubay, setelah selesai Sholat Jenazah tersebut kemudian turunlah ayat 84 dari Surat At-Taubah.
Sesudah turun ayat tersebut Nabi SAW tidak pernah lagi menshalatkan jenazah orang munafiq.

Jadi mohon maaf untuk orang2 munafiq modern, Rasulullah tidak memperbolehkan kami kaum muslimin untuk mengurus, menyolatkan & mendoakan orang2 munafiq saat ajal mereka menjemput.

Namun Allah SWT membuka pintu Taubat sebelum ajal menjemput.
~~~~~~~~~~~~~~
*Sebarkan spy Umat Islam mengerti.*

Akhir kutipan.

Kalau kita membaca Quran surah 9 At-Tawbah 101 , kita akan terkejut dengan pernyataan bahwa nabi Muhammad saw saja tidak tahu siapa orang-orang di sekeliling beliau yang munafik. Informasi tentang siapa yang munafik dan yang tidak hanya diketahui oleh Allah azza wa jalla saja.

Jadi, mereka yang -jika benar- tidak mau mengurus jenazah dan mensalatkan orang yang mereka anggap sebagai munafik sepertinya punya keistimewaan melebihi Nabi Muhammad. Mereka tahu dan mampu memastikan siapa yang munafik dan yang tidak. Sesuatu yang bertentangan dengan informasi yang dimuat dalam Quran Surah 9 At-Tawbah 101.

Pindah ke pembahasan selanjutnya.

Bila diperhatikan terjemahan Quran Surah 9 At-Tawbah 84, kalimat di dalam tanda kurung yang menyebut orang munafik dimasukkan oleh penerjemah Quran. Dimasukkannya kata munafik di dalam terjemahan tersebut dikarenakan mufassir atau penafsir Quran memberi informasi demikian.

Padahal bila kita perhatikan teks ayatnya, tidak terdapat kata orang munafik. Malah kata yang disebut adalah kafaru dan fasiqun atau kafir dan fasiq.