[WIP] Pohon Muslim

Awalnya, ummat Islam merupakan satu kesatuan yang dirintis oleh Nabi Muhammad saw hingga masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Di akhir hidupnya yang sekaligus kekuasaannya, Khalifah Ali menghadapi satu peristiwa yang menjadi awal bercabangnya ummat Islam.

Peristiwa tersebut adalah Perang Shiffin yang terjadi pada 37 M/657 M antara pasukan Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Perlu dicatat, terdapat sekelompok sahabat Nabi saw lainnya yang berdiri di belakang kedua belah pihak. Perang ini berakhir atau lebih tepatnya terhenti setelah terjadi perundingan antara kedua belah pihak untuk menemukan solusi yang adil bagi keduanya yang diistilahkan dengan tahkim atau arbitrase.

Peristiwa tahkim ini menimbulkan dampak buruk pada pihak Ali. Sebagian dari pasukan Ali keluar dari barisan. Mereka yang keluar ini kemudian disebut sebagai kelompok atau kaum Khawarij. Adapun mereka yang tetap berada dalam barisan Ali dan mendukungnya disebut sebagai Syiah Ali atau diringkas dengan Syiah.

Pada masa itu, secara de facto, terdapat dua kekuatan politik, yakni Ali dan Muawiyah meski kekuatan politik Ali melemah setelah perang Shiffin yang salah satu faktornya adalah pertempuran dengan kelompok Khawarij. Kepemimpinan Ali berakhir seiring dengan wafatnya akibat diserang oleh seorang Khawarij pada tahun 661 M, empat tahun setelah perang Shiffin.

Meski putra Ali yang juga cucu Nabi Muhammad saw, Hasan bin Ali sempat memegang tampuk kekuasaan, namun pada akhirnya Muawiya lebih dominan dan menerima penyerahan kekuasaan dari Hasan bin Ali pada tahun 661 M.

Dinamika kekuasaan antara Ali dan putranya di satu pihak dan Muawiyah di pihak lain memberi pengaruh yang besar kepada ummat Islam. Pengaruh tersebut mengkristal dan berwujud kelompok yang mendukung Ali yang disebut dengan Syiah, kelompok yang keluar dari barisan Ali yang diberi nama Khawarij, dan sisanya mereka yang (a) diam atau netral atas perselisihan Ali dengan Muawiyah maupun (b) memihak Muawiyah yang kemudian dikenal sebagai kelompok Sunni atau Ahlu Sunnah wal Jamaah.

Pada tahun 661 M atau kurang lebih tiga puluh tahun setelah Nabi Muhammad saw wafat, ummat Islam yang tadinya satu kesatuan berubah menjadi tiga cabang besar, yaitu Syiah, Khawarij, dan Sunni. Ketiga cabang ini lahir dari serangkaian peristiwa yang berputar pada poros kekuasaan politik serta upaya-upaya untuk melegitimasi kekuasaan tersebut.

Upaya melegitimasi kekuasaan dan atau tindakan mereka untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan menimbulkan dampak pada ajaran Islam, terutama Sunnah atau Hadits. Mereka menggunakan Al-Quran, Hadits, dan segala bentuk interpretasinya untuk mempertahankan ide, pemikiran, pendapat atau keputusan mereka. Ini terjadi mulai 661 M/40 H hingga detik ini.

Menariknya, setiap ide, pemikiran, pendapat,atau keputusan suatu kelompok yang menurut mereka berdasarkan Quran dan Sunnah dapat dilawan dengan ide, pemikiran, pendapat, atau keputusan yang berbeda atau bahkan bertentangan dari kelompok seberang yang juga menggunakan Quran dan Sunnah sebagai basis argumentasi.

Akibatnya, Quran dan Sunnah yang semula bertujuan sebagai hudan atau petunjuk untuk menjalani hidup islami berubah menjadi alat atau senjata untuk mempertahankan kepentingan diri dan kelompok serta pada saat yang sama menyerang kepentingan kelompok lain.

Inilah awal mula, sumber, penyebab terjadinya kekacauan, pertikaian, permusuhan, perpecahan antar sesama muslim. Inilah Pohon Muslim.

Syiah, Khawarij, dan Sunni dalam upaya mempertahankan kepentingan mereka menyusun argumentasi dengan menggunakan Quran dan Hadits serta sepak terjang para sahabat Nabi saw. Susunan argumentasi yang digunakan untuk membela kepentingan masing-masing secara perlahan menjadi teratur atau sistematis lalu ia menjadi ajaran yang diajarkan secara turun temurun, berantai dan kemudian sempurna dengan penyematan kata Islam di belakang ajaran tersebut.

Muslim yang hidup dalam lingkaran Syiah akan menerima ajaran Islam versi Syiah. Muslim yang dibesarkan dalam kalangan Khawarij akan menerima ajaran Islam versi Khawarij. Muslim yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Sunni akan menerima ajaran Islam versi Sunni.

Muslim-muslim tersebut hakekatnya tidak mempelajari Islam, yaitu Quran dan Sunnah melainkan mempelajari ajaran yang berisi argumentasi sistematis untuk membela kepentingan nenek moyang (yang hidup belasan abad lampau; starting point: sesudah Nabi Muhammad saw wafat dan mengkristal 30 tahun kemudian) dengan yang berbasis dalil Quran, Sunnah, dan praktek para sahabat Nabi Muhammad saw.

Kelompok Khawarij menggunakan ayat Al-Quran (QS 6 Al-AN’am 57, inil hukmu illa lillahi, menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah) untuk menentang keputusan Khalifah Ali yang bersedia melakukan tahkim dengan pihak Muawiyah. Penentangan tersebut diwujudkan dalam bentuk keluar dari barisan pasukan pendukung (syiah) Ali pada 37 M/657 M. Dari tindakan tersebut berkembanglah berbagai ide atau pemikiran seputar pemimpin dan kepemimpinan, perlawanan atau pemberontakan terhadap pemimpin yang dianggap zalim, orang yang dianggap melakukan dosa (besar) dapat diberi cap kafir (ide takfir) dan konsekuensinya dapat dibunuh serta berbagai ide pemikiran lainnya yang terkesan keras dan kaku.

Kaum Syiah memegang ide bahwa penerus Nabi Muhammad saw dalam hal kepemimpinan pasca beliau wafat adalah Ali bin Abi Thalib berdasarkan sebuah hadits yang populer dengan nama Hadits Ghadir Khum. Ide ini tetap dipegang meski pada kenyataannya, pendukung (syiah) Ali harus menunggu hingga Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan menuntaskan amanah sebagai khalifah. Dari ide utama soal imamah atau kepemimpinan ini, berkembang berbagai ide lainnya.

Golongan Sunni mempertahankan pendapat bahwa Nabi Muhammad saw tidak menetapkan secara spesifik siapa yang menggantikan dirinya memimpin ummat Islam asalkan dari klan Quraisy, menerima kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan (pada akhirnya) Ali sebagai para khalifah yang memperoleh petunjuk.  Pendapat utama ini, seperti pada dua kelompok sebelumnya, juga berkembang, bercabang. Pemimpin-pemimpin muslim (para khalifah yang berasal dari berbagai dinasti) diterima kepemimpinannya (bertentangan dengan Syiah) dan tidak melakukan pemberontakan terhadap pemimpin (meski zalim) selama ia masih muslim (bertentangan dengan Khawarij).

Tiga cabang besar pada pohon Muslim ini timbul dari perbedaan tentang pemimpin dan kekuasaan (politik). Dari perbedaan yang sifatnya politis ini, merembet ke bidang-bidang lain, yakni keimanan (teologi/kalam), pemikiran (filsafat), sumber dan tata cara pengambilan keputusan hukum (fiqh), dan metode membangun atau menumbuhkembangkan batin, jiwa, hati, ruhani manusia (akhlak, tasawuf). Kelompok-kelompok ini masing-masing merumuskan ajaran keimanan, pemikiran, hukum, dan akhlak yang dalam anggapan mereka berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang Syiah dan Sunni seleksi sendiri. Atau dengan kata lain, Sunnah Nabi Muhammad saw versi masing-masing kelompok.

Dari masing-masing cabang besar pada Pohon Muslim ini tumbuh berbagai dahan. Maksudnya, meski anggota kelompok menerima ide pokok tentang pemimpin dan kekuasaan (politik), namun tiap anggota kelompok rupanya berseberangan ide, pemikiran, pendapat atas masalah atau persoalan di bidang keimanan, pemikiran, hukum, dan akhlak. Sehingga, seiring dengan berlalunya masa dan berbagai peristiwa, dari tiap cabang Syiah, Khawarij, dan Sunni tumbuh berbagai macam dahan.

Pada cabang Sunni misalnya tumbuh dahan (1) keimanan (teologi/kalam) yang bernama Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah; (2) pemikiran (filsafat) yang tokohnya antara lain Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Gazali, dan Ibnu Rusyd; (3) dahan hukum (fiqh) yang diwakili empat mazhab populer, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali; serta (4) dahan ruhani manusia (akhlak, tasawuf) baik yang berwujud perkumpulan zahid atau sufi (thariqah, tarekat) di antaranya Naqsyabandiah, Qadiriyah, Khalwatiyah, Zadziliyah maupun yang hanya dalam bentuk ide atau ajaran saja dari tokoh yang berpengaruh di antaranya Hasan Al-Bashri, Junayd Al-Baghdadi, Rabiah Al-Adawiyah, maupun Ibn Arabi.

Pada cabang Syiah, dahan-dahan berikut juga bermunculan: Itsna asyariyyah (Dua belas Imam), Zaidiyah (Lima Imam), Ismailiyah (Tujuh Imam); fiqh Ja’fari, Zaidi.

Dari cabang Khawarij tumbuh beberapa dahan pula. Tidak banyak dahan tersebut yang bisa kita lihat saat ini kecuali apa yang orang sebut sebagai neo-Khawarij atau Khawarij gaya baru yang mudah memberi cap kafir bahkan kepada sesama Muslim, suka mengangkat senjata/berperang meski yang diperangi adalah pemerintahan Muslim, membunuh mereka yang dianggap (telah) kafir, dan berbagai pandangan yang keras dan kaku lainnya. Ada yang menyebutkan bahwa kelompok Abu Bakar Al-Baghdadi yang dikenal dengan (berbagai) nama: Islamic State (IS, Negara Islam), Islamic State of Iraq dan Syiria (ISIS, Negara Islam Iraq dan Suriah), atau  الدولة الإسلامية في العراق والشام (Daesh) merupakan perwujudan dari ide Khawarij yang dapat dilacak balik ke kelompok Al-Qaeda, yang pendirinya adalah Usamah bin Laden asal Saudi Arabia, sehingga erat kaitannya dengan ide Wahhabi yang dicetuskan oleh seorang teolog, Muhammad bin Abdul Wahhab (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) yang bekerja sama dengan klan Saud mendirikan kerajaan Saudi Arabia sekarang. Ide Muhammad bin Abdul Wahhab dapat dilacak akarnya hingga ke Ibnu Taimiyyah (661/1263 – 728/1328) yang diberi gelar Syaikhul Islam, pengikut mazhab (aqidah, fiqh) Imam Ahmad ibn Hanbal (780–855 /164–241).

Muslim di masa Nabi Muhammad mencapai prestasi berupa persatuan dan pendirian negara Madinah.

Muslim di generasi khulafaur rasyidun (kurang lebih 30 tahun) mencapai prestasi berupa perluasan wilayah yang pesat serta penghimpunan Al-Quran menjadi satu mushaf yang dirintis pada masa Abu Bakar dan selesai pada masa Utsman bin Affan. Selain prestasi tersebut, Muslim pada generasi ini mengalami beberapa guncangan berdasarkan informasi sejarah yang diterima secara umum. Berbagai guncangan tersebut adalah (1) perbedaan pendapat antar para sahabat tentang siapa yang memegang tampuk kekuasaan setelah Nabi Muhammad saw wafat yang dikenal dengan peristiwa (di) Tsaqifah Bani Sa’idah, (2) penolakan sebagian kelompok Muslim untuk membayar zakat kepada pemerintah Madinah yang dipimpin oleh Abu Bakr dan pengakuan beberapa individu sebagai nabi baru (ahl al-riddah) di beberapa tempat, (3) pengepungan kediaman yang berakhir dengan terbunuhnya Utsman bin Affan, sehingga mendorong terjadinya peristiwa (4) perang Jamal antara beberapa sahabat dan Aisyah ummul Mu’minin dengan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, dan (5) perang Shiffin yang telah dikemukakan pada bagian awal.

Akhir masa khulafaur rasyidun menandai dua keadaan Muslim yang belum pernah terjadi sebelumnya yaitu (1) bercabangnya ummat Islam dan (2) berubahnya sistem kekuasaan dari kekhalifan menjadi kerajaan.

Dinasti/Kerajaan dari klan/bani Umayyah memegang tampuk kekuasaan atas ummat Islam selama kurang lebih 90 tahun, 661-750 M / 41-133 H. Pusat pemerintahan atau ibukota kerajaan berada di Damaskus, Syiria. Perluasan wilayah kekuasaan terjadi pada masa ini meliputi  Tunisia (Afrika) hingga Asia Tengah dan Eropa (Spanyol). Peristiwa Karbala (61 H/680 M), di mana Husain bin Ali, putra Khalifah Ali dari Fatimah binti Muhammad saw, cucu Rasulullah saw, beserta pengikutnya dibantai oleh Yazid, putra sekaligus pengganti Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi salah satu titik hitam dari sejarah Kerajaan Umayyah.

Masa Umayyah ditandai peralihan generasi dari para sahabat Nabi Muhammad saw kepada generasi tabi’in (13-148 H) yaitu mereka yang hidup sezaman dengan para sahabat dan berguru kepada mereka. Ada dua sosok ulama dari generasi tabi’in yang patut dikemukakan di sini yakni Hasan Al-Bashri (21-110 H/642-728) dan Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M). Hasan Al-Bashri , yang hidup di masa terjadinya peristiwa Karbala dan pemberontakan Abdullah ibn Al-Zubair terhadap khalifah Umayyah, terkait dengan Washil ibn Atha, sosok yang dianggap sebagai pendiri Mu’tazilah. Adapun Abu Hanifah adalah sosok pendiri mazhab Hanafi.

Hasan Al-Bashri dianggap sebagai seorang zahid. Banyak kata-kata bijak serta kisah-kisah yang dikatakan berasal darinya atau melibatkan dirinya. Hanya saja tidak ada karya tulis dari beliau yang sampai kepada kita saat ini. Tidak juga diketahui posisi beliau terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada masanya. Yang menarik darinya adalah hubungannya dengan Washil ibn Atha'(80-131 H/700-748 M), sosok yang dianggap sebagai pendiri dahan Mu’tazilah yang menitikberatkan penggunaan rasio atau akal.

Abu Hanifah, pendiri mazhab fiqh pertama kalangan Sunni, juga dikenal sebagai ahl ra’yi atau orang yang menggunakan akal dalam memecahkan suatu masalah. Bahkan disebut sebagai orang yang pertama kali memformluasikan dan menggunakan metode qiyas atau analogi. Abu Hanifah, seorang Persia,  hidup dan mengalami peralihan kekuasaan dari kerajaan Umayyah ke kerajaan Abbasiyah. Ia sezaman dengan Washil ibn Atha.

Pertanyaan, mengapa di masa tabi’in justru muncul dahan yang mengedepankan penggunaan akal dan menjadi dominan di masa kerajaan Abbasiyah? Apakah karena lokasi mereka di Basrah dan Kufah? Perlu diingat, Kufah merupakan ibukota pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat juga menetap di sana.

Kerajaan Abbasiyah menggantikan peran kerajaan Umayyah. Kerajaan Abbasiyah dimulai pada tahun 132 H/750 M dengan pusat pemerintahan di kota Kufah, kota yang juga menjadi pilihan khalifah Ali bin Abi Thalib ketika memindahkan pusat kekuasaan dari kota Madinah. Namun, pada tahun 762 M, Al-Mansur mendirikan kota Baghdad dan menjadikannya ibukota. Perpindahan ke pusat bangsa Persia mencerminkan kuatnya pengaruh bangsa Persia terhadap kerajaan Arab ini.

Pemberontakan terhadap kerajaan Umayyah yang sukses oleh Abu Al-Abbas As-Saffah menjadi awal dari berdirinya kerajaan Abbasiyah. As-Saffah menggunakan orang-orang dari berbagai latar belakang agama untuk mengisi berbagai posisi di pemerintahannya dan, dengan bantuan dari orang-orang Cina, mendirikan pabrik kertas pertama. Al-Mu’tasim menjadi pemimpin terakhir kerajaan Abbasiyah dengan ibukota Baghdad. Kekuasaannya sekaligus kota Baghdad dan kerajaan Abbasiyah berakhir oleh serbuan Hulagu Khan, seorang Mongol, pada tahun 656 H/1258 M.

Imam Malik (93-179 H/712-179 M), pendiri mazhab fiqh Maliki, hidup semasa dengan Abu Hanifah (93-179 H/712-795) bahkan belajar dari beliau dan juga dari Ja’far As-Shadiq yang juga dianggap sebagai imam keenam oleh kalangan Syiah. Imam Malik menetap di Madinah dan mengalami masa kerajaan Umayyah, Al-Walid I hingga kerajaan Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid. Ini berarti beliau juga hidup semasa dengan Washil ibn Atha'(80-131 H/700-748 M). Imam Malik menulis kitab hadits al-Muwatta’ yang oleh sebagian ulama dianggap salah satu dari Enam Kitab Hadits yang utama.

Imam Syafii, pendiri mazhab fiqh Syafii, hidup dalam rentang waktu 150-204 H/767-819 dan termasuk ke dalam kelompok tabi’-tabi’in. Imam Syafii tidak mengalami masa kerajaan Umayyah. Beliau hidup pada masa kerajaan Abbasiyah mulai dari pemerintahan Al-Mansur hingga Al-Ma’mun. Beliau lahir di tahun di mana Imam Abu Hanifah wafat. Imam Syafii bertemu dengan Imam Malik dan berguru kepadanya.

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H/780-855 M) hidup pada abad ketiga hijriyah dan berada di luar lingkaran tabi’-tabi’in, pendiri mazhab fiqh Hanbali, berguru kepada Imam Syafii. Imam Ahmad masih berusia remaja ketika Imam Malik wafat. Beliau menetap di wilayah Baghdad, kota yang dibangun oleh Al-Mansur, 762 M pada masa kerajaan Abbasiyah. Imam Ahmad adalah guru dari beberapa ahli hadits terkenal seperti Imam Bukhari (194-256 H/810-870 M), Imam Abu Da’ud (202-275 M/817-889 M), Imam Muslim (206-261 H/821-875 M). Ini tidak mengherankan karena beliau sendiri adalah ahli hadits dan menyusun kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal.

Penulis kitab Sahih Bukhari, Imam Bukhari (194-256 H/810-870 M) hidup di masa kerajaan Abbasiyah mulai dari pemerintahan Al-Amin hingga Al-Mu’tamid. Lahir di Bukhara dan wafat di Samarqand (dahulu merupakan wilayah yang disebut Khurasan kini masuk ke dalam wilayah Uzbekistan) merupakan seorang Persia. Beliau dianggap mengikuti mazhab Hanbali meski kalangan Syafiiyah juga mengklaim bahwa Imam Bukhari mengikuti mazhab Imam Syafii.

Imam Abu Daud (202-275 M/817-889 M), pengarang kitab Sunan Abu Daud, koleksi empat ribu lebih hadits, hidup pada masa kerajaan Abbasiyah, mulai dari Al-Ma’mun hingga Al-Mu’tamid. Beliau berguru baik kepada Imam Ahmad bin Hanbal maupun kepada Imam Bukhari. Beliau adalah seorang Persia yang lahir di Sijistan (di wilayah Afganistan sekarang) dan wafat di Basrah (Irak sekarang). Tentang sama seperti gurungan, Imam Bukhari, Abu Daud merupakan pengikut mazhab fiq Hanbali meski juga dikatakan beliau mengikuti mazhab Syafii.

Imam Muslim (206-261 H/821-875 M) adalah pengarang kitab Sahih Muslim, di mana para ulama menempatkan kitab yang berisi lebih dari sembilan ribu hadits pada posisi kedua di bawah kitab Sahih Bukhari. Beliau merupakan seorang Persia yang dilahirkan dan wafat di kota Naisapur (Iran). Beliau semasa dengan Abu Daud dan berguru pula kepada Imam Ahmad bin Hanbal serta Imam Bukhari.

Sunan Ibnu Majah ditulis oleh Muhammad ibn Yazid Ibn ‘Abdullah al-Rab’i al-Qazwini yang populer dengan sebutan Ibn Majah, seorang Persia,  (209-273 H/824-887 M) berisi sekitar empat ribu hadits. Beliau hidup pada masa kerajaan Abbasiyah, mulai dari pemerintahan Al-Amin hingga Al-Mu’tamid. Terjadi perbedaan pendapat mengenai posisi kitab Sunan Ibnu Majah, ada yang menganggap kitab Muwatta karya Imam Malik lebih layak menempati posisi sebagai Enam Kitab Hadits (Kutub As-Sittah) dibandingkan Sunan Ibnu Majah. Adalah upaya Ibn al-Qaisarani yang menempatkan Sunan Ibnu Majah pada kelompok Enam Kitab Hadits.

Imam Tirmizi (209-279 H/824-892 M), seorang Arab yang menyusun kitab Sunan Tirmizi yang berisi sekitar empat ribu hadits. Beliau berguru kepada Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud. Beliau hidup semasa dengan Ibn Majah.

Imam Nasa’i (214-303 H/829-915 M), seorang Persia yang menyusun kitab Sunan Ash-Sughra yang berisi lebih dari lima ribu hadits. Beliau hidup pada masa kerajaan Abbasiyah, mulai dari pemerintahan Al-Ma’mun hingga Al-Muqtadir. Imam Nasa’i berguru kepada Imam Abu Daud.

Rentang masa hidup para penyusun kitab hadits yang utama dimulai dari kelahiran Imam Bukhari hingga wafatnya Imam Nasa’i adalah 194 H/810 M  hingga 303 H/915. Mereka adalah ‘penerus’ dari tiga imam mazhab fiqh Sunni yaitu Malik, Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal yang hidup pada generasi sebelumnya yaitu 93 H/712 M (tahun kelahiran Imam Malik) hingga wafatnya Imam Ahmad pada 241 H/855 M.

Sistematika ajaran Islam versi Sunni disusun dalam rentang waktu 93 H/712 M hingga 303 H/915 atau lebih dari 200 tahun lamanya.

Sebagai catatan, dari keenam penyusun kitab hadits utama, hanya seorang yang berasal dari bangsa Arab, yaitu Imam Tirmizi, sisanya berasal dari bangsa Persia. Sedangkan dari empat imam mazhab fiqh, hanya seorang yang bukan Arab, yakni Imam Abu Hanifah.

Kita dapat memasukkan beberapa nama tambahan yang ide-idenya membentuk ajaran Islam versi Sunni, yakni Imam Asy’ari (260-324 H/873-935 M), Imam Maturidi (333 H/853–944 M), Imam Tabari (225-310 H/839-923 M), Imam Tahawi (239-321 H/853-933 M), Abu Bakr AL-Baqillani (330-403 H/950-1013), dan Imam Al-Gazali (450-505 H/1058-1111 M).

Menarik untuk diperhatikan, para imam mazhab dan penyusun kitab hadits utama kelompok Sunni hidup pada masa Abbasiyah yang sebagian masa kekuasaannya menganut dahan keimanan (teologi/kalam) Mu’tazilah yang mengedepankan penggunaan rasio atau akal yang ‘berlawanan’ dengan (secara umum) para imam mazhab dan (secara khusus) para penyusun kitab hadits yang berisi ‘tradisi‘.

Imam Asyari (260-324 H/873-935 M), sosok keturunan Arab yang lahir di Basrah, mengikuti mazhab fiqh Syafii, seorang yang pada awalnya mengikuti dahan keimanan (teologi/kalam) Mu’tazilah namun meninggalkan dahan tersebut di usia 40 tahun. Beliau merupakan keturunan dari Abu Musa Al-Asyari, sahabat Nabi Muhammad saw dan negosiator dari syiah Ali bin Abi Thalib ketika peristiwa tahkim pada perang Shiffin. Imam Asyari hidup pada masa kerajaan Abbasiyah, Al-Mu’tamid hingga Ar-Radhi. Beliau merupakan peletak dasar  Asy’ariyah,salah satu dahan keimanan (teologi/kalam) sebagai respon atas ide-ide Mu’tazilah.

 

Imam Abu Hanifah, seorang Persia, dianggap sebagai ahl al-ra’y yang mengedepankan penggunaan akal dalam mengambil kesimpulan hukum. Beliau adalah pionir dalam hal susunan pembahasan dalam bidang fiqh. Beliau sempat dipenjara pada 146 H oleh Al-Mansur. Pemikirannya memiliki pengaruh pada kerajaan Abbasiyah awal melalui muridnya Abu Yusuf di masa pemerintahan Al-Mahdi, Al-Hadi, dan Al-Rasyid. Imam Malik dianggap sebagai ahl al-hadits, yang oleh Al-Mansur diminta untuk menulis kitab hadits Al-Muwatta. Beliau pernah dihukum cambuk. Imam Malik mengutamakan amal ahl- al-Madinah atau praktek keseharian orang-orang terpelajar penduduk Madinah sebagai dasar atau corak hukumnya. Imam Ahmad ibn Hanbal mengalami masa mihnah. Beliau dipenjara pada 814 M hingga 847. Beliau dibebaskan oleh Al-Mutawakkil yang mengakhiri masa mihnah.

****

Bila cerita sejarah yang sampai kepada kita benar, maka komunitas muslim atau ummat Islam bermasalah sejak awal, paska wafatnya Nabi Muhammad saw.

Pertama, masalah kesukuan. Kedua, masalah keduniawian. Ketiga, masalah dokumentasi sumber ajaran. Keempat, masalah penggunaan akal pikiran.

Masalah kesukuan yang termasuk di dalamnya masalah kepemimpian, merujuk kepada ‘rivalitas’ bani Hasyim dengan bani Umayyah yang bernaung dalam suku Quraisy. Nabi Muhammad saw adalah anggota bani Hasyim. Demikian pula dengan Ali, putra Abu Thalib dan Abdullah, putra dari Abbas (yang kelak menjadi klan Banu Abbasiyah). Abu Thalib dan Abbas adalah paman Nabi saw. Ketika Nabi berdakwah di Makkah, beliau dan banu Hasyim yang menyokongnya mengalami pemboikotan oleh kaum Quraisy.

Rivalitas yang paling nyata terjadi pada pertempuran Badar di mana banu Hasyim berhadapan dengan banu Umayyah

Pada saat Nabi saw wafat, terjadi perbedaan pendapat tentang siapa yang menggantikan Nabi saw sebagai pemimpin. Dalam sejarah, peristiwa ini dikenal dengan Tsqifah.

Di satu pihak, Ali bin Abi Thalib dan syi’ah (pendukung) beliau menganggap kepemimpinan ummat diserahkan kepada Ali yang merupakan anggota banu Hasyim berdasarkan hadits yang populer dengan nama “Ghadir Khum (غدير خم)”.

Masalah kedua adalah keduniawian. Ini merujuk kepada perilaku Mu’awiyah bin Abi Sufyan, banu Umayyah, yang ketika memegang tampuk kekuasaan yang ia ambil dari Hasan bin Ali, banu Hasyim, mengubah gaya kepemimpinan menjadi kerajaan dan mewariskan kepada keturunannya dan klannya tampuk kepemimpinan ummat. Perilaku ini berdampak pada pemisahan urusan pemerintahan dengan urusan agama dalam arti, peran pemimpin sebagai salah satu ‘sumber hukum’ menjadi rusak atau hilang. Dalam pembahasan soal hukum, keempat khulafaur rasyidin menjadi salah satu rujukan hukum atau berperan seperti “imam mazhab”. Peran ini diputus pada masa Muawiyah dan berlanjut ke generasi setelahnya.

Masalah ketiga adalah masalah dokumentasi sumber ajaran yaitu Al-Quran dan Hadits. Sumber pokok ajaran Islam, Al-Quran, terdokumentasi secara tertulis di masa awal ummat Islam, yaitu pada masa Abu Bakar dan Utsman.

Dalam rentang waktu 20 tahun setelah Nabi Muhammad saw wafat, ummat Islam telah memiliki dokumen tertulis sebagai sumber ajaran. Al-Quran sebagai sumber pokok ajaran Islam menjadi satu-satunya dokumen tertulis yang tersebar di kalangan komunitas Muslim hingga muncul dokumen tertulis lainnya, yakni Hadits yang kemudian menjadi salah satu ‘sumber masalah’.

Dokumen tertulis yang berisi hadits yang paling awal dan sampai pada masa kita ini adalah buku Al-Muwatta’ karya Imam Malik (93-179 H/711-795). Ada kekosongan selama lebih dari satu abad. Masa kekosongan ini cukup, bagi sebagian kalangan, untuk mempermasalahkan keotentikan hadits dan posisinya sebagai sumber ajaran Islam utama setelah Al-Quran.

Masalah keempat adalah penggunaan akal ketika berhadapan dengan teks tradisional, yakni Al-Quran dan Hadits. Di satu sudut, berdiri kalangan yang menempatkan penggunaan akal sebagai hal yang utama, prioritas, dalam memahami teks tradisional. Di sisi yang berseberangan, terdapat kalangan yang menutup pintu bagi penggunaan akal dalam memahami teks tradisional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *