[WIP] Menjadi Seorang Muslim

Berawal dari pra sesuatu yang belum dapat disebut

Fase kejadian di dalam rahim dan peniupan ruh Allah

Lahir ke dunia hingga masa remaja awal

Masa remaja awal hingga akhir: menuntut dan memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Masa dewasa awal: menikah dan memiliki penghasilan (memiliki pekerjaan atau karir)

Masa dewasa tengah hingga akhir: berkontribusi terhadap masyarakat

Masa tua: mempersiapkan kehidupan berikutnya.

***

Awalnya, manusia ada namun belum menjadi sesuatu yang dapat disebut, lam yakun syaian mazkura (QS 76 Al-Insan 1).

Allah azza wa jalla di suatu masa berkehendak menjadikan suatu ciptaan sebagai khalifah di planet bumi. (QS 2 Al-Baqarah 30)

Ciptaan yang hendak dijadikan khalifah di planet bumi dibentuk dari tanah bumi () lalu disempurnakan kemudian ditiupkan ke dalam ciptaan tersebut ruh Allah (QS 15 Al-Hijr 29, QS 38 Shad 72).

Proses tersebut melahirkan makhluk baru yang terdiri dari dua unsur, yaitu tanah planet bumi dan ruh Allah azza wa jalla. Makhluk ini disebut manusia. Ia memiliki nafs (diri, self) yang sempurna/seimbang (QS 91 Asy-Syams 7) dengan potensi melakukan tindakan fujur dan taqwa (QS 91 Asy-Syams 8). Makhluk yang disebut manusia ini diberi nama Adam.

Adam lalu diajari dan belajar nama ‘segala hal’ (QS 2 Al-Baqarah 31) kemudian menerima perintah Allah azza wa jalla untuk menyebutkan kepada ‘segala hal’ nama-nama mereka (QS 2 Al-Baqarah 33). Perintah selanjutnya untuk Adam dan pasangannya ada tinggal di dalam kebun (jannah, surga) dan memakan apa yang ada di dalam kebun tersebut yang mereka berdua sukai namun keduanya dilarang mendekati suatu pohon (QS 2 Al-Baqarah 35, QS 7 Al-A’raf 19). Larangan tersebut dilanggar oleh Adam dan pasangannya setelah mereka bedua mengikuti nasehat setan (QS 7 Al-A’raf 20-21), keduanya merasakan pohon  tersebut (zaaqa al-syajarah, QS 7 Al-A’raf 22) dengan cara memakan sesuatu darinya (QS 20 Thaha 121) sehingat aurat (sesuatu yang buruk, aib, cacat yang menimbulkan rasa malu bila dilihat atau diketahui) keduanya tampak dan mereka berupaya menutupinya; Adam dan pasangannya telah menunjukkan ketidakpatuhan kepada Allah azza wa jalla dan melakukan kesalahan.

Namun, tak seperti Iblis yang berputus asa dari rahmat dan tidak memohon ampunan Allah, Adam dan pasangannya menyadari dan mengakui kesalahan mereka kemudian memohon ampunan dan rahmat Allah azza wa jalla (QS 07 Al-A’raf 23).

Respon Allah atas penyesalan dan permohonan ampun Adam dan pasangannya adalah penerimaan permohonan ampun sehingga pelanggaran mereka berdua  dihapus dan nama baik mereka kembali bersih (QS 02 Al-Baqarah 37). Dalam kondisi bersih (dari pelanggaran; dosa sudah tidak ada lagi karena telah dihapus), Allah azza wa jalla mengingatkan keduanya akan musuhnya, Iblis (QS 07 Al-A’raf 22) dan memerintahkan keduanya untuk keluar dari kebun, turun ke bumi, yang merupakan tanah yang terhampar untuk mendiami tanah tersebut dan menjadikannya tempat bersenang-senang (QS 7 Al-A’raf 24), tempat kematian dan kebangkitan (QS Al-A’raf 25).

Di planet bumi inilah Adam, pasangannya serta anak keturunannya hidup guna menjalankan tugas sebagai khalifah fi al-ardh (QS 02 Al-Baqarah 38) sebagai sebuah amanah yang bersedia mereka pikul (QS 33 Al-Ahzab 72) serta harus bekerja kepada Allah azza wa jalla  (QS 51 Adz-Dzariyat 56) dalam bayang-bayang godaan Iblis (QS 07 Al-A’raf 16).

Di bumi, Adam dan pasangannya berkembangbiak, melahirkan anak keturunan baru yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi (QS 30 Ar-Rum 20; QS 42 Asy-Syura 11). Proses kelahiran anak-cucu Adam dimulai dari setetes nuthfah (QS 22 Al-Hajj 5; QS 53 An-Najm 46; QS 75 Al-Qiyamah 37) kemudian berkembang di dalam rahim dalam berbagai tahapan penciptaan (QS 23 Al-Mu’minun 12-4). Takkala janin di dalam rahim ini telah siap, ditiupkanlah ruh (QS 15 Al-Hijr 29; QS 32 As-Sajdah 9; QS 38 Shad 72) yang telah menerima perjanjian alastu (QS 07 Al-A’raf 172) serta amanah (QS 33 Al-Ahzab 72). Tak berapa lama kemudian, janin yang telah ‘berisikan’ ruh ini keluar dari rahim menjadi sebuah khalq baru yang disebut manusia (QS 23 Al-Mu’minun).

Ada beberapa anak Adam yang secara khusus diceritakan di dalam Al-Quran, tepatnya pada Surah 5 Al-Maidah 27-31.

Pada awal karirnya sebagai khalifah fil ardh, manusia diberi nama (QS 3 Ali Imran 36). Oleh ibunya, ia kemudian disusui (QS 02 Al-Baqarah 233, QS 31 Luqman 14,QS 46 Al-Ahqaf 15) selama dua tahun. Ia pun dididik (QS 3 Ali Imran 37, QS 17 Al-Isra 24, QS 28 Al-Qashash 12, QS 31 Luqman 13 sd 19) oleh orangtuanya.

Bagi manusia yang kehilangan orangtua di masa kecil (yatim-piatu), proses pemeliharaan dilakukan, terutama oleh keluarga dekatnya. Yatim harus dianggap atau diperlakukan sebagai keluarga atau saudara (QS 33 Al-Ahzab 5). Harta benda yatim tidak boleh diganggu atau diambil dengan cara yang tidak pantas, seperti la taqhar (QS 93 Ad-Dhuha 9). Mereka yang memperlakukan yatim dengan perlakuan tidak pantas disebut sebagai pendusta agama () yang berakibat dibatasinya rezeki (QS 89 Al-Fajr 16-17), masuk ke dalam dan memakan api (QS 4 An-Nisa 10).

Keluarga atau pengasuh yatim hendaknya menyisihkan harta mereka untuk kepentingan pengasuhan dan pendidikan serta perlakuan yang adil dan baik (QS 2 Al-Baqarah 83, 177, 215, dan 220, QS 4 An-Nisa 36 dan 127, QS 6 Al-An’am 152, QS 90 Al-Balad 14-15, QS 17 Al-Isra 34) hingga sang yatim mencapai usia dewasa dan dapat melangsungkan pernikahan (QS 4 An-Nisa 6, QS 6 Al-An’am 152). Dengan pengasuhan dan pendidikan yang baik, balasan terbaik akan diterima (QS  76 Al-Insan 5-22).

Pada usia remaja, manusia memulai proses interaksi dengan dirinya dan sekitarnya. Ia memulai proses mengenal diri. Ia mengalami perubahan fisik. Dorongan seksual mulai timbul dari dalam dirinya. Ketertarikannya terhadap lawan jenisnya mulai terlihat. Ia bertindak tanpa terlebih dahulu memikirkan atau merenungkan akibat tindakannya dan konsekuensi yang akan ia terima.

Ia mulai menjelajahi bumi maupun lautan, mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya belum dapat ia jangkau (QS 10 Yunus 22, QS 18 Al-Kahfi 60-dan seterusnya, QS 35 Fathir 44). Ia mengunjungi reruntuhan atau peninggalan atau lokasi tempat kaum terdahulu (QS 20 Thaha 128). Perjalanan tersebut dilakukan dengan perlengkapan atau bekal (QS 16 An-Nahl 80). Di tengah perjalanan, ia dapat melakukan perusakan terhadap lingkungan sekitarnya (QS2 Al-Baqarah 205) atau sebaliknya, mencari dan menemukan karunia Allah azza wa jalla (QS 73 Al-Muzammil 20) serta berhaji (22 Al-Hajj 27). Selama perjalanan, ia dianjurkan untuk  mengamati (22 Al-Hajj 46), bersikap rendah hati (QS 25 Al-Furqan 63) dan sederhana (QS 31 Luqman 19) serta tidak memperlihatkan keangkuhan atau kesombongan (QS 17 Al-Isra 37, QS 31 Luqman 18).

Ia mencari dan menikmati kesenangan dan perhiasan dunia (QS 3 Ali Imran 14, QS 28 Al-Qashas 60) yang memperdayakan (QS 3 Ali Imran 185, QS 57 Al-Hadid 20) yang diperoleh dari hasil kezaliman (QS 10 Yunus 23) atau hasil dari perbuatan dusta (QS 10 Yunus 69-70). Di sisi lain, ada kesenangan yang diperoleh dari perbuatan baik yaitu hasil dari permohonan ampun dan taubat (QS 11 Hud 3). Masa remaja juga ditandai dengan nuansa petualangan, mencoba berbagai hal yang baru atau yang lagi ngetren entah itu kebaikan maupun keburukan dikarenakan belum mampu membedakan atau memilah dan memilih dengan baik mana kebaikan dan mana keburukan (QS 2 Al-Baqarah 216, QS 4 An-Nisa 19, QS 24 An-Nur 11).

Ia ingin diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok (QS 5 Al-Maidah 83, QS 9 At-Taubah 119, QS 27 An-Naml 44, QS 48 Al-Fath 29, QS 57 Al-Hadid 14,) menyesal tidak bersama Rasul (QS 25 Al-Furqan 27, QS 24 An-Nur 62), berjalan bersama saudara (QS 12 Yusuf 63), bersama dengan kaum beriman (QS 4 An-Nisa 146), bersama di dalam penjara (QS 12 Yusuf 36), bersama selamat dari azab atau bencana (QS 11 Hud 58, 66, 94), kebersamaan untuk menolong (QS 20 Thaha 47), kebersamaan dengan orang yang menyeru atau memanggil Allah (QS 18 Al-Kahfi 28) atau bersujud bersama (QS 15 Al-Hijr 30) atau ruku bersama (QS 3 Ali Imran 43), dan bersama-sama shalat (QS 73 Al-Muzammil 20), bersama dalam ujian hidup (QS 2 Al-Baqarah 249), bersama dalam pertempuran (QS 4 An-Nisa 71), jangan bersama orang zalim (QS 7 Al-A’raf 47), bersama-sama dengan keluarga masuk kebun (QS 13Ar-Ra’d 23), kebersamaan dengan orang lain memerlukan kesabaran (QS 18 Al-Kahfi 72), turun dari kebun bersama-sama (QS 20 Thaha 123), tenggelam bersama orang yang buruk (QS 17 Al-Isra 103), dibelenggu (QS 14 Ibrahim 49) dan pada saat yang sama secara perlahan melepaskan diri dari bayang-bayang orang tua (putra Nuh). Dirinya didominasi dorongan melakukan keburukan, nafs ammarah bissu’ (QS 12 Yusuf 53), kalbunya memerintahkan jasadnya untuk melakukan keburukan atau kerusakan.

Mulai menggunakan kekuatan mental berupa pendengaran, penglihatan, dan proses berpikir. Dijadikan  pendengaran, penglihatan dan hati, afidah (QS 46 Al-Ahqaf 26) pada manusia yang dikehendaki oleh Allah (QS 35 Fathir 22). Oleh karena itu Allah yang menguasai pendengaran pandangan manusia (QS 10 Yunus 31) dan berkuasa untuk melenyapkan atau menghilangkan kedua kemapuan tersebut (QS 2 Al-Baqarah 20). Allah menghidupkan pendengaran, penglihatan dan afidah agar manusia bersyukur, menggunakannya sesuai dengan arahan atau petunjuk-Nya (QS 16 An-Nahl 78, QS 23 Al-Mu’minun 78) namun sangat sedikit yang mensyukurinya (QS 32 As-Sajdah 9, QS 67 Al-Mulk 23) dalam bentuk berpaling atau tidak ingin mendengarkan kabar gembira dan peringatan dari para utusan Allah (QS 41 Fussilat 4) akibatnya adalah penyesalam (QS 67 Al-Mulk 10). Ketiganya ditanyai, dimintai pertanggungjawaban (QS 17 Al-Isra 36) dan menjadi saksi (QS 41 Fussilat 20) serta kesaksian ketiganya tidak dapat disembunyikan atau dihalangi (QS 41 Fussilat 22). Pendengaran dan hati, qalb, dapat dikunci sementara penglihatan ditutupi (QS 2 Al-Baqarah 7, QS 16 An-Nahl 108, QS 45 Al-Jatisyah 23), penguncian telinga dengan ditulikan dan penutupan mata dengan dibutakan (QS 47 Muhammad 23). Ciri atau tandanya adalah tidak menyimak perkataan (QS 47 Muhammad 16). Pendengaran dan penglihatan dapat diambil sementara hati qalb dapat dikunci Allah (QS 6 Al-An’am 46). Menyampaikan apa yang telah didengar meski sebagian besar merupakan informasi dusta, tidak benar (QS 26 As-Syu’ara 223). Pendengaran dan penglihatan menjadi lebih jelas di hari akhirat kelak (QS 19 Maryam 38). Betapa tajam penglihatan dan pendengaran Allah (QS 18 Al-Kahfi 26) sehingga Allah mengetahui keadaan orang yang mendengarkan (QS 17 Al-Isra 47) dan mendengarkan peristiwa (QS 26 As-Syu’ara 15) serta doa (QS 3 Ali Imran 38). Jangan menjadi seperti orang munafik yang berkata mereka mendengarkan padahal tidak (QS 8 Al-Anfal 21) dan mendengarkan mereka (QS 9 At-taubah 47, QS 63 Al-Munafiqun 4). Jadilah manusia yang mendengarkan lalu mengikuti apa yang paling baik dari yang ia dengarkan (QS 39 Az-Zumar 18) dan tersentuh dengan jatuhnya air mata setelah mendengarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad saw (QS 5 Al-Maidah83). Orang yang mendengarkan hendaknya memperhatikan ayat Allah berupa hujan dan hidupnya bumi dengan hujan tersebut (QS 16 An-Nahl 65) dan tanda berupa tidur di waktu malam dan bekerja di waktu siang (QS 30 Ar-Rum 23) serta binasanya ummat terdahulu (QS 32 As-Sajdah 26). Jin mendengarkan Al-Quran (QS 46 Al-Ahqaf 29-30, QS 72 Al-Jin 1). Ada yang berupaya mendengarkan hal-hal di/dari langit (QS 52 At-Thur 38). Firaun menanyakan kepada pengikutnya apakah tidak mendengarkan (QS 26 As-Syu’ara 25).

Dengan potensi mental tersebut ia mulai memperhatikan dan memikirkan sekitarnya maupun dirinya.

Akhir dari masa remaja adalah tumbuh dan berkembang hingga mencapai kondisi al-qawiyy al-amiin (QS 28 Al-Qashas 26). Ia memasuki fase kehidupan berikutnya sebagai manusia dewasa yang memiliki kualitas kuat dan berintegritas, terpercaya dan dapat diandalkan (al-qawiyy al-amiin) yang direpresentasikan oleh nabi Musa alaih as-salaam. Berkompetisi dalam kebaikan, sibaaq fi al-khairat (QS 3 Ali Imran 114, QS 5 Al-Maidah 48, QS 21 Al-Anbiya 90, QS 23 Al-Mu’minun 56 dan 61), QS 35 Fatir 32)

dan mendewasakan diri. Ia mulai mencari tahu siapa dirinya yang sesungguhnya (min ruhi, cahaya); mengenali potensi diri berupa fujur dan taqwa (QS 91 Asy-Syams 8); menggunakan pendengaran, penglihatan, qalb, fuad, dan lubb-nya; mengamati diri (QS 75 Al-Qiyamah 14); mendewasakan diri dengan tazkiyah nafs (QS 91 Asy-Syams 9)

Dengan pendengaran, penglihatan, qalb, fuad, dan lubbnya, ia kemudian mengamati berbagai fenomena alam semesta. Ia memperhatikan berbagai macam penciptaan. Ia mentadabburi alam semesta dan dirinya.

 

Hasil tadabburnya membawanya menemukan Allah azza wa jalla. Dzat yang tunggal/esa, unik (ahad), tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya, tidak memiliki anak dan sekutu. Dzat yang maha pemurah (rahman rahim), dzat yang memerintah.

 

Manusia ditempatkan di bumi dan diberi perlengkapan atau fasilitas hidup, ma’ayisya (QS 07 Al-A’raf 10) dan al-atsas (QS 16 An-Nahl 80 dan QS 19 Maryam 74) . Ditundukkan bagi manusia segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi (QS 45 Al-Jatsiyah 13) seperti: gunung dan angin (QS 38 Shad 18, 36), burung (QS 21 Al-Anbiya 79), sungai, lautan, kapal, ikan, dan perhiasan (QS 14 Ibrahim 32; QS 16 An-Nahl 14; QS 45 Al-Jatsiyah 12), bintang, matahari dan bulan serta malam dan siang (QS 14 Ibrahim 33; QS 16 An-Nahl 12) begitu pula hewan ternak yang banyak manfaatnya (QS 16 An-Nahl 5, 80).

Langit dan bumi ditundukkan agar dapat menjadi ladang tempat manusia bekerja untuk Allah azza wa jalla. Wujud pekerjaan (perbuatan, tindakan, aktifitas, amal) manusia di atas ladang-Nya bermacam-macam namun dapat terangkum dalam sebuah kata sederhana: ya’buduni, beribadah (bekerja, berbuat, beraktifitas, beramal) kepada-Ku (QS 51 Adz-Dzariyat 56).

Seluruh karya manusia dipersembahkan kepada Allah azza wa jalla karena manusia bekerja kepada Allah, mengabdi kepada-Nya dan menerima upah/gaji/imbalan dari-Nya. Konsekuensinya, apa yang harus dan tidak boleh dikerjakan manusia ditentukan Allah azza wa jalla. Bagi yang bekerja dengan baik akan memperoleh imbalan yang baik dan mereka yang bekerja dengan buruk akan menerima balasan yang buruk pula (QS 02 Al-Baqarah 286).

Kemampuan manusia bekerja dengan baik atau buruk dikarenakan pada dirinya telah diilhamkan fujur dan taqwa (QS 91 Asy-Syams 8) sebagai tanda kesempurnaannya.

Imbalan baik sebagai hasil pekerjaan baik manusia berupa hayatan thayyibatan (QS 16 An-Nahl 97). Wujudnya berupa:

1) salaam yaitu kedamaian, ketenangan, keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia (QS),

2) husn al-khatimah pada saat kematian (QS),

3) kondisi diri yang sempurna atau tidak cacat pada saat dibangkitkan (QS),

4) penghitungan perbuatan yang mudah (QS), dan

5) masuk ke dalam al-jannah (QS).

6) memperoleh ridha Allah

Bagaimana agar Anda dapat bekerja lillahi (kepada dan untuk Allah) dengan baik sehingga Anda memperoleh hayatan thayyibatan ?

Pertama, pergunakan akal Anda untuk memikirkan, merenungkan, dan memahami ayat-ayat Allah azza wa jalla, baik ayat yang qawliyah (perkataan, firman), ayat (yang terjadi)  pada diri, dan ayat yang ada pada alam semesta.

Kedua, terus terhubung atau berkomunikasi dengan Allah azza wa jalla melalui dzikr, doa, dan shalat yang thuma’ninah.

Ketiga, selalu bergerak lillahi, dalam pengertian niat atau motif Anda dalam bekerja, beraktifitas, beramal murni karena dan untuk Allah azza wa jalla semata (inilah yang disebut dengan ikhlash).

Ketiga hal di atas mesti Anda upayakan setiap saat, tidak boleh berhenti atau putus (QS 11 Hud 112; QS 41 Fushshilat 6; QS 42 Asy-Syura 15).

Seperti apa pekerjaan yang baik itu?

Pada tingkat individu/pribadi, pekerjaan yang baik itu dirangkum dalam kata taqwa.

Pada tingkat keluarga, kerabat, serta relasi dengan individu yang lain, pekerjaan yang baik itu dirangkum dalam kata ihsaan (QS 02 Al-Baqarah 83; QS 04 An-Nisa 36; QS 06 Al-An’am 151; QS 16 An-Nahl 90; QS 17 Al-Isra 23; QS 46 Al-Ahqaf 15).

Pada tingkat masyarakat (negara-bangsa, warga dunia, kaum atau ummat beragama) pekerjaan baik itu adalah sibaq fi al-khairat (QS 02 Al-Baqarah 148; QS 05 Al-Maidah 48) dan amr al-ma’ruf nahy al-munkar (QS 03 Ali Imran 104, 110, 114; QS 07 Al-A’raf 157; QS 09 At-Taubah 71, 112; QS 22 Al-Hajj 41). Ditambah dengan seruan khusus kepada ahl al-kitab kepada kalimatin sawaain (QS 03 Ali Imran 64).

Agar pekerjaan baik ini dapat terwujud dan berdampak kepada seluruh manusia di muka bumi, Allah azza wa jalla menganugerahkan kekuasaan kepada mereka yang beriman dan berbuat baik (QS 24 An-Nur 55) dan setelah menerima kekuasaan tersebut tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan al-ma’ruf dan mencegah al-munkar (QS 22 Al-Hajj 21). Namun bila meninggalkan perbuatan baik tersebut lalu melakukan dosa maka akan dibinasakan (QS 06 Al-Anam 6).

Penundukan alam semesta bagi manusia, pemberian kekuasaan ini agar manusia tidak menganggap remeh keberadaannya di dunia ini sebagai suatu permainan (QS 23 Al-Mu’minun 115) bersyukr kepada Allah azza wa jalla (QS 34 Saba 13; QS 45 Al-Jatsiyah 12)

Seluruh anak-cucu Adam mulia (QS 17 Al-Isra 70) karenanya jangan sampai ada manusia yang merendahkan manusia lainnya (QS 49 Al-Hujurat 11) dan bila Anda menginginkan kemuliaan yang lebih hendak Anda meraihnya melalui perbuatan-perbuatan taqwa (QS 49 Al-Hujurat 13).

 

Cara Melakukan Tabayyun

Quran Surah 49 Al-Hujurat 6 memberi kita panduan bagaimana menangani suatu informasi yang sampai kepada kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Sahih International
O you who have believed, if there comes to you a disobedient one with information, investigate, lest you harm a people out of ignorance and become, over what you have done, regretful.

Indonesian
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Bagaimana memeriksa suatu informasi dengan teliti?

Informasi dalam bentuk teks (kata, frasa, kalimat) diteliti dengan cara menandai dan membedakan jenis kata berikut: kata kerja, kata benda, dan kata sifat.

Kata kerja dan kata benda (termasuk angka) menggambarkan fakta. Kata sifat menggambarkan opini atau pendapat. Yang ingin kita peroleh dari suatu informasi adalah fakta; yang ingin kita hindari dari suatu informasi adalah fiksi. Fakta dekat dengan kebenaran karena yang ia sajikan adalah sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi sementara opini dekat dengan kekeliruan atau kesalahan karena yang ia sajikan belum tentu ada atau terjadi.

Setelah menemukan dan menandai mana kata kerja dan kata benda serta mana kata sifat, langkah selanjutnya adalah memeriksa kata kerja dan kata benda yang termuat dalam informasi tersebut atau dalam ungkapan lain, periksalah fakta/data yang ada.

Cara melakukan pemeriksaan fakta/data adalah mengajukan serangkaian pertanyaan berikut:

Apa?

Siapa?

Kapan?

Di mana?

Kenapa/mengapa?

Bagaimana?

Berapa?

Dari tujuh daftar kata tanya di atas, empat kata tanya teratas merupakan hal pokok untuk diajukan untuk menguji suatu fakta/data.

Inilah tabayyun.

Sebelum Berislam, Kenali Allah Terlebih Dulu

Mengenal Allah azza wa jalla melalui ayat-ayat-Nya. Ayat artinya tanda, sign. Ayat Allah artinya tanda yang menunjukkan keber-ADA-an Allah, menuntun jalan kepada-Nya hingga berjumpa (liqa) dengan-Nya.

Secara umum, tanda Allah terbagi ke dalam tiga kelompok, yakni alam semesta, Al-Quran, dan diri manusia.

Allah azza wa jalla membentangkan alam semesta ini agar Dia dikenali, diketahui. Melacak keberadaan Allah azza wa jalla melalui alam semesta dan isinya, yang dalam bahasa Al-Quran diungkapkan dengan frasa langit, bumi beserta seluruh isinya, as-samawaat wa al-ardh wa ma fihima.

Pengamatan terhadap alam semesta menuntun kepada ide tauhid: ada pencipta, pengatur, pengawas (rabb) alam semesta dan Dia Tunggal-Esa.

Alam semesta adalah kitab tauhid. Membaca, memelajari, dan merenungkannya akan membawa kita bertemu dengan Allah.

Ayat kedua adalah Al-Quran, kalam atau firman Allah azza wa jalla.

Ayat Wa Lan Tardha…

Salah satu ayat populer di kalangan ummat Islam bila berbicara relasi antar pemeluk agama adalah wa lan tardha yang terdapat pada QS 2 Al-Baqarah 120. Berikut teks lengkapnya:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Sahih International

And never will the Jews or the Christians approve of you until you follow their religion. Say, “Indeed, the guidance of Allah is the [only] guidance.” If you were to follow their desires after what has come to you of knowledge, you would have against Allah no protector or helper.

Indonesian

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

***
Berikut hikmah yang dapat diambil dari ayat tersebut:
  1. Ayat tersebut berbicara tentang ketidaksenangan kaum Yahudi (di Madinah, saat itu) dan kaum Nasrani (Najran, masa itu) bukan tentang kekuatan mereka; bukan karena mereka kuat sehingga mereka tidak senang.
  2. Ada yang menyebut konteks ayat di atas adalah tentang arah kiblat shalat.
  3. Ketika mereka menawarkan ide, konsep, gagasan, wacana, gaya hidup, way of life dan sejenisnya (millah) kita meresponnya dengan “kami memiliki/mempunyai/menguasai ide, konsep, gagasan, wacana, gaya hidup, way of life dan sejenisnya sendiri yang berasal dari petunjuk Allah
  4. Ketika kita mengikuti ide, konsep, gagasan, wacana, gaya hidup, way of life dari mereka, baik secara sadar maupun tidak sadar, maka kita kehilangan perlindungan dan pertolongan Allah. Situasi kita menjadi pihak yang diremehkan, berada di ‘bawah’, tertinggal.

Mentalitas Korban

Mentalitas korban dimiliki oleh orang yang kecenderungan berpikirnya sebagai korban atas peristiwa yang tidak diinginkan atau kurang menguntungkan bagi dirinya akan sulit berkembang serta selalu menyalahkan pihak lain sebagai penyebabnya. Ia tidak akan pernah mandiri, senantiasa bergantung kepada orang lain untuk membereskan masalahnya.

Orang yang beriman (mu’min) tidak memiliki mentalitas korban. Keimanannya membuat cara berpikirnya mandiri dan bertanggungjawab.

Bila terjadi sesuatu yang buruk, ia berpikir bahwa hal itu telah diizinkan Allah azza wa jalla sebagai ujian untuknya yang harus ia respon dengan cara belajar mengatasi atau menjawab soal ujian tersebut dan ia senantiasa atau pada akhirnya lulus dari ujian-cobaan tersebut.

Berikutnya, kejadian buruk selalu dipandang sebagai hasil perbuatan diri sendiri. Sehingga seorang mu’min mengevaluasi dirinya, mencari perbuatan buruk apa yang ia mungkin telah lakukan secara sengaja maupun tidak.

Begitu perbuatan buruk ditemukan, ia memohon ampunan-Nya dan bertaubat, kembali kepada track Allah azza wa jalla lalu mengubah perbuatan buruk tersebut dengan perbuatan baik.

Inilah kitab diri seorang mu’min.

***

Ayat Quran untuk direnungkan:

…. وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ….

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah (QS 2 Al-Baqarah 102)

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (QS 3 Ali Imran 145)

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 64 At-Taghabun 11)

مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS 41 Fussilat 46; baca juga QS 45 Al-Jatisyah 15).

قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ ….

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS 2 Al-Baqarah 249)

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS 3 Ali Imran 139)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2 Al-Baqarah 216)

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS 29 Al-Ankabut 2)

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS 3 Ali Imran 54)

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 9 At-Tawbah 40)

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS 8 Al-Anfal 60).

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS 5 Al-Maidah 69)

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS 10 Yunus 62)

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS 4 An-Nisa 76)

 

Menjadi Seorang Muslim

Muslim adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah azza wa jalla.

Yang ia serahkan kepada Allah azza wa jalla adalah dirinya=ke-aku-annya=egonya.

Ketika ia telah menyerahkan diri, keakuan, atau egonya, ia berada dalam posisi kosong, tak punya apa-apa, tiada.

 

///

  1. Orang yang lebih baik agamanya adalah mereka yang menyerahkan dirinya kepada Allah azza wa jalla dan mengerjakan kebaikan (QS 4 An-Nisa 125)
  2. Penyerahan diri kepada Alla azza wa jalla adalah agama alam semesta (QS 3 Ali Imran 83)
  3. Nikmat yang sempurna menjadi pendorong agar kita menyerahkan diri kepada Allah azza wa jalla (QS 16 An-Nahl 81)
  4. Menyerahkan diri kepada Alla azza wa jalla menjadikan kita memperoleh hidayah atau petunjuk (QS 3 Ali Imran 20)
  5. Menyerahkan diri kepada Allah azza wa jalla menjadikan kita berada pada jalur yang lurus atau benar (QS 72 Al-Jinn 14)
  6. Menyerahkan diri kepada Allah lalu diikuti dengan melakukan perbuatan baik dianugerahi kekokohan (QS 31 Luqman 22)
  7. Menyerahkan diri kepada Allah lalu diikuti dengan melakukan perbuatan baik dianugerahi pahala di sisi Tuhan dan tidak khawatir maupun sedih (QS 2 Al-Baqarah 112)
  8. Perintah Tuhan agar kita menyerahkan diri kepada-Nya: QS 2 Al-Baqarah 131; QS 6 Al-An’am 14; QS 39 Az-Zumar 12; QS 40 Ghafir 66

///

(4:65:18) wayusallimū and submit ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(2:112:3) aslama submits بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ
(2:131:5) aslim Submit (yourself) إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(2:131:7) aslamtu I (have) submitted (myself) إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(3:20:4) aslamtu I have submitted فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ
(3:20:14) a-aslamtum Have you submitted yourselves وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ
(3:20:16) aslamū they submit فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ
(3:83:6) aslama (have) submitted أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
(4:125:5) aslama submits وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
(5:44:11) aslamū had submitted (to Allah) يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا
(6:14:20) aslama submits (to Allah) قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ
(6:71:37) linus’lima that we submit قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(16:81:25) tus’limūna submit كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ
(22:34:18) aslimū submit فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
(27:44:23) wa-aslamtu and I submit وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(31:22:2) yus’lim submits وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
(39:54:4) wa-aslimū and submit وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ
(40:66:18) us’lima submit وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(48:16:13) yus’limūna they will submit تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ
(49:14:9) aslamnā We have submitted قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا
(49:17:4) aslamū they have accepted Islam يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ
(72:14:7) aslama submits فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
(16:28:7) l-salama the submission فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوءٍ
(16:87:5) l-salama the submission وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
(4:65:19) taslīman (in full) submission ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(33:22:18) wataslīman and submission وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
(3:19:5) l-is’lāmu (is) Islam إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
(2:128:3) mus’limayni both submissive رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
(2:132:16) mus’limūna (are) submissive إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
(2:133:27) mus’limūna (are) submissive قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
(2:136:31) mus’limūna (are) submissive لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
(3:84:29) mus’limūna (are) submissive لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
(21:108:11) mus’limūna submit (to Him) قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
(27:31:5) mus’limīna (in) submission أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
(27:38:10) mus’limīna (in) submission قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
(29:46:25) mus’limūna submit وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
(30:53:14) mus’limūna surrender إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ
(43:69:5) mus’limīna submissive الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ
(39:12:5) l-mus’limīna (of) those who submit وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ
(41:33:13) l-mus’limīna those who submit وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(46:15:45) l-mus’limīna those who submit وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(66:5:10) mus’limātin submissive عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ
(2:128:8) mus’limatan submissive رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
(37:26:4) mus’taslimūna (will) surrender بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

Respon Atas Terpilihnya Donald Trump

Apa respon saya atas kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat?

Alhamdulillah, selamat. Semoga sakinah mawaddah.

Tak ada kejadian di alam semeata ini yang terjadi tanpa izin Allah azza wa jalla, termasuk kesuksesan Trump.

Jadi yang terlihat adalah ‘pekerjaan’ -Nya yang mengizinkan Trump menjadi pemenang.

Kemudian, duduknya Trump nanti di kursi kepresidenan AS menjadi ujian bagi manusia. Respon kita dengan ujian ini adalah belajar. Kita belajar dengan penuh kesungguhan bagaimana merespon kepresidenan Trump.

Tanggalkan emosi, gunakan akal sehat.

 

Tentang Demonstrasi 4 November 2016

Pada sesi kajian Ahad, 8 November 2016, saya ditanya oleh teman tentang demonstrasi yang terjadi di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia pada tanggal 04 November 2016 setelah shalat Jum’at.

Jawaban saya adalah:

  1. Demonstrasi tersebut merupakan kegiatan, aksi, aktifitas bercorak atau bernuasa politis; ia merupakan kegiatan politik bukan kegiatan keagamaan meski pelakunya didominasi oleh kaum agamawan Islam beserta atribut-atributnya.
  2. Tema, tujuan, tuntutan yang mengemuka ada dua: pertama, tuntutan agar Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok diproses karena, oleh kalangan demonstran, dianggap telah menghina, menista Al-Quran dan kedua, Presiden Joko Widodo diminta turun atau lengser dari dari kursi kepresidenan bila kasus di atas tidak tuntas.

Itulah dua hal yang menonjol yang saya baca dan saksikan berkaitan dengan demonstrasi 4 November 2016.

Berikut beberapa uraian yang terkait dengan kedua pernyataan di atas:

  1. Dalam ruang pengetahuan dan pemahaman saya yang sempit tentang ajaran Islam, tidak saya temukan ajaran untuk melakukan demonstrasi. Saya tidak mengatakan bahwa demonstrasi itu bid’ah karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Saya hanya mengatakan bahwa demonstrasi tidak ada tuntunannya dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.
  2. Waktu yang dipilih untuk melakukan demonstrasi berada dalam masa kampanye para calon gubernur dan wakilnya, yakni pasangan Agus-Sylvi, Ahok-Djarot, dan Anies-Sandi.
  3. Sosok yang menjadi obyek dari demonstrasi merupakan salah seorang peserta pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Bila tuntuan para demonstran dipenuhi maka yang bersangkutan berpotensi untuk gagal pada pemilihan tersebut.

Informasi: Etika Menerima dan Menyerbarluaskan

Era sekarang adalah era informasi. Jutaan informasi bertebaran melintasi diri kita setiap saat. Ada yang kita terima dan kita sebarluaskan tapi masih lebih banyak yang kita abaikan.

Panduan ringkas dari masalah ini adalah:

  1. Lakukan tabayun ketika menerima informasi, dan
  2. Sebarkan informasi yang betul-betul kita yakini kebenarannya serta manfaatnya.

Dengan mengikuti dua panduan sederhana di atas, kita insya Allah terbebas dari keburukan.

—–

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا (٦٠)مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلا (٦١)

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam Keadaan terlaknat. di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya” (QS Al-Ahzaab : 60-61)

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isroo’ : 36)

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang telah berdosa jika menyampaikan seluruh yang ia dengar”

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

إِنَّ الَّذِينَ جَآءُوا بِاْلإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لاَتَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّااكْتَسَبَ مِنَ اْلإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11].

///

س- ما الفرق بين النبأ والخبر؟
ج- (د.فاضل السامرائى): النبأ كما يقول أهل اللغة: أهم من الخبر وأعظم منه وفيه فائدة مهمة قال تعالى: (وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (22) النمل) وفي القرآن النبأ أهم من الخبر: (قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ (67) ص) (عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) النبأ). والنبأ في اللغة هو الظهور, وقد استعمل القرآن الكريم كلمة خبر مفردة في موطنين في قصة موسى (عليه السلام) قال تعالى: (قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آَنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آَتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (29) القصص) وقال تعالى: (إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آَنَسْتُ نَارًا سَآَتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آَتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (7) النمل) وهناك فرق بين الخبر والنبأ العظيم.
وفي أخبار الماضين والرسل استعمل القرآن (نبأ) قال تعالى: (أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (5) التغابن) ((9) ابراهيم) ((71) يونس) ((120) هود)….
والصيغة الفعلية للنبأ (أنبأ) أقوى أيضاً منها للخبر (أخبر) .والمُراد من هذا كله أن النبأ أعظم من الخبر.

[http://albayanalqurany.com/clause/]