Karang dan Buih di Peristiwa Sari Roti

Renungan.

Ummat Islam patut mencontoh karang dari sisi keteguhan, kekokohannya dan menghindari perilaku buih yang mudah terombang ambing, ke kanan lalu ke kiri, ke depan lalu ke belakang, sang buih rapuh karena ia akan mengikuti ke mana pun arus kan membawanya untuk kemudian lenyap tak berbekas.

Ummat Islam dapat menjadi seperti buih bila ia meninggalkan akal sehat dan mengedepankan perasaan, terutama kecintaan dan kemarahan. Ada contoh yang berguna untuk menggambarkan betapa rapuhnya ummat Islam ketika ia mendahulukan perasaan dalam mengambil keputusan.

Peristiwa Sari Roti.

Sari Roti adalah sebuah merek roti yang diproduksi oleh PT. Nippon Indosari Corpindo (www.sariroti.com). Ia mendapatkan pujian dari sekelompok ummat Islam pada peristiwa Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016 yang berpusat di kawasan Monas. Tak lama berselang, tepatnya setelah produsen Sari Roti mengeluarkan pernyataan ‘tidak terlibat dalam aksi tersebut’, kelompok yang sama mengekspresikan ketidaksenangannya kepada Sari Roti yang berwujud seruan untuk memboikot produk tersebut.

Peralihan yang Ekstrim, dari Cinta menjadi Benci

Perubahan suasana dalam waktu singkat atau mood swing dapat menjadi tanda adanya gangguan kejiwaan. Perubahan drastis dalam kurun waktu yang singkat dari memuji menjadi membenci adalah tanda tindakan memuji dan membenci tidak didasari atas akal sehat melainkan perasaan.

Frasa “bertindak dengan perasaan” cirinya adalah tindakan tersebut tidak diasari atas fakta, tidak didahului dengan penelitian dan pemeriksaan fakta. Inilah buih.

Mereka yang bertindak berdasarkan akal sehat mesti telah melalui proses penelitian dan pemeriksaan fakta-fakta yang ada, pemisahan mana asumsi mana fakta. Inilah karang.

Makassar 9 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *