Akar Pohon Muslim

Ummat Islam dapat diibaratkan seperti sebuah pohon. Tulisan ini mengemukakan akar pohon tersebut.

Ruang lingkup tulisan ini adalah rentetan peristiwa yang terjadi mulai tahun 622-1258 M atau 1-656 H.

Fase awal adalah terbentuknya negara Madinah di kota Yatsrib daerah Hijaz, rumah bagi ummat Islam generasi pertama di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw (1-11 H/ 622-632 M). Fase kedua dimulai saat Abu Bakar menggantikan Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin ummat Islam disusul Umar bin Khattab, Utsman lalu Ali bin Abi Thalib, yang memindahkan ibukota dari Madinah ke Kufah dan putranya yang juga cucu Nabi Muhammad saw, Hasan bin Ali (11-41 H/632-661 M). Fase ketiga ditandai dengan berdirinya kerajaan dari keluarga Umayyah (41-133 H/661-750 M) kerajaan Umayyah ini dianggap sebagai salah satu imperium terbesar di dunia dengan kota Damaskus sebagi pusat pemerintahan. Fase keempat diisi oleh kerajaan dari keluarga Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M). Selain menjadi salah satu imperium terbesar di dunia, kerajaan Abbasiyah juga dikenal menorehkan tinta Masa Keemasan ummat Islam dengan ibukota Baghdad sebagai ikonnya.

Berbagai persitiwa terjadi di masing-masing fase yang kemudian menentukan arah sejarah.

Kepindahan Nabi Muhammad saw dari Makkah, kota kelahiran beliau ke Yatsrib menandai awal hadirnya ummat Islam di dunia dengan dua kelompok masyarakat yang menopangnya yakni Muhajirin dan Anshar. Perang Badr menjadi pijakan awal kesuksesan ummat Islam sekaligus menandai ‘rivalitas’ keluarga Hasyim (klan Nabi Muhammad saw) dengan Umayyah. Fathu Makkah atau Pembukaan kota Makkah menyebabkan berbondong-bondongnya kaum (musrik) Quraisy masuk ke dalam Islam dan membentuk kelompok Thulaqa’ sehingga menambah pilar komunitas ummat Islam setelah sebelumnya terdapat Muhajirin dan Anshar. Nabi Muhammad saw menunaikan haji dan menyampaikan khutbah. Menjelang wafatnya, beliau mengangkat Usamah bin Zayd yang saat itu berusia sekitar 17 sebagai jenderal dan mengarahkan pasukan tersebut ke imperium Bizantium (Romawi Timur, Syiria).

Fase pertama diakhiri dengan wafatnya Nabi Muhammad saw, pertemuan-pertemuan untuk menetapkan siapa pengganti beliau sebagai pemimpin ummat, tertundanya pemakamam jasad beliau selama paling sedikit 48 jam, pengurusan jasad oleh keluarga Hasyim dari anggota Al-Abbas.

Fase kedua ditandai dengan dibaiatnya Abu Bakar sebagai pengganti Nabi Muhammad saw untuk memimpin ummat. Naiknya Abu Bakar dibayangi oleh ide-ide, yang salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib-lah yang seharusnya menggantikan Nabi saw sebagai pemimpin. Terdapat sekelompok muslim yang menolak membayar zakat kepada pemerintahan Abu Bakar meski tetap mendirikan shalat. Ada pula individu yang mengaku sebagai nabi. Kedua kelompok ini diperangi oleh Abu Bakar (perang Riddah). Al-Quran telah terhimpun ke dalam mushaf di masa Abu Bakar.

Kepemimpinan Abu Bakar dilanjutkan oleh Umar bin Khattab yang mampu memperluas wilayah kekuasaan di daerah Persia (Sassanid) dan Syiria (Byzantium, Romati Timur), Afrika Utara, Armenia, Palestina. Utsman bin Affan melanjutkan kepemimpinan Umar. Di masa beliau kembali dilakukan penghimpuan Al-Quran ke dalam satu mushaf yang terkenal dengan Mushaf Utsmani serta melakukan perluasan dua Masjid, Nabawi dan Al-Haram. Hidup beliau berakhir di tangan kelompok pemberontak Mesir. Kematian Utsman kemudian menimbulkan masalah pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, yang memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah, dalam wujud perang Jamal dan perang Siffin. Efek dari perang Siffin, antara Ali (keluarga Hasyim, Muhajirin) dengan Muawiyah (keluarga Umayah, Thulaqa’) adalah bercabangnya ummat Islam ke dalam tiga kelompok, Syiah (pendukung) Ali, Khawarij (pendukung Ali yang keluar dari barisan pasukan Ali) dan Sunni. Meski putra Ali, Hasan bin Ali dibaiat namun kekuasaannya hanya berlangsung kurang lebih tujuh bulan. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah dengan beberapa persyaratan.

Fase kedua ditandai beberapa perselisihan, secara khusus, dua keluarga besar, Hasyim dan Umayah, yang akarnya boleh jadi berasal dari beberapa peristiwa di fase pertama. Ditambah beberapa peristiwa pemberontakan dari dalam kalangan muslim sendiri.

Fase ketiga, masa kerajaan Umayyah, ditandai dengan perpindahan ibukota dari Kufah ke Damaskus. Ka’bah terbakar akibat serangan pasukan Umayyah (683 M) pada saat terjadinya pemberontakan Abdullah ibn Zubayr. Pada 692, Ka’bah kembali rusak karena serangan batu. Di masa kepemimpinan Yazid (Keluarga Umayah), cucu nabi Muhammad saw, putra Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali beserta rombongannya (keluarga Hasyim) dibantai di Karbala, Iraq (61/680 M). Pemberontakan kaum Khawarij dan Syiah. Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi kerajaan (Abdul Malik bin Marwan, 646-705). Di masa Al-Walid I (668-715), wilayah kerajaan Umayyah membentang dari Iberia hingga India. Umar bin Abd Aziz (682-720 M) adalah pemimpin Umayyah yang populer di kalangan rakyat namun tidak di kalangan Umayyah, memerintahkan untuk memulai pembukuan hadits.

Di masa kerajaan Umayyah, beberapa tokoh penting hidup. Hasan Al-Bashri, seorang zahid, Wasil bin Atha, awalnya murid Hasan namun meninggalkan majelis gurunya dan dianggap sebagai tokoh awal Mu’tazilah serta Imam Abu Hanifah.

Di fase ketiga ini, beberapa ide muncul dan menjadi gerakan yang berpengaruh hingga kini. Syiah, Khawarij, Sunni, murji’ah, jabariyah, qadariyah, dan Mu’tazliah.

Fase keempat ditandai dengan perpindahan kekuasaan dari keluarga Umayyah ke keluarga Hasyim, khususnya dari kelompok Abbas. Inilah asal nama kerajaan Abbasiyah. Awalnya, pemerintahan berpusat di Kufah namun pindah ke Baghdad. Diawali dengan pemberontakan yang sukses mengambil alih kekuasaan dari keluarga Umayyah, kerajaan Abbasiyah secara praktis berada di tengah-tengah bangsa Persia. Tiga masa pemerintahan, Al-Manshur lalu Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun menciptakan kesan akan kekuatan kerajaan ini. Di masa mereka pula pengaruh Mu’tazilah yang mengedepankan akal menguatmengakibatkan dipenjaranya Imam Ahmad ibn Hanbal. Ja’far Mutawakkil (822-861 M) mengeluarkan Mu’tazilah dari lingkaran kekuasaan dan membebaskan Imam Ahmad ibn Hanbal dari penjara dan mendukung ide-idenya.

Pada masa Abbasiyah inilah lahir figur-figur intelektual. Dalam konteks Islam versi Sunni, tokoh-tokoh utamanya muncul di era ini.

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam bidang fiqh; Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Muslim, Ibnu Majah, dan Imam Tirmizi di bidang hadits; Imam Tabari (225-310 H/839-923 M, seorang Persia) pada bidang tafsir, fiqh, dan sejarah; Imam Maturidi (w.333 H) dan Imam Asyari (260-324 H) dalam bidang teologi; Imam Al-Gazali (w.505 H).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *