Belajar Syirik Agar…

​KitabDiri.com- Kita pelajari bab syirik agar terhindar dari perbuatan tersebut bukan agar kita bisa menunjuk hidung orang lain bahwa ia telah dan sedang melakukan perbuatan syirik.


Kita dakwahi dulu diri kita perihal kesyirikan. Setelah itu kita sampaikan kepada orang lain bahwa diri kita sedang berjaga dan waspada terhadap kesyirikan diri mengingat perbuatan syirik tidak bakal mendapat ampunan aktif otomatis Allah azza wa jalla. Mudah-mudahan dengan penyampaian ini, orang lain menjadi terinspirasi dan termotivasi untuk mewaspadai kesyirikan yang ada pada dirinya sendiri.

Dengan demikian, kita (1) terhindar dari kesesatan iblis, merasa lebih baik dari orang lain yang kita anggap telah melakukan perbuatan syirik, (2) berhasil menjaga atau ridak menyakiti perasaan orang lain, (3) prasangka baik sebagai fondasi silaturrahim dengan dirinya tetap terjaga dan terawat. Makassar 14 Juli 2016

Agar Tidak Berat…

اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدَ نِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَ عَلىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.
“Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, dan Abu Kuraib, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dan Abu Said Al Asyajj, sedangkan lafadznya milik Abu Kuraib, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’, keduanya dari Al A’masy, dari Habib bin Abu Tsabit, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, katanya; “”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ketakutan dan bukan pula karena hujan.”” Dalam hadis Waki’, katanya; aku tanyakan kepada Ibnu Abbas; “”Mengapa beliau lakukan hal itu?”” Dia menjawab; “”Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.”””
Kutub Tis’ah – http://www.digitama.com

Sembunyikan Keburukanmu

​Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya ia sendiri yang bercerita, Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu. Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka aibnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedekah Termudah Tanpa Uang

 

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ فَقَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ يَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ وَلْيُمْسِكْ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ
“Setiap muslim wajib bershadaqah”, para sahabat bertanya: “bagaimana kalau ia tidak mempunyai sesuatu untuk dishadaqahkan?” Nabi menjawab: “hendaklah ia bekerja hingga ia dapat mencukupkan kebutuhannya sendiri dan dapat pula bershadaqah”; para sahabat bertanya lagi: bila ia tidak dapat bekerja bagaimana? Nabi menjawab: hendaklah ia menolong orang yang memerlukan pertolongan. Para sahabat bertanya pula: bila ia tidak juga bagaimana? Nabi menjawab: hendaklah ia menyuruh orang lain berbuat yang baik. Para sahabat masih bertanya lagi: bila beramar ma’ruf pun ia tidak dapat, bagaimana? Nabi menjawab: hendaklah ia menahan diri dari keburukan; sungguh menahan diri dari keburukan itu merupakan shadaqah” (HR.  Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari ra)

Sumber: Fath Al-Bari Syarh Shahih Bukhari []

Beragama Dengan Riang Gembira

Potongan ayat Quran Surah 2 Al-Baqarah 185 berikut ini memberi petunjuk dasar tentang bagaimana menjalankan agama.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu

Mari menjalankan agama ini dengan hati senang riang gembira. Petunjuknya bisa ditemukan pada sabda Rasulullah saw berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sabda beliau di atas sampai kepada kita melalui jalur Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra, sahabat Nabi Muhammad saw.

Nabi saw menyatakan bahwa agama itu mudah (إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ , The religion [of Islam] is easy). Bila agama itu adalah seperangkat alat shalat perintah dan larangan, maka perintah agama mudah dikerjakan dan larangannya juga mudah untuk ditinggalkan. Bila agama dilihat sebagai gaya hidup (life style, way of life), maka agama Islam sangat mudah dijalani dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila agama dilihat sebagai pakaian (libaas), maka agama sangat mudah dan nyaman dikenakan/dipakai sehari-hari. Bila agama adalah perilaku mulia, maka perilaku orang beragama Islam sangat mudah dikenali, dipuji, dikagumi karena kekhasan dan keindahannya.

Berikutnya, ada muslim yang sangat serius/keras dalam menjalankan, mempraktekkan, memperlihatkan agama ini kepada manusia, dengan cara mempersulit diri, melebih-lebihkan. Ujung-ujungnya, ia malah “dikalahkan” oleh agama dalam arti ia bosan, jenuh, capek/capai, stress/tertekan batinnya (وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ , and whoever makes the religion a rigour, it will overpower him).

Jangan pilih model beragama di atas. Pilihlah model beragama di bawah ini.

Kerjakan perintah, jauhi larangan, jalani, praktekkan, pakai/kenakan, perlihatkan agama ini dengan semestinya, jangan berlebihan, lakukan “pertengahannya”, yang “pas” tidak lebih tapi tidak juga kurang, praktekkan yang “lurus” saja bukan yang neko-neko atau banyak macamnya, (فَسَدِّدُوا , so, follow a middle course [in worship]).

Kalaupun untuk melakukan hal di atas masih terasa sulit, maka lakukanlah yang “mendekati” di atas (وَقَارِبُوا,if you can’t do this, do something near to it). Kerjakanlah agama dengan mendekati yang “pas”.

Bergembiralah (وَأَبْشِرُوا, and give glad tidings) karena meski yang kita kerjakan katakanlah hanya mendekati yang semestinya atau yang seharusnya karena yang kita kerjakan secara berkelanjutan itu tetap akan dihitung dan diberi pahala atau balasan berupa tinggal di kebun (jannah, surga).

Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan atau bantuan Allah azza wa jalla di tiga waktu, yaitu di waktu pagi, (awal) siang, dan (sebagian waktu) malam (وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ, seek help [of Allah] at morn and at dusk and some part of night).

Gugurkan Dosa dengan Wudhu

Salah satu ibadah yang relatif ringan adalah wudhu. Meski demikian, ia termasuk kegiatan ibadah yang istimewa karena tercantum dalam Al-Quran.

Ibadah wudhu tercantum dalam Al-Quran Surah 5 Al-Maidah 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Ibadah wudhu menjadikan kita bersih, membuat sempurna kenikmatan yang Allah berikan kepada kita dan membantu kita untuk melakukan ibadah syukur.

Bagaimana ibadah wudhu menjadikan kita bersih digambarkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai berikut:

رقم الحديث: 61
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ ، نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ ، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ ” .

Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu lalu ia membasuh wajahnya maka keluar dari wajahnya seluruh dosa yang merupakan buah dari pandangan kedua matanya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya maka keluar dari kedua tangannya seluruh dosa yang dilakukan oleh pukulan tangannya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang dilangkahkan oleh kedua kakinya bersama dengan air atau bersama tetesan air yang terakhir, hingga iapun keluar dalam kondisi bersih dari dosa-dosa” (HR Muslim).

Sumber: Shahih Muslim Kitab Thaharah.

Sebagian besar ummat Islam melakukan ibadah wudhu hanya ketika hendak shalat atau membaca Al-Quran Mulia. Sangat sedikit dari kalangan muslim yang rutin berwudhu meski tidak hendak shalat atau membaca Al-Quran.

Kita yang bersungguh-sungguh ingin melihat isi Kitab Diri  penuh dengan banyak perbuatan baik dan sedikit perbuatan buruk, mari memohon kepada Allah agar menjadikan kita terbiasa atau sering melakukan ibadah wudhu di luar waktu shalat atau membaca Al-Quran Mulia.