Makanan untuk Diri

Berdasarkan petunjuk Al-Quran, manusia adalah perpaduan unsur langit dan bumi.

Unsur bumi manusia, yaitu tanah diterangkan dalam beberapa ayat Quran, di antaranya pada QS 15 Al-Hijr 26, QS 32 As-Sajdah 7 , serta QS 23 Al-Mu’minun 12-14.

Adapun unsur “langit” manusia adalah ruh-Nya seperti yang tercantum pada QS 15 Al-Hijr 29 , QS 32 As-Sajdah 9, dan QS 38 Shad 72.

Perpaduan kedua unsur ini disebut diri atau nafs manusia (QS 91 S-Syams 7). Diri manusia atau nafs manusia merupakan perpaduan unsur langit yang selanjutnya disebut dengan qalb (kalbu, ruhani, jiwa, psikis) dan bumi yang selanjutnya disebut tubuh (jasad, badan, jasmani, fisik).

Agar nafs dapat terus melanjutkan perannya di bumi hingga ajalnya, ia memerlukan makanan. Karena pentingnya peranan makanan, Al-Quran pada surah 80 ‘Abasa 24 meminta manusia untuk memperhatikan makanannya.

Unsur bumi manusia memerlukan makanan demikian pula unsur langitnya sehingga bagi manusia terdapat dua jenis makanan sesuai peruntukannya, yaitu makanan untuk tubuhnya dan makanan untuk kalbunya.

Kebutuhan manusia terhadap dua jenis makanan ini secara tersirat dapat ditemukan pada QS 106 Quraisy 4, yaitu makanan dari bumi untuk menghilangkan rasa lapar tubuh dan makanan berupa rasa aman untuk menghilangkan rasa takut kalbu.

 

 

Ahok Berhak Bahas Al-Quran

Mungkin banyak muslim yang tidak menyadari bahwa Al-Quran bukan kitab suci yang eksklusif untuk mereka saja.

Al-Quran adalah kitab yang terbuka bagi siapa saja, tidak eksklusif muslim. Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, hudan linnaas. Ia mengundang seluruh manusia theis maupun atheis untuk membaca dirinya, membicarakan tentangnya.

Inilah hak dasar yang dimiliki Ahok dan milyaran manusia lainnya untuk membahas Al-Quran, yang sayangnya, banyak tidak disadari oleh muslim.

Bayangkan, nabi Muhammad saw berjuang mengorbankan seluruh yang beliau miliki agar Al-Quran sampai kepada seluruh ummat manusia hingga akhir zaman, eh, pengikutnya malah memberi kesulitan kepada manusia untuk sampai kepada Al-Quran.

Adalah hal yang ‘wajar’ bila manusia yang tidak percaya terhadap Al-Quran hendak atau telah melecehkan kitab itu. Sebaliknya, ganjil rasanya bila justru yang mengaku percaya kepada Al-Quran yang justru hendak atau telah melecehkan Al-Quran dengan cara melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Al-Quran.

Bila ada penganut kepercayaan lain yang tidak memahami AL-Quran, wajar. Kalau ada muslim yang percaya Al-Quran namun tidak memahaminya (bahkan berusaha pun tidak), bukankah itu di luar kewajaran? Bahkan lebih jauh lagi, bukannya meluruskan yang perlu diluruskan, dengan cara yang ramah, simpatik, dan menyenangkan, muslim malah mengumbar emosi yang tidak perlu yang dapat menimbulkan keengganan manusia lain untuk mendekati Al-Quran karena takut atau kehilangan penghargaan.

Lanjutkanlah misi Nabi saw. Ajak manusia untuk mendekati, membuka, membaca, dan menelaah Al-Quran. Kalau ada di antara mereka yang berkomentar negatif atau menimbulkan kesan melecehkan, tidak usah sewot melainkan responlah hal itu dengan sikap dewasa.

Sampaikan, jelaskan, uraikan Al-Quran kepada mereka dengan simpatik agar timbul penghargaan pada mereka terhadap Al-Quran yang boleh jadi melalui itu, hidayah Allah azza wa jalla mengalir kepada mereka.

Pelajarilah bahasa Arab. Bila belum sanggup, pelajari saja 77,431 kata dalam Al-Quran. Bila jumlah itu masih terasa banyak, kuasai saja 17,613 kata unik dalam Al-Quran hingga ke tingkat tertinggi sesuai kesanggupan agar bisa menjadi duta Al-Quran kepada seluruh ummat manusia.

Perilaku Mesin Pencari Google

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial/2016/10/161004_trensosial_google_ahok

Kehebohan beberapa netizen tentang kata kunci “karena Ahok” pada mesin pencari Google sempat menguasai dunia maya beberapa waktu lalu.

Tautan di atas menyediakan informasi tentang perilaku mesin pencari tersebut.

Mari Mencintai Ahok

Ahok yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Basuki Tjahaja Purnama (lahir 1966), gubernur DKI Jakarta, sosok yang seringkali dianggap kontroversial baik tindakan maupun ucapannya.

Kontroversi terbaru yang ditimbulkan media untuk Ahok adalah ucapannya yang berkaitan dengan kepemimpinan dan Al-Quran Surah 5 Al-Maidah 51.

Kontroversi tersebut kemungkinan meningkatkan jumlah orang yang tidak senang atau bahkan sampai pada tingkat benci Ahok dan mereka yang telah lama, diakui atau tidak, mengidentifikasi diri sebagai pembenci atau hater Ahok kemungkinan makin meningkat atau bertambah bencinya. Bahkan boleh jadi kontroversi itu memperkuat alasan atau pembenaran untuk semakin membenci Ahok.

Kebencian yang tidak pada tempatnya dapat memberi akibat tidak baik kepada diri dan menambah catatan amal perbuatan buruk pada kitab diri. Berkaitan dengan Ahok, diri ini harus waspada jangan sampai terjebak pada kebencian yang bukan pada tempatnya.

Hindari jebakan penipuan diri, merasa tindakan membeci Ahok sudah benar padahal boleh jadi keliru. Diri menyangka kebencian terhadap Ahok ini adalah ekspresi kebaikan, diinginkan oleh Al-Quran, mengikuti sunnah Rasul, padahal…. realitanya terbalik. Bisa jadi kebencian tersebut didasari atas hawa nafsu, dorongan negatif dari dalam diri semata.

Kebencian kita yang tidak pada tempatnya terhadap seseorang dapat mencegah kita untuk melakukan satu amanah besar: berlaku adil. Kebencian dapat menghalangi kita untuk melakukan ibadah sakral ini: berlaku adil (QS 5 Al-Maidah 8). Peluang untuk terisinya kitab diri dengan catatan kebaikan dapat hilang karena kita memelihara kebencian yang tidak pada tempatnya.

Agar kita bisa tersenyum melihat kitab diri di akhirat kelak, ubahlah kebencian menjadi cinta. Dasar kita mencintai Ahok adalah kemanusiaan. Wujudnya dapat berupa doa untuk diri sendiri dan dirinya agar senantiasa memperoleh hidayah-Nya. Daripada membenci Ahok lebih baik mendoakannya agar  ia dan mereka yang kita identifikasi serupa, memperoleh kebaikan.

Mengapa Dimas Kanjeng Dibela?

Memangnya siapa, sih, yang membela Dimas Kanjeng Taat Pribadi?

Ya, mereka yang bisa disebut sebagai pengikut setia Dimas atau mereka yang masih memercayai “karomah” Dimas adalah pembela Dimas.

Mereka membela dengan maksud atau niat yang beragam. Boleh jadi ada yang membela karena masih memercayai Dimas namun tentu ada pula yang melakukan hal itu karena didasari keinginan untuk membela diri sendiri karena sudah terlanjur menikmati hasil dari kegiatan Dimas.

 

Bagi yang berada di luar lingkaran Dimas, apa yang ia dan pengikutnya lakukan termasuk pembelaan terhadap Dimas berada di luar jangkauan nalar. Bisa-bisanya Dimas yang disangka sebagai otak perbuatan kriminalitas, yaitu pembunuhan atas (diduga mantan) pengikutnya sendiri, masih dibela oleh pengikut yang lain.

Begitulah.

Bila nalar sudah tidak lagi dipakai entah karena tidak tahu cara menggunakannya atau telah dilumpuhkan oleh hawa nafsu duniawi, maka segala hal yang hakikatnya buruk/salah berubah menjadi baik/benar.

Nalar berkaitan dengan pertimbangan baik-buruknya sesuatu dengan melibatkan pikiran atau akal yang sehat. Bila seseorang bernalar dengan baik, kegiatan menggandakan uang tanpa melalui proses pencetakan adalah peristiwa tidak wajar, cenderung mengandung unsur ‘penipuan’. Pelakunya harus dijauhi bukan diikuti.

 

 

Sunni-Syiah Bukan Ajaran Nabi

Tonton video singkat ini lalu lanjutkan membaca: https://www.youtube.com/watch?v=n3QGuOXVaPE

Istilah Sunni maupun Syiah atau Syi’i tidak berasal dari Nabi Muhammad saw dan karenanya identifikasi atau pengenalan diri sebagai seorang Sunni atau Syi’i bukan merupakan ajaran bagian dari ajaran Islam.

Ajaran Islam meminta kita mengidentifikasi diri sebagai seorang Muslim, manusia yang menyerahkan dirinya kepada Allah rabb al-alamin (QS 3 Ali Imran 52, 64).

Adapun identifikasi selain dari seorang Muslim bukan merupakan bagian dari ajaran Islam melainkan hanya berfungsi sebagai identifikasi sosial saja yang digunakan pada pergaulan sehari-hari.

Tiada yang disebut sebagai ajaran Sunni-Syiah, yang ada hanya ada satu ajaran yaitu ajaran Islam. Tiada ajaran Islam Sunni atau Islam Syiah karena Islam tidak mengajarkan tentang (menjadi) seorang Sunni atau Syi’i.

Coba periksa ayat-ayat dalam Al-Quran. Adakah ditemukan ayat yang berbicara tentang menjadi seorang Sunni atau Syi’i? Tidak ada.

Periksa lagi Al-Quran. Adakah ayat-ayat yang berbicara tentang menjadi seorang Muslim? Ada. Banyak malah.

Untuk membantu proses pemeriksaan, silahkan lihat daftar ayat-ayat pada tautan ini: http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=slm

Dengan mengakui bahwa hanya ada ajaran Islam dan tiada ajaran Islam Sunni atau Islam Syiah maka kita menjaga kesatuan ajaran Islam dan menghindarkan diri dari memisahkan atau memecah belah ajaran Islam menjadi Islam ini atau Islam itu.

Bagaimana jika diri berkeinginan untuk menggunakan identifikasi sebagai Sunni atau Syi’i?

Gunakan salah satu dari identifikasi tersebut dengan sebuah kesadaran bahwa ia bukan merupakan bagian dari agama atau ajaran Islam dan jangan mati-matian mempertahankan identifikasi tersebut, jangan mempertengkarkan identifikasi tersebut apalagi bunuh-bunuhan hanya gegara persoalan identifikasi sebagai Sunni atau Syi’i.

Akhlak Kemanusiaan

Manusia adalah makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi dan mulia. Namun, seringkali harkat dan martabat manusia direndahkan, terutama pada situasi konflik bersenjata atau perang.

Seseorang yang melihat peristiwa di mana harkat dan martabat manusia terancam terkadang menghadapi dilema. Apakah ia melibatkan diri membantu manusia yang sedang direndahkan atau diancam harkat dan martabatnya ataukah berlalu dan tidak memedulikan peristiwa yang sedang ia saksikan dan hadapi. Ia berhadapan dengan berbagai pilihan jawaban yang sulit.

Ketika ia memutuskan untuk membantu menyelamatkan dan mengangkat harkat dan martabat manusia, maka ia telah memutuskan untuk melakukan tindakan kemanusiaan.

Tindakan kemanusiaan ini, terutama di tengah situasi konflik bersenjata, bisa beragam wujudnya. Melibatkandiri pada kegiatan di kamp pengungsian, membantu mempertemukan keluarga yang terpisah, membantu para tahanan atau tawanan diperlakukan secara layak serta manusiawi, dan lain sebagainya.

Mengurangi dampak pertikaian bersenjata juga dengan cara, misalnya, membuat aturan-aturan dan membatasi jenis senjata yang digunakan, menjadi bagian penting dari proses menyelamatkan dan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan. Tak lupa, membawa para pihak yang melanggar aturan, merendahkan dan mengancam harkat dan martabat kemanusiaan di hadapan hukum.