Sejarah Islam

[Ini adalah tulisan rintisan yang memuat ringkasan sejarah muslim pada tiga abad pertama. Tulisan ini diperbaharui setiap saat. Angka tahun dan usia pada tulisan ini mayoritas merupakan “perkiraan” atu tidak sepenuhnya akurat/persis sama.]

Berlangsung pada pertengahan abad keenam masehi (500-600), diawali kelahiran ayah Muhammad (545 M), disusul kelahiran Muhammad (570 M), Abu Bakar (573 M), Utsman (576), Umar (582), dan Ali (599). Periode ini diselingi dengan kematian Abdullah, ayah Muhammad (570 M), disusul kematian Aminah, ibu Muhammad (576), kematian Abdul Muttalib, kakek Muhammad (578). Sepeninggal sang kakek, Muhammad melakukan perjalanan ke luar negeri pertama bersama pamannya, Abu Thalib pada 582 M kemudian terjadi pertemuan dengan seorang pendeta Nasrani, Bahira. Sang pendeta menyampaikan bahwa dirinya melihat “tanda-tanda kenabian” pada diri Muhammad yang saat itu berusia 12 tahun. Pada 595 M, Muhammad (25 tahun) menikahi Khadijah, pengusaha kaya, setelah ia bekerja kepadanya selama satu tahun (594) <<  https://en.wikipedia.org/wiki/Timeline_of_6th-century_Muslim_history >>

601-700 M / 23 SH – 81 H

Pada 605 M, Fathimah lahir. Muhammad saat itu berusia 35 tahun dan masa pernikahan 10 tahun. Pada tahun ini pula, Muhammad membantu pembangunan kembali Ka’bah. Muhammad menyampaikan kepada Khadijah bahwa ia telah menerima wahyu di gua Hira pada 610 M. Usia Muhammad saw pada saat itu 40 tahun, dan istrinya menjadi mu’min(ah) pertama. Muhammad saw mengumumkan kenabiannya 3 tahun kemudian, 613 M dan mengundang masyarakat untuk mempercayai dan mengikutinya.

Setahun kemudian, 614 M, sekelompok sahabat Nabi saw, generasi muslim awal, melakukan hijrah ke Al-Habasyah (Abyssinia/Ethiopia, Eritria) di benua Afrika. Kelompok berikutnya, dipimpin Ja’far bin Abi Thalib, menyeberang ke tempat yang sama pada 616 M. Pada hijrah pertama ini, ikut beberapa sahabat Nabi saw (yang kemudian terkenal), seperti Sa`d ibn Abi Waqqas, Abd-Allah ibn Jahsh, dan Uthman ibn Affan. Ibn Abi Waqqas dilaporkan sempat berkelana hingga ke daratan Cina (616 M) sebelum kembali ke tanah Arab. <<https://en.wikipedia.org/wiki/Migration_to_Abyssinia>&gt;

Kaum Quraisy memboikot  Nabi saw dan para sahabat awal serta Bani Hasyim (rumpun keluarga yang berasal dari kakek buyut Nabi saw) pada 617 M.  Pada 619 M, boikot dicabut namun pada tahun yang sama, Nabi saw kehilangan dua orang terdekat beliau, yakni sang paman Abu Thalib dan istri tercinta beliau Khadijah (24 tahun usia pernikahan). Pada 620, Nabi saw diperjalankan Allah (Isra’ Mi’raj) di mana peritah mendirikan shalat diterima dan masjid Aqsha dijadikan kiblat pertama ummat Islam.

Pada 622, terjadilah peristiwa monumental, yakni hijrahnya Nabi saw beserta para pengikutnya ke Yastrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah. Peristiwa ini segera disusul dengan berdirinya negara Madinah, pemerintahan Islam(i) pertama dalam sejarah dunia pasca nabi Isa as. Salah satu aspek penting pada periode ini adalah lahirnya apa yang disebut sebagai “Piagam Madinah” [The Charter of Medina or of Yathrib (Arabic: صحيفة المدينة‎, Ṣaḥīfat al-Madīnah; or: ميثاق المدينة, Mīthāq al-Madīnah), also known as the Constitution of Medina or of Yathrib (دستور المدينة, Dastūr al-Madīnah]. Salah satu poin penting pada piagam tersebut adalah dimasukkannya kaum Yahudi ke dalam “satu ummat” <<http://almanhaj.or.id/content/3748/slash/0/piagam-madinah/>&gt;

Pada 624, terjadi peperangan antara negara Madinah dengan kaum Quraisy Makkah (perang Badr). Pada tahun ini pula, terjadi perubahan arah kiblat dan pengusiran Bani Qainuqa, salah satu kelompok etnis Yahudi dari negara Madinah. Perang Badr kemudian disusul dengan perang Uhud pada 625 M disusul pengusiran kelompok etnis Yahudi lainnya, Bani Nadir dari negara Madinah. Pada tahun ini, cucu Nabi saw, Hasan bin Ali lahir disusul kelahiran Husain bin Ali pada tahun berikutnya, 626 M.

Pada 628 M, terjadi perjanjian Hudaibiyah dan pada tahun berikutnya, kemudian disusul penaklukan Makkah tanpa pertumpahan darah pada 630 M, sekitar 8 tahun setelah Nabi saw dan pengikutnya meninggalkan tanah kelahiran mereka tersebut dan mendirikan negara Madinah. Penduduk Makkah yang ditaklukkan kemudian beralih menjadi muslim, diberi gelar “thulaqa” oleh Nabi saw ( اذهبوا فأنتم الطلقاء فأعتقهم رسول الله  ,http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/baghawy/sura110-aya1.html ). Kini, komposisi masyarakat muslim terdiri atas muhajirin, anshar, dan thulaqa serta kaum muslimin yang tersebar di daerah lain.

Pada 632 M, Nabi saw menunaikan haji dan pada tahun yang sama beliau wafat. Enam bulan setelahnya, putri terkasih Nabi saw, Fathimah, wafat.

Sepeninggal Nabi saw, Abu Bakar diangkat sebagai pemimpin negara Madinah (632 M). Di masa pemerintahannya, beliau menghadapi beberapa pemberontakan dari suku-suku di kawasan Arab. Keberhasilan beliau mengatasi berbagai pemberontakan menghasilkan keutuhan negara Madinah yang makin meluas. Pada masa ini, masalah yang timbul adalah adanya kelompok masyarakat yang menolak membayar zakat namun tetap mendirikan shalat. Beliau, atas usul Umar ibn Khattab, memulai upaya pembukuan Al-Quran. Mushaf Al-Quran tersebut kemudian diserahkan kepada Umar lalu ke putri Umar, Hafsah, yang juga merupakan salah seorang istri Nabi saw. Abu Bakar melakukan ekspansi/perulasan ke  Iraq dan Syiria. Beliau wafat pada 634 M, dua tahun setelah menerima tampuk kepemimpinan paska Nabi saw pada usia 61 tahun karena sakit. <<https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakr>&gt;

Negara Madinah memiliki pemimpin baru setelah wafatnya Abu Bakar. Adalah Umar ibn Khattab yang ditunjuk oleh Abu Bakar untuk melanjutkan kepemimpinan ummat Islam pada 634 M pada hari yang sama Abu Bakar wafat. Di bawah kepemimpinan Umar, berbagai wilayah jatuh satu per satu ke Madinah dalam periode 634 hingga 644 (10 tahun). Damaskus, Jerussalem, Mesir, hingga Azerbaizan masuk ke dalam wilayah negara Madinah. Bencana kelaparan sempat melanda tanah Arab dan ibukota negara, Madinah pada 638-639 M. Di masa ini, tampak peran tentara Rashidun (https://en.wikipedia.org/wiki/Rashidun_Army) dalam mengatasi bencana kelaparan ini. Selain kelaparan, wabah pes juga meenyebar di Syiria dan Palestina pada 639 M. Umar ibn Khattab wafat pada 644 M tiga hari setelah menderita beberapa tusukan belati yang dilakukan oleh Piruz Nahavandi (Abu Lulu, Persia) di saat beliau memimpin shalat subuh di masjid Nabawi di usia 61 tahun. <<https://en.wikipedia.org/wiki/Umar>&gt;

Umar, sebelum wafat, membentuk sebuah komite yang terdiri dari enam orang sahabat, yakni Abdur Rahman bin Awf, Saad ibn Abi Waqqas, Talha ibn Ubaidullah, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib dan Zubayr ibn al-Awwam dengan tugas memilih salah seorang di anatar mereka untuk memegang tampuk kepemimpinan. Pada saat pertemuan komite tersebut berlangsung,  Suhayb ar-Rumi, ditunjuk sebagai karetaker Umar. Sebuah insiden terjadi atas anak Umar, Ubaidullah ibn Umar, yang sempat membunuh beberapa orang di Madinah berdasarkan kecurigaannya bahwa peristiwa yang terjadi atas diri ayahnya telah direncanakan oleh beberapa orang Persia yang tinggal di Madinah.

Utsman bin Affan, di usianya yang ke-68 tahun, diangkat sebagai pemimpin negara Madinah tiga hari setelah wafatnya Umar bin Khattab, 644 M. Selain upaya perluasan wilayah, masa pemerintahan Utsman juga diwarnai dengan upaya pemberontakan, yang pada akhirnya mengantar segelintir pemberontak mengakhiri hidup Utsman pada 656 M di usia 80 tahun. << https://en.wikipedia.org/wiki/Uthman >&gt;

Ali bin Abi Thalib naik di posisi puncak kepemimpinan sebagai pengganti Utsman pada usia 57 tahun, 656 M, dan menjabat selama 5 tahun hingga 661 M. Di tahun yang sama, terjadi Perang Unta yang melibatkan Aisyah, Thalhah, dan Zubayr di satu pihak dan Ali di pihak seberang. Tema utama peristiwa ini adalah tuntutan atas para pembunuh yang menyebabkan kematian Utsman. Inilah perseteruan terbuka pertama di kalangan para sahabat dan di lingkaran keluarga dekat Nabi saw. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Madinah ke Kufah oleh Ali pada 657 M. Di tahun itu pula, kembali terjadi perang yang kali ini melibatkan Mu’awiyah dengan Ali (Perang Siffin). Dilaporkan, pada pihak Ali terdapat puluhan sahabat (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Siffin). Perang ini merupakan perseteruan terbuka kedua dalam tubuh ummat Islam dan memberi pengaruh luar biasa pada perkembangan sejarah muslim setelahnya.

Perang Siffin berakhir melalui arbitrase, suatu upaya penyelesaikan sengketa melalui pihak ketiga yang dianggap netral. Dari sisi Muawiyah dan pengikutnya (orang Syiria), tampil Amr bin Ash. Sementara dari pihak Ali, tampil Abu Musa Al-Asyari. “Hasil” arbitrase ini adalah pengumuman bahwa Ali dan Mu’awiyah harus turun dari posisi mereka berdua  dan pemilihan pemimpin akan dilakukan, namun pihak Amr bin Ash kemudian menyatakan bahwa karena Ali telah dicopot sebagai khalifah, maka ia mengukuhkan Mu’awiyah sebagai khalifah.

Peristiwa Shiffin dan arbitrase ini melemahkan pihak Ali, sebab merebak ketidakpuasan dari kalangan pendukungnya. Sekelompok pendukung Ali kemudian memisahkan diri dari barisan Ali, mereka di kemudian hari disebut dengan kelompok Khawarij. Pada 659 M, Khawarij dan Ali terlibat dalam Perang Nahrawan. Perang ini dimenangkan oleh Ali. (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Nahrawan). Pada masa ini, kepemimpinan ummat Islam terpecah menjadi dua, satu dipegang oleh Ali dan Mu’awiyah di sisi lain. Ali akhirnya wafat pada 661 M, setelah diserang oleh Abdurrahman ibn Muljam, seorang Khawarij saat sedang memimpin shalat. (https://en.wikipedia.org/wiki/Ali)

Sepeninggal Ali bin Abi Thalib, saat Muawiyah masih hidup dan sedang memegang kekuasaan di sebagian wilayah, Hasan bin Ali (lahir 625 M), di Kufah dibaiat sebagai pemimpin menggantikan ayahnya. Upaya kedua pemimpin ini mempertahankan kekuasaan melalui serangkaian negosiasi, pengerahan pasukan dan penyerangan, berakhir pada 661 M dengan Hasan bin Ali menyerahkan posisi yang dijabatnya selama setahun kurang (7 bulan) kepada Mu’awiyah. Pada 670, di usianya yang ke-45, Hasan wafat disebabkan racun yang diberikan oleh istrinya. Beliau dimakamkan di pekuburan Bagi dan pada 1925, kompleks pemakamannya diruntuhkan oleh kaum Wahabi (https://en.wikipedia.org/wiki/Hasan_ibn_Ali).

661 M, tiga puluh tahun setelah Nabi saw wafat dan diwarnai berbagai kesuksesan perluasan dan pembangunan wilayah serta perseteruan internal, menjadi penanda dimulainya era kerajaan kaum muslimin.

Mu’awiyah (602-680 M), seorang Thulaqa’ menjadi salah seorang sosok yang bertanggungjawab atas arah sejarah ummat Islam (https://en.wikipedia.org/wiki/Muawiyah_I). Keterlibatannya sejak era Abu Bakar hingga memegang kendali penuh atas kepemimpinan ummat Islam cukup menjadi bukti kekuatan karakternya. Ia memegang kendali kepemimpinan secara penuh atas ummat Islam selama 20 tahun dan sukses melakukan perluasan wilayah hingga ke Afrika Utara dan mengepung Konstantinopel. Muawiyah wafat karena sakit yang ia derita di usia 78 tahun.

Yazīd ibn Mu‘āwiya ibn Abī Sufyān menjadi pemimpin ummat Islam di usianya yang ke-33 tahun atas penunjukan ayahnya, Muawiyah, yang menjadi awal tradisi sistem kerajaan di tubuh ummat Islam. Penunjukan ini sekaligus”menyelisihi” kesepakatan sebelumnya antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali, yaitu kekuasaan akan beralih ke Hasan setelah Muawiyah. (https://en.wikipedia.org/wiki/Hasan%E2%80%93Muawiya_treaty)

Yazid memegang tampuk kepemimpinan hanya dalam waktu singkat, mulai 680 hingga 683 atau selama 3 tahun. Peristiwa menonjol yang terjadi pada masa kekuasaannya adalah peristiwa Karbala di mana pasukan Yazid dikirim ke Kufah untuk meminta agar Husein bin Ali membaiat Yazib sebagai pemimpin. Karena Husein berkeras menolak membaiat Yazid, maka pertempuran, yang diberitakan terjadi pada hari Asyura, 10 Muharram ini, tidak terelakkan lagi dan akhirnya Husein dan pengikutnya terbunuh.

Terdapat dua peristiwa buruk lainnya yang terjadi di masa kekuasaan Yazid selain kemunduran di bidang militer dan lepasnya kontrol atas beberapa wilayah kekuasaan. Yazid wafat di usia 36 tahun akibat kehilangan kendali atas kuda yang ia tunggangi pada 683 M (https://en.wikipedia.org/wiki/Yazid_I)

Muawiyah bin Yazid (Muawiyah II) lahir pada 661 M dan menggantikan posisi ayahnya, Yazid bin Muawiyah, pada 683 di usia 22 tahun. Ia tidak dikenal di kalangan ummat Islam karena semenjak kecil hidup di lingkungan istana dan tidak bepergian ke Mekkah dan Madinah untuk menimba ilmu, suatu aktifitas yang menjadi tradisi di masa itu. Masa kepemimpinannya sangat singkat, hanya 4 bulan saja dan wafat pada tahun 684, beberapa pekan setelah pengunduran dirinya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Muawiya_II).

Di masa kepemimpinan Yazid bin Muawiyah dan Muawiyah bin Yazid, seorang sahabat Nabi saw juga mengklaim sebagai pemimpin ummat Islam. Di sisi Yazid, apa yang dilakukan sahabat Nabi saw ini merupakan sebuah pemberontakan.

Abdullah bin Zubayr (624-692), dari bani Hasyim,  lahir di Madinah bulan ke-8 setelah hijrah Nabi saw. Ia merupakan sahabat Nabi saw dan kakeknya adalah Abu Bakar. Pada 68o, ia menolak memberi baiat kepada Yazid bin Muawiyah. Malah dirinyalah yang dibaiat oleh penduduk Makkah sebagai pemimpin. Beliau sempat mengendalikan beberapa wilayah, di antaranya Makkah, Madinah, Kufah, Iraq, sebagian Syiria dan Mesir. Pada 692, setelah dua belas tahun masa kepemimpinanya, Abdullah terbunuh oleh tentara yang dipimpin oleh Al-Hajjaj ibn Yusuf (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Hajjaj_ibn_Yusuf) atas perintah Abdul Malik ibn Marwan.

Kepemimpinan Muawiyah bin Yazid (Muawiyah II, dinasti Umayyah) dilanjutkan oleh Marwan ibn al-Hakam (lahir pada tahun 623 M). Beliau merupakan sahabat Nabi  saw dan sepupu Utsman ibn Affan. Meski disebut sebagai pembunuh sahabat Nabi saw lainnya, Thalhah, beliau tetap dianggap sebagai salah seorang sahabat Nabi saw dan mengklaim kepemimpinan di Damaskus di tahun yang sama saat sahabat Nabi saw lainnya, Abdullah bin Zubair dibaiat sebagai pemimpin ummat Islam pada tahun 684 M. Beliau wafat pada 685 M dan kekuasaannya diteruskan oleh putranya (https://en.wikipedia.org/wiki/Marwan_I). Ini menandakan perpindahan kekuasaan dari “Sufyani” (Mua’wiyah bin Abi Sufyan-Yazid bin Muawiyah-Muawiyah bin Yazid) ke “Marwani” meski masih dalam rumpun “Umayyah”.

Abdul Malik ibn Marwan, lahir 646 M atau 14 tahun setelah Nabi saw wafat, meneruskan kepemimpinan ayahnya, Marwan ibn Hakam pada 685 M di usia 39 tahun. Masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya, Madinah. Di awal kepemimpinannya, ia menghadapi “saingannya”, yakni sahabat Nabi saw, Abdullah bin Zubair yang juga dibaiat sebagai pemimpin ummat Islam di Makkah. Selain itu, Abdul Malik juga menghadapi perlawanan kelompok Khawarij dan Syiah.

701–800 CE / 81–184 AH

Setelah Abdullah bin Zubair terbunuh oleh pasukan Al-Hajjaj ibn Yusuf, praktis perlawanan terhadap Abdul Malik mereda dan kelompok-kelompok perlawanan lain dapat diatasi. Selain upaya perluasan wilayah, di benua Afrika khususnya, Abdul Malik bin Marwan  membangun Kubah Sakhrah/Dome of The Rock dan mengeluarkan koin dinar-dirham tanpa gambar. Penggunaan koin sebagai satu-satunya alat tukar (uang) yang sah di dunia Islam (atas usul Al-Hajjaj bin Yusuf) berdampak pada timbulnya perang dengan Bizantium. Sebelum wafat pada 705 M, beliau menikmati masa-masa tenang pada periode kekuasaannya selama 20 tahun. (https://en.wikipedia.org/wiki/Abd_al-Malik_ibn_Marwan).

Al-Walid, lahir pada 668 M, naik ke puncak kekuasaan menggantikan ayahnya, Abdul Malik bin Marwan pada 705 M di usia 37 tahun. Wilayah kekuasaannya, dengan bantuan Al Hajjaj bin Yusuf, meluas hingga ke wilayah Spanyol, India dan Transoxania (Asia Tengah) pada 711-712 M. Al-Walid menetapkan penggunaan bahasa Arab di seluruh wilayah administrasinya. Beliau wafat pada 715 di usia 47 tahun. (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Walid_I)

Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan (lahir 647 M) adalah saudara dari Al-Walid. Sulaiman memegang kepemimpinan ummat Islam, setelah sebelumnya menjabat sebagai gubernur di wilayah Palestina, sepeninggal Al-Walid pada 715 M hingga 717 M. Sulaiman wafat di usia 43 tahun setelah memerinhkan bala tentaranya untuk mengepung ibukota Bizantium, Konstantinopel dan menunjuk penggantinya, Umar bin Abdul Aziz. (https://en.wikipedia.org/wiki/Sulayman_ibn_Abd_al-Malik)

Lahir dan dibesarkan di Medinah pada 682 M, Umar bin Abdul Aziz merupakan sepupu dari Sulaiman dan Al-Walid, dua pemimpin Islam sebelumnya. Menjabat sebagai  gubernur di Madinah sebelum memegang tampuk kepemimpinan ummat Islam tertinggi pada 717, Umar tidak tercatat sebagai pemimpin yang melakukan ekspansi wilayah secara agresif. Perhatian dan upayanya lebih banyak tercurah pada urusan internal ummat Islam, utamanya reformasi atas beberapa kebijakan pemimpin sebelumnya soal pajak, urusan publik dan memerintahkan pembukuan hadits. Beliau wafat pada 720 M di usia 38 tahun akibat racun. (https://en.wikipedia.org/wiki/Umar_II)

Yazid bin Abdul Malik, lahir 687 M menggantikan Umar bin Abdul Aziz sebagai pemimpin tertinggi ummat Islam pada 720 M (usia 33 tahun). Ia adalah adik dari Al-Walid dan Sulaiman dan sepupu Umar bin Abdul Aziz. Masa kepemimpinannya juga relatif singkat, hanya 4 tahun dan diwarnai beberapa peristiwa pemberontakan. Yazid wafat pada 724 M karena sakit.  (https://en.wikipedia.org/wiki/Yazid_II)

Anak Abdul Malik bin Marwan berikutnya, Hisyam (lahir 691), naik sebagai pemimpin tertinggi menggantikan kakaknya, Yazid bin Abdul Malik pada 724 M di usia 33 tahun. Ia memimpin selama 19 tahun hingga 743 M. Di masa kepemimpinannya, Hisyam lebih banyak menghadapi pergolakan di kalangan ummat Islam.(https://en.wikipedia.org/wiki/Hisham_ibn_Abd_al-Malik)

Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik (lahir 706) menjadi pemimpin ummat Islam menggantikan pamannya, Hisyam, pada 743 M namun terbunuh pada 744. Al-Walid kemudian digantikan oleh Yazid ibn al-Walid ibn ‘Abd al-Malik. Yazid hanya menjabat selama enam bulan. Beliau wafat pada 744 M karena sakit dan digantikan oleh saudaranya, Ibrahim. Pada tahun yang sama, 744 M Ibrahim turun tahta dan digantikan oleh Marwan bin Muhammad bin Marwan (Marwan II). Marwan II dianggap sebagai pemimpin terakhir dari kalangan Umayyah yang memerintah dari Damaskus. Ia terbunuh pada 750 M setelah menghadapi berbagai pemberontakan di masa kekuasaannya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Marwan_II)

Abu al-‘Abbās ‘Abdu’llāh ibn Muhammad as-Saffāḥ selanjutnya memegang tampuk kepemimpinan. Ia merupakan keturunan dari Abbas, paman Nabi saw, bani Hasyim. Ia memimpin, setelah mengalahkan Marwan II pada 750 M, hingga 754 dan wafat karena penyakit cacar. Ia dikenal sebagai pihak yang menghabisi sisa keluarga dinasti Umayyah (https://en.wikipedia.org/wiki/As-Saffah), kecuali Abd al-Rahman ibn Mu’awiya ibn Hisham ibn Abd al-Malik ibn Marwan yang lolos dan melarikan diri ke propinsi Andalus (Spanyol) di mana ia mendirikan pemerintahan sendiri (https://en.wikipedia.org/wiki/%27Abd_al-Rahman_I). As-Saffah dicatat sebagai awal dari dinasti Abbasiyah (https://en.wikipedia.org/wiki/Abbasid_Caliphate)

Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al-Mansur lahir pada 714 M dan dianggap sebagai pendiri sebenarnya dari dinasti Abbasiyah. Al-Mansur melanjutkan kepemimpinan As-Saffah pada tahun 754 di usia 40 tahun. Ia memindahkan ibukota pemerintahan dari Kufah ke Baghdad. Setelah mengatasi perlawanan pamannya, Abdullah ibn Ali yang juga mengklaim kepemimpinan,  wafat di usia 61 tahun pada 775 setelah berkuasa selama 21 tahun. Al-Manshur wafat ketika dalam perjalanan menunaikan ibadah haji (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Mansur)

Al-Mahdi yang bernama lengkap Abu Abdallah Muhammad ibn Abdallah al-Mansur, putra Al-Mansur, menggantikan ayahnya sebagai pemimpin dinasti Abbasiyah pada 775 di usia 30 tahun. Di masa pemerintahannya selama 10 tahun, ia menghadapi berbagai masalah internal meski tidak terlalu mempengaruhi kekuasaannya. Di sisi lain, Baghdad menjadi pusat daya tarik penduduk dunia dan rumah bagi berbagai pemeluk agama. Al-Mahdi wafat pada 785 di usia 40 tahun akibat racun. (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Mahdi)

Al-Mahdi digantikan oleh putranya, Abu Muhammad Musa ibn Mahdi al-Hadi atau Al-Hadi. Di usia yang relatif muda, 21 tahun, Al-Hadi melanjutkan kepemimpinan ayahnya di tahun 785. Ia menghadapi dan memecahkan persoalan dengan  Husayn ibn Ali ibn Hasan, yang mengklaim kepemimpinan di Madinah, juga kekacauan yang ditimbulkan kaum Khawarij dan serangan dari Kekaisaran Bizantium. Setelah memindahkan ibu kota ke Haditsa, Al-Hadi wafat pada 786 di usia pemerintahannya yang setahun. (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Hadi)

Lahir pada 763, Harun ar-Rashid ibn Muhammad al-Mahdi adalah adik Al-Mahdi. Harun menggantikan kakaknya sebagai pemimpin pada 786 di usia 23 tahun. Meski Baghdad tetap menjadi pusat, pada 796 Harun memindahkan lokasi pemerintahannya ke Raqqah (https://en.wikipedia.org/wiki/Harun_al-Rashid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *