Pasal 1: Ampunan

Perlu disadari bahwa tidak ada manusia, selain para nabi dan rasul, yang tidak pernah melakukan perbuatan buruk. Dalam ungkapan lain, tidak ada manusia yang statusnya bersih-suci. Sebab nafs atau diri manusia sejak semula diberi kemampuan untuk melakukan perbuatan buruk dan perbuatan baik. Karena itu, status apalagi tampilan seorang manusia biasa bukanlah jaminan bahwa ia tidak pernah dan tidak akan berbuat buruk. Semua orang pasti telah, sedang dan akan terus melakukan perbuatan buruk yang kemudian tercatat dalam Kitab Diri-nya.

Konsekuensi logis dari suatu perbuatan buruk adalah jatuhnya hukuman atau sanksi, yakni azab neraka atau disiksa di dalam api yang menyala-nyala. Kabar baiknya, kita diberi peluang untuk meminta ampunan, yakni meminta kepada Tuhan agar hukuman tersebut tidak dijatuhkan atau kita dibebaskan dari hukuman dan tuntutan atas perbuatan buruk yang telah kita kerjakan selama hidup di dunia.

Cara Tuhan memberi ampunan agar kita tidak dihukum adalah dengan:

(1) “menghapus” (‘afa) yang dalam bahasa sehari-hari disebut memaafkan,

(2) menutupi atau melindungi (ghafara dan kaffara), dan

(3) melapangkan dengan memberi kesempatan kedua atau lembaran baru (shaf).

Cara kita memohon ampunan Tuhan adalah dengan:

  • menunjukkan penyesalan (nadm),
  • memohon ampunan dengan mengucapkan minimal astaghfirullah,
  • berjanji atau bertekad tidak mengulangi perbuatan buruk yang dimintai ampunan, dan
  • menghindari atau menjauhkan diri dari lingkungan yang memfasilitasi perbuatan buruk.

Perbuatan buruk di masa lalu jangan dibiarkan berlalu. Hapus atau tutupi rekaman perbuatan buruk pada Kitab Diri kita dengan memohon pengampunan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *