[WIP] Menjadi Seorang Muslim

Berawal dari pra sesuatu yang belum dapat disebut

Fase kejadian di dalam rahim dan peniupan ruh Allah

Lahir ke dunia hingga masa remaja awal

Masa remaja awal hingga akhir: menuntut dan memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Masa dewasa awal: menikah dan memiliki penghasilan (memiliki pekerjaan atau karir)

Masa dewasa tengah hingga akhir: berkontribusi terhadap masyarakat

Masa tua: mempersiapkan kehidupan berikutnya.

***

Awalnya, manusia ada namun belum menjadi sesuatu yang dapat disebut, lam yakun syaian mazkura (QS 76 Al-Insan 1).

Allah azza wa jalla di suatu masa berkehendak menjadikan suatu ciptaan sebagai khalifah di planet bumi. (QS 2 Al-Baqarah 30)

Ciptaan yang hendak dijadikan khalifah di planet bumi dibentuk dari tanah bumi () lalu disempurnakan kemudian ditiupkan ke dalam ciptaan tersebut ruh Allah (QS 15 Al-Hijr 29, QS 38 Shad 72).

Proses tersebut melahirkan makhluk baru yang terdiri dari dua unsur, yaitu tanah planet bumi dan ruh Allah azza wa jalla. Makhluk ini disebut manusia. Ia memiliki nafs (diri, self) yang sempurna/seimbang (QS 91 Asy-Syams 7) dengan potensi melakukan tindakan fujur dan taqwa (QS 91 Asy-Syams 8). Makhluk yang disebut manusia ini diberi nama Adam.

Adam lalu diajari dan belajar nama ‘segala hal’ (QS 2 Al-Baqarah 31) kemudian menerima perintah Allah azza wa jalla untuk menyebutkan kepada ‘segala hal’ nama-nama mereka (QS 2 Al-Baqarah 33). Perintah selanjutnya untuk Adam dan pasangannya ada tinggal di dalam kebun (jannah, surga) dan memakan apa yang ada di dalam kebun tersebut yang mereka berdua sukai namun keduanya dilarang mendekati suatu pohon (QS 2 Al-Baqarah 35, QS 7 Al-A’raf 19). Larangan tersebut dilanggar oleh Adam dan pasangannya setelah mereka bedua mengikuti nasehat setan (QS 7 Al-A’raf 20-21), keduanya merasakan pohon  tersebut (zaaqa al-syajarah, QS 7 Al-A’raf 22) dengan cara memakan sesuatu darinya (QS 20 Thaha 121) sehingat aurat (sesuatu yang buruk, aib, cacat yang menimbulkan rasa malu bila dilihat atau diketahui) keduanya tampak dan mereka berupaya menutupinya; Adam dan pasangannya telah menunjukkan ketidakpatuhan kepada Allah azza wa jalla dan melakukan kesalahan.

Namun, tak seperti Iblis yang berputus asa dari rahmat dan tidak memohon ampunan Allah, Adam dan pasangannya menyadari dan mengakui kesalahan mereka kemudian memohon ampunan dan rahmat Allah azza wa jalla (QS 07 Al-A’raf 23).

Respon Allah atas penyesalan dan permohonan ampun Adam dan pasangannya adalah penerimaan permohonan ampun sehingga pelanggaran mereka berdua  dihapus dan nama baik mereka kembali bersih (QS 02 Al-Baqarah 37). Dalam kondisi bersih (dari pelanggaran; dosa sudah tidak ada lagi karena telah dihapus), Allah azza wa jalla mengingatkan keduanya akan musuhnya, Iblis (QS 07 Al-A’raf 22) dan memerintahkan keduanya untuk keluar dari kebun, turun ke bumi, yang merupakan tanah yang terhampar untuk mendiami tanah tersebut dan menjadikannya tempat bersenang-senang (QS 7 Al-A’raf 24), tempat kematian dan kebangkitan (QS Al-A’raf 25).

Di planet bumi inilah Adam, pasangannya serta anak keturunannya hidup guna menjalankan tugas sebagai khalifah fi al-ardh (QS 02 Al-Baqarah 38) sebagai sebuah amanah yang bersedia mereka pikul (QS 33 Al-Ahzab 72) serta harus bekerja kepada Allah azza wa jalla  (QS 51 Adz-Dzariyat 56) dalam bayang-bayang godaan Iblis (QS 07 Al-A’raf 16).

Di bumi, Adam dan pasangannya berkembangbiak, melahirkan anak keturunan baru yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi (QS 30 Ar-Rum 20; QS 42 Asy-Syura 11). Proses kelahiran anak-cucu Adam dimulai dari setetes nuthfah (QS 22 Al-Hajj 5; QS 53 An-Najm 46; QS 75 Al-Qiyamah 37) kemudian berkembang di dalam rahim dalam berbagai tahapan penciptaan (QS 23 Al-Mu’minun 12-4). Takkala janin di dalam rahim ini telah siap, ditiupkanlah ruh (QS 15 Al-Hijr 29; QS 32 As-Sajdah 9; QS 38 Shad 72) yang telah menerima perjanjian alastu (QS 07 Al-A’raf 172) serta amanah (QS 33 Al-Ahzab 72). Tak berapa lama kemudian, janin yang telah ‘berisikan’ ruh ini keluar dari rahim menjadi sebuah khalq baru yang disebut manusia (QS 23 Al-Mu’minun).

Ada beberapa anak Adam yang secara khusus diceritakan di dalam Al-Quran, tepatnya pada Surah 5 Al-Maidah 27-31.

Pada awal karirnya sebagai khalifah fil ardh, manusia diberi nama (QS 3 Ali Imran 36). Oleh ibunya, ia kemudian disusui (QS 02 Al-Baqarah 233, QS 31 Luqman 14,QS 46 Al-Ahqaf 15) selama dua tahun. Ia pun dididik (QS 3 Ali Imran 37, QS 17 Al-Isra 24, QS 28 Al-Qashash 12, QS 31 Luqman 13 sd 19) oleh orangtuanya.

Bagi manusia yang kehilangan orangtua di masa kecil (yatim-piatu), proses pemeliharaan dilakukan, terutama oleh keluarga dekatnya. Yatim harus dianggap atau diperlakukan sebagai keluarga atau saudara (QS 33 Al-Ahzab 5). Harta benda yatim tidak boleh diganggu atau diambil dengan cara yang tidak pantas, seperti la taqhar (QS 93 Ad-Dhuha 9). Mereka yang memperlakukan yatim dengan perlakuan tidak pantas disebut sebagai pendusta agama () yang berakibat dibatasinya rezeki (QS 89 Al-Fajr 16-17), masuk ke dalam dan memakan api (QS 4 An-Nisa 10).

Keluarga atau pengasuh yatim hendaknya menyisihkan harta mereka untuk kepentingan pengasuhan dan pendidikan serta perlakuan yang adil dan baik (QS 2 Al-Baqarah 83, 177, 215, dan 220, QS 4 An-Nisa 36 dan 127, QS 6 Al-An’am 152, QS 90 Al-Balad 14-15, QS 17 Al-Isra 34) hingga sang yatim mencapai usia dewasa dan dapat melangsungkan pernikahan (QS 4 An-Nisa 6, QS 6 Al-An’am 152). Dengan pengasuhan dan pendidikan yang baik, balasan terbaik akan diterima (QS  76 Al-Insan 5-22).

Pada usia remaja, manusia memulai proses interaksi dengan dirinya dan sekitarnya. Ia memulai proses mengenal diri. Ia mengalami perubahan fisik. Dorongan seksual mulai timbul dari dalam dirinya. Ketertarikannya terhadap lawan jenisnya mulai terlihat. Ia bertindak tanpa terlebih dahulu memikirkan atau merenungkan akibat tindakannya dan konsekuensi yang akan ia terima.

Ia mulai menjelajahi bumi maupun lautan, mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya belum dapat ia jangkau (QS 10 Yunus 22, QS 18 Al-Kahfi 60-dan seterusnya, QS 35 Fathir 44). Ia mengunjungi reruntuhan atau peninggalan atau lokasi tempat kaum terdahulu (QS 20 Thaha 128). Perjalanan tersebut dilakukan dengan perlengkapan atau bekal (QS 16 An-Nahl 80). Di tengah perjalanan, ia dapat melakukan perusakan terhadap lingkungan sekitarnya (QS2 Al-Baqarah 205) atau sebaliknya, mencari dan menemukan karunia Allah azza wa jalla (QS 73 Al-Muzammil 20) serta berhaji (22 Al-Hajj 27). Selama perjalanan, ia dianjurkan untuk  mengamati (22 Al-Hajj 46), bersikap rendah hati (QS 25 Al-Furqan 63) dan sederhana (QS 31 Luqman 19) serta tidak memperlihatkan keangkuhan atau kesombongan (QS 17 Al-Isra 37, QS 31 Luqman 18).

Ia mencari dan menikmati kesenangan dan perhiasan dunia (QS 3 Ali Imran 14, QS 28 Al-Qashas 60) yang memperdayakan (QS 3 Ali Imran 185, QS 57 Al-Hadid 20) yang diperoleh dari hasil kezaliman (QS 10 Yunus 23) atau hasil dari perbuatan dusta (QS 10 Yunus 69-70). Di sisi lain, ada kesenangan yang diperoleh dari perbuatan baik yaitu hasil dari permohonan ampun dan taubat (QS 11 Hud 3). Masa remaja juga ditandai dengan nuansa petualangan, mencoba berbagai hal yang baru atau yang lagi ngetren entah itu kebaikan maupun keburukan dikarenakan belum mampu membedakan atau memilah dan memilih dengan baik mana kebaikan dan mana keburukan (QS 2 Al-Baqarah 216, QS 4 An-Nisa 19, QS 24 An-Nur 11).

Ia ingin diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok (QS 5 Al-Maidah 83, QS 9 At-Taubah 119, QS 27 An-Naml 44, QS 48 Al-Fath 29, QS 57 Al-Hadid 14,) menyesal tidak bersama Rasul (QS 25 Al-Furqan 27, QS 24 An-Nur 62), berjalan bersama saudara (QS 12 Yusuf 63), bersama dengan kaum beriman (QS 4 An-Nisa 146), bersama di dalam penjara (QS 12 Yusuf 36), bersama selamat dari azab atau bencana (QS 11 Hud 58, 66, 94), kebersamaan untuk menolong (QS 20 Thaha 47), kebersamaan dengan orang yang menyeru atau memanggil Allah (QS 18 Al-Kahfi 28) atau bersujud bersama (QS 15 Al-Hijr 30) atau ruku bersama (QS 3 Ali Imran 43), dan bersama-sama shalat (QS 73 Al-Muzammil 20), bersama dalam ujian hidup (QS 2 Al-Baqarah 249), bersama dalam pertempuran (QS 4 An-Nisa 71), jangan bersama orang zalim (QS 7 Al-A’raf 47), bersama-sama dengan keluarga masuk kebun (QS 13Ar-Ra’d 23), kebersamaan dengan orang lain memerlukan kesabaran (QS 18 Al-Kahfi 72), turun dari kebun bersama-sama (QS 20 Thaha 123), tenggelam bersama orang yang buruk (QS 17 Al-Isra 103), dibelenggu (QS 14 Ibrahim 49) dan pada saat yang sama secara perlahan melepaskan diri dari bayang-bayang orang tua (putra Nuh). Dirinya didominasi dorongan melakukan keburukan, nafs ammarah bissu’ (QS 12 Yusuf 53), kalbunya memerintahkan jasadnya untuk melakukan keburukan atau kerusakan.

Mulai menggunakan kekuatan mental berupa pendengaran, penglihatan, dan proses berpikir. Dijadikan  pendengaran, penglihatan dan hati, afidah (QS 46 Al-Ahqaf 26) pada manusia yang dikehendaki oleh Allah (QS 35 Fathir 22). Oleh karena itu Allah yang menguasai pendengaran pandangan manusia (QS 10 Yunus 31) dan berkuasa untuk melenyapkan atau menghilangkan kedua kemapuan tersebut (QS 2 Al-Baqarah 20). Allah menghidupkan pendengaran, penglihatan dan afidah agar manusia bersyukur, menggunakannya sesuai dengan arahan atau petunjuk-Nya (QS 16 An-Nahl 78, QS 23 Al-Mu’minun 78) namun sangat sedikit yang mensyukurinya (QS 32 As-Sajdah 9, QS 67 Al-Mulk 23) dalam bentuk berpaling atau tidak ingin mendengarkan kabar gembira dan peringatan dari para utusan Allah (QS 41 Fussilat 4) akibatnya adalah penyesalam (QS 67 Al-Mulk 10). Ketiganya ditanyai, dimintai pertanggungjawaban (QS 17 Al-Isra 36) dan menjadi saksi (QS 41 Fussilat 20) serta kesaksian ketiganya tidak dapat disembunyikan atau dihalangi (QS 41 Fussilat 22). Pendengaran dan hati, qalb, dapat dikunci sementara penglihatan ditutupi (QS 2 Al-Baqarah 7, QS 16 An-Nahl 108, QS 45 Al-Jatisyah 23), penguncian telinga dengan ditulikan dan penutupan mata dengan dibutakan (QS 47 Muhammad 23). Ciri atau tandanya adalah tidak menyimak perkataan (QS 47 Muhammad 16). Pendengaran dan penglihatan dapat diambil sementara hati qalb dapat dikunci Allah (QS 6 Al-An’am 46). Menyampaikan apa yang telah didengar meski sebagian besar merupakan informasi dusta, tidak benar (QS 26 As-Syu’ara 223). Pendengaran dan penglihatan menjadi lebih jelas di hari akhirat kelak (QS 19 Maryam 38). Betapa tajam penglihatan dan pendengaran Allah (QS 18 Al-Kahfi 26) sehingga Allah mengetahui keadaan orang yang mendengarkan (QS 17 Al-Isra 47) dan mendengarkan peristiwa (QS 26 As-Syu’ara 15) serta doa (QS 3 Ali Imran 38). Jangan menjadi seperti orang munafik yang berkata mereka mendengarkan padahal tidak (QS 8 Al-Anfal 21) dan mendengarkan mereka (QS 9 At-taubah 47, QS 63 Al-Munafiqun 4). Jadilah manusia yang mendengarkan lalu mengikuti apa yang paling baik dari yang ia dengarkan (QS 39 Az-Zumar 18) dan tersentuh dengan jatuhnya air mata setelah mendengarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad saw (QS 5 Al-Maidah83). Orang yang mendengarkan hendaknya memperhatikan ayat Allah berupa hujan dan hidupnya bumi dengan hujan tersebut (QS 16 An-Nahl 65) dan tanda berupa tidur di waktu malam dan bekerja di waktu siang (QS 30 Ar-Rum 23) serta binasanya ummat terdahulu (QS 32 As-Sajdah 26). Jin mendengarkan Al-Quran (QS 46 Al-Ahqaf 29-30, QS 72 Al-Jin 1). Ada yang berupaya mendengarkan hal-hal di/dari langit (QS 52 At-Thur 38). Firaun menanyakan kepada pengikutnya apakah tidak mendengarkan (QS 26 As-Syu’ara 25).

Dengan potensi mental tersebut ia mulai memperhatikan dan memikirkan sekitarnya maupun dirinya.

Akhir dari masa remaja adalah tumbuh dan berkembang hingga mencapai kondisi al-qawiyy al-amiin (QS 28 Al-Qashas 26). Ia memasuki fase kehidupan berikutnya sebagai manusia dewasa yang memiliki kualitas kuat dan berintegritas, terpercaya dan dapat diandalkan (al-qawiyy al-amiin) yang direpresentasikan oleh nabi Musa alaih as-salaam. Berkompetisi dalam kebaikan, sibaaq fi al-khairat (QS 3 Ali Imran 114, QS 5 Al-Maidah 48, QS 21 Al-Anbiya 90, QS 23 Al-Mu’minun 56 dan 61), QS 35 Fatir 32)

dan mendewasakan diri. Ia mulai mencari tahu siapa dirinya yang sesungguhnya (min ruhi, cahaya); mengenali potensi diri berupa fujur dan taqwa (QS 91 Asy-Syams 8); menggunakan pendengaran, penglihatan, qalb, fuad, dan lubb-nya; mengamati diri (QS 75 Al-Qiyamah 14); mendewasakan diri dengan tazkiyah nafs (QS 91 Asy-Syams 9)

Dengan pendengaran, penglihatan, qalb, fuad, dan lubbnya, ia kemudian mengamati berbagai fenomena alam semesta. Ia memperhatikan berbagai macam penciptaan. Ia mentadabburi alam semesta dan dirinya.

 

Hasil tadabburnya membawanya menemukan Allah azza wa jalla. Dzat yang tunggal/esa, unik (ahad), tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya, tidak memiliki anak dan sekutu. Dzat yang maha pemurah (rahman rahim), dzat yang memerintah.

 

Manusia ditempatkan di bumi dan diberi perlengkapan atau fasilitas hidup, ma’ayisya (QS 07 Al-A’raf 10) dan al-atsas (QS 16 An-Nahl 80 dan QS 19 Maryam 74) . Ditundukkan bagi manusia segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi (QS 45 Al-Jatsiyah 13) seperti: gunung dan angin (QS 38 Shad 18, 36), burung (QS 21 Al-Anbiya 79), sungai, lautan, kapal, ikan, dan perhiasan (QS 14 Ibrahim 32; QS 16 An-Nahl 14; QS 45 Al-Jatsiyah 12), bintang, matahari dan bulan serta malam dan siang (QS 14 Ibrahim 33; QS 16 An-Nahl 12) begitu pula hewan ternak yang banyak manfaatnya (QS 16 An-Nahl 5, 80).

Langit dan bumi ditundukkan agar dapat menjadi ladang tempat manusia bekerja untuk Allah azza wa jalla. Wujud pekerjaan (perbuatan, tindakan, aktifitas, amal) manusia di atas ladang-Nya bermacam-macam namun dapat terangkum dalam sebuah kata sederhana: ya’buduni, beribadah (bekerja, berbuat, beraktifitas, beramal) kepada-Ku (QS 51 Adz-Dzariyat 56).

Seluruh karya manusia dipersembahkan kepada Allah azza wa jalla karena manusia bekerja kepada Allah, mengabdi kepada-Nya dan menerima upah/gaji/imbalan dari-Nya. Konsekuensinya, apa yang harus dan tidak boleh dikerjakan manusia ditentukan Allah azza wa jalla. Bagi yang bekerja dengan baik akan memperoleh imbalan yang baik dan mereka yang bekerja dengan buruk akan menerima balasan yang buruk pula (QS 02 Al-Baqarah 286).

Kemampuan manusia bekerja dengan baik atau buruk dikarenakan pada dirinya telah diilhamkan fujur dan taqwa (QS 91 Asy-Syams 8) sebagai tanda kesempurnaannya.

Imbalan baik sebagai hasil pekerjaan baik manusia berupa hayatan thayyibatan (QS 16 An-Nahl 97). Wujudnya berupa:

1) salaam yaitu kedamaian, ketenangan, keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia (QS),

2) husn al-khatimah pada saat kematian (QS),

3) kondisi diri yang sempurna atau tidak cacat pada saat dibangkitkan (QS),

4) penghitungan perbuatan yang mudah (QS), dan

5) masuk ke dalam al-jannah (QS).

6) memperoleh ridha Allah

Bagaimana agar Anda dapat bekerja lillahi (kepada dan untuk Allah) dengan baik sehingga Anda memperoleh hayatan thayyibatan ?

Pertama, pergunakan akal Anda untuk memikirkan, merenungkan, dan memahami ayat-ayat Allah azza wa jalla, baik ayat yang qawliyah (perkataan, firman), ayat (yang terjadi)  pada diri, dan ayat yang ada pada alam semesta.

Kedua, terus terhubung atau berkomunikasi dengan Allah azza wa jalla melalui dzikr, doa, dan shalat yang thuma’ninah.

Ketiga, selalu bergerak lillahi, dalam pengertian niat atau motif Anda dalam bekerja, beraktifitas, beramal murni karena dan untuk Allah azza wa jalla semata (inilah yang disebut dengan ikhlash).

Ketiga hal di atas mesti Anda upayakan setiap saat, tidak boleh berhenti atau putus (QS 11 Hud 112; QS 41 Fushshilat 6; QS 42 Asy-Syura 15).

Seperti apa pekerjaan yang baik itu?

Pada tingkat individu/pribadi, pekerjaan yang baik itu dirangkum dalam kata taqwa.

Pada tingkat keluarga, kerabat, serta relasi dengan individu yang lain, pekerjaan yang baik itu dirangkum dalam kata ihsaan (QS 02 Al-Baqarah 83; QS 04 An-Nisa 36; QS 06 Al-An’am 151; QS 16 An-Nahl 90; QS 17 Al-Isra 23; QS 46 Al-Ahqaf 15).

Pada tingkat masyarakat (negara-bangsa, warga dunia, kaum atau ummat beragama) pekerjaan baik itu adalah sibaq fi al-khairat (QS 02 Al-Baqarah 148; QS 05 Al-Maidah 48) dan amr al-ma’ruf nahy al-munkar (QS 03 Ali Imran 104, 110, 114; QS 07 Al-A’raf 157; QS 09 At-Taubah 71, 112; QS 22 Al-Hajj 41). Ditambah dengan seruan khusus kepada ahl al-kitab kepada kalimatin sawaain (QS 03 Ali Imran 64).

Agar pekerjaan baik ini dapat terwujud dan berdampak kepada seluruh manusia di muka bumi, Allah azza wa jalla menganugerahkan kekuasaan kepada mereka yang beriman dan berbuat baik (QS 24 An-Nur 55) dan setelah menerima kekuasaan tersebut tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan al-ma’ruf dan mencegah al-munkar (QS 22 Al-Hajj 21). Namun bila meninggalkan perbuatan baik tersebut lalu melakukan dosa maka akan dibinasakan (QS 06 Al-Anam 6).

Penundukan alam semesta bagi manusia, pemberian kekuasaan ini agar manusia tidak menganggap remeh keberadaannya di dunia ini sebagai suatu permainan (QS 23 Al-Mu’minun 115) bersyukr kepada Allah azza wa jalla (QS 34 Saba 13; QS 45 Al-Jatsiyah 12)

Seluruh anak-cucu Adam mulia (QS 17 Al-Isra 70) karenanya jangan sampai ada manusia yang merendahkan manusia lainnya (QS 49 Al-Hujurat 11) dan bila Anda menginginkan kemuliaan yang lebih hendak Anda meraihnya melalui perbuatan-perbuatan taqwa (QS 49 Al-Hujurat 13).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *